Jumat, 14 Desember 2018

Cinta dalam Secangkir Kopi

Ngopi, bagiku sendiri merupakan salah satu "budaya" yang sudah mengakar kuat pada sebagian masyarakat Indonesia. Kita lihat saja di kota-kota besar. Warung kopi hampir ada di setiap sudut jalan. Pun di desa-desa yang tak ada warung kopi, sebagian masyarakatnya merupakan "penggila kopi". Di acara-acara syukuran, kerja bakti, atau acara-acara lain selali ada yang namanya kopi.
Ya, kopi memang tak dapat dipisahkan dari masyarakat Indonesia. Bukan saja kaum lelaki yang mecintai kopi, tetapi sebagian kaum hawa juga merupakan pecinta kopi yang setia. Tak heran, jika sekarang geliat usaha warung kopi makin tinggi.
Kopi-kopi yang dihidangkan dalam cangkir, bagiku adalah ekspresi cinta. Mengapa ? karena, secangkir kopi yang nikmat hanya mampu tercipta dari tangan-tangan orang yang membuatnya dengan penuh cinta. Secangkir kopi yang nikmat hanya mampu tercipta dari biji-biji kopi yang dipanen oleh tangan-tangan petani yang penuh cinta dalam membudidayakan tanaman kopinya.
Secangkir kopi takkan terasa nikmat jika peminumnya bukanlah pecinta kopi. Bagi orang yang tak suka kopi, yang mereka rasakan saat menyecap kopi hanyalah "pahitnya" saja. Tapi bagi seorang pecinta kopi, kopi bukan sekadar minuman yang memiliki rasa pahit, lebih dari itu, kopi berarti "cinta" dan "bahagia"


Purwokerto, 14 Desember 2018

Kamis, 13 Desember 2018

Jangan Demo Kalau Masih Suka Bolos Kuliah

Turunkan Harga Bahan Pangan!! Biar Rakyat Tidak Tercekik!!
Turunkan Harga BBM!! Biar Rakyat tidak merana!!

Mungkin kalimat di atas adalah beberapa kalimat yang sering diteriakkan mahasiswa saat melakukan aksi a.k.a demo. Tidak salah memang. Dan Saya pun bukan melarang aksi-aksi seperti itu. Justru aksi-aksi seperti itu merupakan salah satu bentuk aspirasi mahasiswa untuk membantu masyarakat kecil dalam menyalurkan keluhannya ke pemerintah. Akan tetapi, demo bukanlah satu-satunya cara untuk "membantu" menyalurkan keluhan masyarakat ke pemerintah, atau sarana untuk "meringankan" beban masyarakat.

Teman-teman mahasiswa tentu paham bahwa anggaran dari APBN untuk Kemristekdikti sangatlah tinggi, yang tentunya anggaran tersebut sebagian diambil dari pajak masyarakat, yang tentu saja bukan hanya berasal dari masyarakat kelas menengah ke atas. Berdasarkan hal tersebut, sudah barang tentu kita sebagai mahasiswa yang sudah memakai dana tersebut untuk berkuliah dengan sebaik mungkin, bukan justru malas-malasan kuliah atau bahkan masih suka TA a.k.a titip absen. Jika kita masih seperti itu, bukankah kita sudah menghianati masyarakat yang sudah membayar pajak namun tidak beruntung untuk mengenyam pendidikan tinggi?

Teman-teman, memabantu meringankan beban masyarakat bukan hanya dapat dilakukan melalui aksi saja. Dengan berkuliah sebaik mungkin dan selalu jujur dalam setiap ujian saja, sudah merupakan salah satu bentuk perwujudan "membantu" masyarakat. Tak perlulah kita teriak sana teriak sini, jika kuliah saja kita masih belum benar dan belum jujur.

Tetap semangat kawan,
Hidup mahasiswa !!!


Purwokerto, 13 Desember 2018

(Mohon maaf bila banyak kalimat yang tidak dapat dipahami)

Mama, Apakah Aku Memang Bodoh?

Mama, hari ini nilai ulangan matematikaku jelek sekali, cuma dapat telor mata sapi.
Aku sedih Ma, karena teman-temanku semua mengejekku. Kata mereka, Aku ini Si Bodoh.
Padahal, Ma. Hari ini nilai tugas bahasa Indonesiaku tertinggi di kelas. Kata Bu Guru, Aku pandai mengarang cerita. Tapi, tak ada satu pun temanku yang menyebutku pintar.
Mama, Aku sering diejek teman-teman gara-gara Aku belum hafal perkalian. Tapi ma, perkalian itu memang sulit. Mama tentu paham, kan?
Mama, terkadang Aku merasa bingung. Apakah Aku ini memang bodoh, Ma?
Apakah hanya orang-orang yang pandai berhitung yang bisa disebut pintar, Ma?
Mama, Aku juga ingin disebut pintar, karena kata Bu Guru Aku pandai mengarang serita.
Mama, bisakah mereka menyebutku Si Pintar atau Si Pandai?

Minggu, 18 November 2018

Terbuang

Pagi-pagi sekali selepas sholat subuh Nenek Sam (bukan nama sebenarnya) sudah menenteng karung di pundaknya, demi beberapa potong kardus dan botol air mineral bekas. Ya, mau bagaimana lagi, demi menutup hutang di warung-warung tetangga, nenek Sam rela menahan dinginnya subuh sambil berkeliling kampung tanpa alas kaki. Begitulah jika hidup di usia senja hanya seorang diri, ditinggal suami yang sudah dipanggil Sang Pencipta, pun ditinggal anak-anak tercinta yang tak tahu rimbanya.
Nenek Sam bagiku adalah salah satu wanita tangguh yang penuh semangat dalam menjalani hidup. Bayangkan saja, di usianya yang menginjak 70 tahun lebih, beliau masih memiliki semangat hidup layaknya pemuda berusia dua puluhan. Beliau rela memulung, berkeliling kampung dari selepas subuh, di saat wanita-wanita lain seusianya mungkin masih duduk santai di rumah anak-anaknya. Tapi Nenek Sam bukanlah wanita tua kebanyakan. Ia memang mempunyai beberapa anak, tapi tak satu pun yang tinggal bersamanya. 
Pagi itu, saat Aku bertemu dengan Nenek Sam di kampus, Nenek Sam bercerita banyak padaku. Dari tentang suaminya yang sudah meninggal, sampai anak-anaknya yang tak pernah pulang dan berkirim kabar. Ceritanya sungguh menyentuh hati. Dan yang Kukagumi dari beliau adalah bahwa beliau masih tegar menjalani hidup, bahkan saat bercerita tentang kepedihannya yang tak dipedulikan oleh anak-anaknya sendiri, beliau sama sekali tak meneteskan air mata. Beliau juga bercerita padaku, tentang bagaimana beliau tak mau curang atau mencuri dalam kegiatan memulungnya, meski beliau dlam keadaan sangat kekurangan. Itu adalah salah satu poin plus yang membuatku bertambah kagum pada Nenek Sam.
Meski merasa terbuang, tapi Nenek Sam tak sekali pun menyalahkan anak-anaknya. Beliau hanya beranggapan bahwa memang hidup seperti itulah yang harus dijalaninya. Ya, beliau memang wanita tangguh dan tegar.
Setelah mendengarkan cerita Nenek Sam di pagi itu, Aku jadi berpikir. Betapa banyak orangtua yang "terbuang" di dunia ini. Mereka sudah membesarkan dan menjaga anak-anaknya dari sebelum lahir hingga dewasa, tapi apa yang mereka dapatkan saat mereka tua? Hanyalah sebuah kenyataan bahwa mereka mesti terbuang dan harus menjakani hidup sendiri di saat mereka memerlukan kehadiran anak-anak mereka.

Sabtu, 17 November 2018

Jika Engkau tidak Tahu



Dulu, dan mungkin juga sekarang, beberapa dari kita pasti pernah merasa malu jika tidak mengetahui suatu hal. Orang lain, misalnya, ramai berbicara tentang bencana terkini di suatu daerah, tapi kita belum tahu berita tersebut. Atau, ada orang yang menganggap kita sebagai orang cerdas, lalu bertanya mengenai suatu permasalahan kepada kita, padahal kita tak tahu apa-apa mengenai permasalahan tersebut. Saat hal tersebut terjadi, apa yang kita lakukan? Tentu karena didorong oleh perasaan malu, kita akan mengatakan kepada orang lain bahwa kita juga sudah mengetahui berita tersebut, atau menjawab pertanyaan orang lain tanpa tahu apakah jawaban kita salah ataukah benar.
Kawanku, sebagian besar dari kita memang merasa enggan untuk mengatakan “Maaf, saya belum atau tidak tahu”. Mungkin engkau kurang setuju dengan pendapatku, namun memang begitulah kenyataannya. Sebagian dari kita merasa takut akan kehilangan kewibawaan atau terlihat bodoh jika mengatakan “tidak tahu”. Padahal, sejak kecil tentu orang tua kita sudah mengajarkan kepada kita untuk selalu mengatakan kejujuran. Jika pada kenyataannya kita “tidak tahu” namun mengatakan “tahu”, bukankah kita sudah tidak jujur?
Kawanku, jika engkau tidak tahu mengenai suatu hal, maka katakanlah bahwa engkau memang tidak tahu. Selanjutnya, bertanyalah. Bukankah ada pepatah yang mengatakan bahwa malu bertanya sesat di jalan? Jika engkau tak mau tersesat di jalan, tentu saja engkau harus mau bertanya, bukan? Lalu, jika ada yang bertanya padamu dan engkau tidak tahu jawabannya, katakan saja “Maaf, saya tidak tahu”. Tak usahlah risau engkau akan kehilangan image pandaimu itu. Yang terpenting adalah bahwa kita tidak sok tahu, karena terkadang jawaban yang sok tahu itu dapat menyesatkan orang lain dan bahkan dapat menghilangkan kepercayaan orang lain terhadap kita. Engkau tentu saja tidak mau hal tersebut terjadi padamu, bukan?

Rabu, 31 Oktober 2018

Apakah Tingkat Kepandaian Seseorang Harus Dinilai dengan Nilai Rapor?

Ini kisah nyata tentang Adikku. Sebut saja namanya Ibnu. Dia adalah Adik pertamaku yang amat Ku sayangi.
Adikku ini bukanlah anak yang pandai. Itu jika ukuran kepandaian seseorang dilihat dari angka-angka yang tertera di rapor sekolah. Hal tersebut membuatnya sering diejek dan dipanggil "bodoh". Tapi, menurutku Adikku bukanlah anak bodoh. Dia adalah anak yang pandai, dan akan dipanggil "pandai", andaikan orang-orang tak pernah tahu betapa rendahnya nilai-nilai yang ada di dalam rapor adikku.
Kawan, Aku memang tak pernah melihat adikku sedih atau menangis saat orang-orang memanggilnya "bodoh". Tapi sebagai seorang kakak, Aku tahu bahwa dia merasa sedih. Belum lagi saat orang-orang membandingkannya denganku dan adikku yang ke dua. Aku sadar bahwa meskipun sekarang Dia masih terlihat baik-baik saja, bukan tidak mungkin suatu hari nanti hatinya akan hancur.
Kawan, adikku itu tidaklah bodoh. Jujur saja, hampir semua nilai di rapornya memang hanya berada beberapa strip di atas nilai minimum. Namun, bukan berarti adikku itu bodoh kan? Dia memang lemah di bidang matematika, fisika, kimia dan mata pelajaran yang lain. Tapi, adikku itu mampu membetulkan beberapa kerusakan pada mesin sepeda motor dengan cukup baik. Adikku juga orang yang mudah bersosialisasi. Bukankah kedua hal tersebut layak membuatnya disebut anak pandai? Tidak banyak anak yang mampu membetulkan kerusakan pada mesin atau mampu bersosialisasi dengan baik.
Kawan, mulai sekarang jangan lagi manjadikan nilai-nilai di rapor sebagai parameter kepandaian seseorang. Lihatlah adikku itu. Nilai-nilai di rapornya memang buruk, tapi Ia "Pandai" membetulkan kerusakan mesin sepeda motor dan "Pandai" bersosialisasi. Jangan sampai kita menghancurkan hati seorang anak dengan menyebutnya "bodoh". Kita tak pernah tahu bahwa mungkin Dia akan menjadi seseorang yang hebat. Lalu karena ketidaktahuan kita, hatinya menjadi hancur dan hancur pula kesempatannya menjadi orang hebat. Jika hal itu terjadi, bukankah kita telah menjadi orang jahat tanpa kita menyadarinya?

Tidaklah Baik Menjadi Pembenci

Kawan, Engkau mungkin pernah membenci orang lain, entah karena Dia lebih pintar darimu atau karena Dia berhasil merebut hati "seseorang". Tak usahlah Kau membantah, karena Aku pun pernah menjadi seorang pembenci. Aku pernah membenci kawanku tanpa sebab yang jelas, Aku bahkan pernah membenci orang yang tidak Ku kenal. Aneh, bukan?
Menjadi seorang pembenci tidaklah baik, karena hanya akan mengotori hati kita. Mungkin kawan yang pernah menjadi pembenci merasakan betapa tidak enaknya hati kita saat kita membenci orang lain. Bahkan saat dulu Aku membenci kawanku, yang Ku rasakan hanyalah rasa muak, marah sekaligus sedih. 
Kita terkadang membenci seseorang hanya karena orang tersebut melakukan sedikit kesalahan. Padahal, mungkin orang yang kita benci sebenarnya adalah orang yang kerap kali menolong kita saat kita sedang kesulitan. Tapi, kebaikan-kebaikan orang tersebut seakan sirna di mata kita hanya karena sedikit kesalahan saja. Bukankah hal tersebut sangat buruk? Betapa kita menjadi orang jahat saat kita menjadi pembenci. Ibarat tumpukan pasir di atas batu yang hilang sekejap karena tersiram hujan, begitulah pandangan seorang pembenci pada kebaikan orang lain.
Kawan, janganlah kita menjadi seorang pembenci. Cobalah lihat kebaikan-kebaikan orang lain saat kita melihat sedikit keburukannya. Jangan sampai kita menjadi orang yang jahat tanpa pernah sadar bahwa kita telah melakukan kejahatan,

Kamis, 11 Oktober 2018

"Jadilah orang yang menyingkirkan duri, bukan orang yang menyebarkan duri di jalanan". -Prihatini Puji Lestari

Senin, 08 Oktober 2018

Teruntuk Kamu


Kubisikkan do’a pada Rabb yang mencipta semesta
agar Ia membutakanmu dari apa yang yang tak pantas Kau lihat
Ku panjatkan do’a pada Rabb pemilik ‘Arsy
agar Ia menulikanmu dari apa yang tak pantas Kau dengar
Ku lantunkan do’a pada Rabb pemilik langit dan bumi
agar Dia mengunci lidahmu dari apa yang tak pantas Kau ucapkan
Aku berdo’a pada Dzat yang jiwa dan ragaku ada pada-Nya
agar Ia selalu menjaga langkah kakimu dari apa yang tak pantas Kau injak
Aku berdo’a pada Rabb pemilik timur dan barat
agar Ia senantiasa menjaga tanganmu dari mengambil apa yang bukan hakmu
Aku berdo’a pada Rabbku
Agar Ia selalu menjagamu dan memelukmu dengan Kasih-Nya


Bolehkah Ku Minta Hatimu ?


Manusia banyak sekali yang dianugerahi harta melimpah, paras rupawan, tubuh atletis, fisik sempurna dan anugerah lainnya dari Tuhan. Namun sayangnya, beberapa orang yang diberi banyak anugerah justru tak memiliki “hati”. Tentu saja jika yang Kau maksud adalah hati yang termasuk organ dalam, semua orang memilikinya, karena jika tidak maka orang tersebut takkan hidup. Yang Ku maksud adalah dengan hati adalah sesuatu yang menyebabkan manusia memiliki perasaan, kepekaan dan emosi.
Memang, tidak semua orang yang diberi banyak anugerah tidak memiliki “hati”. Pada paragraf sebelumnya pun sudah Ku katakan hanya beberapa orang. Jika Kau tak percaya, coba Kau baca lagi paragraf sebelumnya. Di situ Ku tulis dengan jelas “beberapa orang”.
Lantas, seperti apakah orang yang tak memiliki “hati” itu?
Kita ambil salah satu contoh. Di kota-kota besar, banyak sekali orang-orang kaya yang tinggal di apartemen mewah. Di sisi lain, banyak pula kaum papa yang tinggal di rumah-rumah kardus di bawah apartemen-apartemen tersebut. Namun, apakah para penghuni apartemen-apartemen tersebut tergerak hatinya untuk membantu membangunkan rumah bagi para penghuni rumah kardus? Mungkin beberapa orang ada yang tergerak hatinya, namun sebagian yang lain justru tak peduli sama sekali, bahkan bersikap seolah itu bukan urusan mereka.
Kita ambil contoh yang lain. Bagi orang yang sering berkendara dengan kendaraan umum, terutama bus, pasti pernah merasakan yang namanya berdesak-desakkan karena jumlah penumpang melampaui kapasitas yang ditentukan. Terkadang di antara penumpang tersebut ada ibu hamil, lansia atau penyandang disabilitas yang terpaksa berdiri karena semua kursi dipenuhi oleh orang-orang yang sehat, namun tak mau mengalami kesusahan. Bahkan, sebagian besar penumpang yang duduk tersebut adalah kaum muda yang fisiknya segar bugar.
Kau juga pasti pernah mendengar beberapa orang yang fisiknya kurang sempurna atau parasnya dianggap kurang rupawan mengalami perumbungan. Jika Kau tak pernah mendengar kasus seperti itu, berarti Kau tak pernah menonton atau membaca berita atau tidak pernah memperhatikan lingkungan sekitar. Karena mengalami perumbungan, beberapa orang mengalami apa yang disebut sebagai rendah diri, merasa tertekan, bahkan ada yang sampai mengalami stress. Tapi, orang-orang yang mengejek a.k.a “membully” justru tertawa-tawa bahagia dengan lelucon mereka yang tidak lucu. Jika boleh, Aku ingin mengatakan bahwa mereka punya hati namun hati mereka sudah mati.
Padamu yang sudah dianugerahi Tuhan dengan bermacam anugerah, namun tak peduli dengan lingkungan sekitar. Aku ingin bertanya padamu. Apakah Kau mempunyai hati? Jika punya, bolehkah Ku minta hatimu?

Minggu, 07 Oktober 2018

Layang-layang


Kawan, Aku suka sekali melihat layang-layang. Saat Aku menatap langit, lalu melihatnya menari-nari, hatiku begitu gembira. Mereka seakan mengajakku berlari, lalu terbang hingga ke ujung dunia. Lalu, saat Kulihat tubuhnya yang berwarna-warni, Kurasakan bahwa dunia begitu Indahnya. Sungguh Maha Besar Tuhan yang telah mencipta banyak warna dan menganugerahkan mata pada manusia, sehingga manusia dapat melihat mereka.
Meskipun Aku menyukai layang-layang, tapi Aku tak suka caranya terbang. Bagi kawan yang suka menerbangkan layang-layang, tentu tahu bahwa layang-layang takkan mau terbang kalau tak ada angin. Terus terang, Aku juga tak suka caranya menari. Yaah, meskipun harus Ku akui bahwa Aku bahagia saat melihatnya menari. Tapi, mereka akan menari ke kanan atau ke kiri mengikuti arah angin. Itu harus Ku maklumi, tentu saja, karena mereka pun terbang karena angin. Tetapi...
Kawan, di dunia ini bukan hanya layang-layang saja yang tak memiliki “pendirian” dalam hal arah terbang. Manusia, sebagaimana layang-layang banyak yang tak memiliki pendirian. Banyak di antara kita yang hanya mengikuti arus, mengikuti “kebanyakan orang”, tak punya pendirian sama sekali. Jika sebagian besar orang berjalan ke arah barat, maka orang yang tak berpendirian tentu akan mengikutinya.
Sifat yang tak punya pendirian tentu saja tidak baik. Kita sebagai manusia harus memiliki pendirian, memiliki prinsip yang kuat agar tak mudah diombang-ambingkan. Kita tak boleh terlalu mengikuti orang lain, karena belum tentu orang yang kita ikuti adalah orang baik. Jika kita mempunyai pendirian yang kokoh, kita takkan mudah dipengaruhi orang lain, juga takkan mudah ditipu orang.
Kawan, tak perlu lah Aku berpanjang lebar mengenai hal ini. Kawanku yang baik tentu saja sudah paham mengapa sebagai manusia kita perlu memiliki prinsip dan pendirian yang kokoh. Kau tak mau kan, kalo suatu hari harus mengikuti tren “nyemplung” ke sumur ?

Rapat Terus, Kapan Belajarnya?


Bagi pelajar atau mahasiswa yang memiliki “hobi” berorganisasi atau mengikuti berbagai kepanitiaan pasti sudah tak asing lagi dengan “sesuatu” bernama rapat. Pagi rapat, sore rapat, malam pun rapat. Bahkan ada yang rapat dari sore hingga fajar menyingsing. Luar biasa, bukan?
Aku sebenarnya merasa bingung karena beberapa rapat organisasi atau kepanitiaan bisa berlangsung sangat lama. Padahal yang dibahas toh hanya seputar program kerja organisasi atau acara yang akan diselenggarakan panitia. Jika yang dibahas adalah masalah negara atau masalah ummat, tak apa lah kalau rapat harus berlangsung sangat lama.
Aku terkadang merasa muak jika ada rapat yang berlangsung dari sore hingga pagi. Itu bukan berarti Aku orang yang anti organisasi atau anti kepanitiaan. Tapi, Aku sungguh tak suka jika harus mengikuti rapat yang pembahasannya terlalu berlarut-larut. Terkadang hanya membahas satu kalimat dalam suatu draft program kerja atau petunjuk pelaksanaan suatu acara saja bisa berlangsung hingga 40 menit ! Bayangkan, empat puluh lima menit! Padahal, apa artinya sebuah kalimat? Toh yang terpenting adalah konsep program kerja dan acaranya memiliki kualitas bagus.
Sebagai pelajar atau mahasiswa tentu saja rapat yang terlalu berlarut-larut sangat mengganggu kegiatan akademik. Adalah salah jika ada yang berkata bahwa “rapat dilakukan sore hari, sedangkan kegiatan akademik pada pagi hari”. Harus Ku katakan padamu, bahwa kegiatan akademik dalam artian yang sesungguhnya (kegiatan belajar mengajar) memang berlangsung di pagi hari. Namun, jika ada tugas atau laporan apakah kita harus mengerjakan di pagi hari juga?
Terkadang Aku juga tak suka pada orang yang berkata bahwa rapat itu sangat penting. Seberapa penting kah rapat jika yang dibahas adalah masalah yang kurang penting, bahkan terkadang peserta rapat saling berdebat mengenai hal yang kurang penting pula? Rapat di organisasi atau kepanitiaan terkadang juga isinya adalah peserta rapat yang mencari kesalahan peserta lain, namun tak mau memberikan solusi. Seharusnya, peserta rapat membahas solusi dari suatu masalh, bukan mencari-cari kesalahan yang belum tentu ada.
Rapat memang terkadang penting, namun akademik juga penting. Jika ada yang bilang jangan terlalu “Academic oriented”, teriakkan saja padanya: “bukankah orang tua kita membayar sekolah/kuliah kita agar kita belajar dengan baik?”. Yaa, orang tua kita mempercayakan uangnya digunakan oleh anak-anaknya agar mereka belajar dengan baik, bukan untuk mengikuti rapat-rapat yang berlarut-larut.. Bukan, bukan karena Aku tak suka rapat, namun Aku tak suka rapat yang berlarut-larut. Kapan Aku bisa belajar, mengerjakan tugas, atau mengerjakan laporan jika setiap hari harus Ku ikuti rapat dari sore hingga pagi?

Sabtu, 06 Oktober 2018

"Aku ingin menyayangi seperti mentari menyinari bumi. Ia senantiasa menyinari bumi, meski bumi tak sekali pun menyinarinya" -Prihatini Puji Lestari

Senin, 01 Oktober 2018

"Waktu tak pernah mengejar kita. Kitalah yang berjalan terlalu lambat". -Prihatini Puji Lestari

Rabu, 26 September 2018

Selagi Petani Masih Ada


Sekarang ini zaman sudah modern. Lihat saja, di mana-mana dapat kita temui balita-balita yang sudah mahir bermain smartphone. Coba kita tengok zaman dahulu, -maksudku bukan zaman sebelum masehi-, katakanlah 30 tahun yang lalu. Pada waktu itu, mana ada balita yang bermain smartphone? Kalau balita yang bermain-main dengan tanah, Aku yakin ada banyak di zaman itu.
Karena zaman sudah modern, beberapa profesi yang pada zaman pra-modern banyak diminati, sekarang ini jadi sepi peminat. Kita lihat saja profesi petani. Dulu, mungkin sekitar 10 tahun yang lalu, kita masih sering melihat petani-petani yang masih muda. Coba kita bandingkan dengan keadaan sekarang. Petani-petani yang sering kita lihat sekarang ini adalah petani-petani “sepuh” yang tenaganya sudah rapuh, bahkan beberapa penglihatannya sudah rabun. Memang tidak semua petani zaman sekarang adalah petani lanjut usia, namun jumlah petani mudanya tidak sebanyak zaman dahulu.
Jumlah petani yang mulai sedikit, ditambah lagi regenerasi yang berjalan kurang baik, tidak menjadikan profesi ini dihargai layaknya profesi lain yang dianggap prestisius. Padahal, jasa para petani sungguh sangat besar. Sebut saja isi meja makan kita, -hampir semuanya adalah hasil kerja petani-. Namun, sudahkah kita menghargai hasil kerja keras mereka? Banyak di antara kita yang masih sering membuang makanan atau menawar harga sayuran atau hasil panen lainnya kepada petani seenak sendiri. Alasan kita menawar hampir sama, mulai dari produk yang sudah tidak segar, penampilan produk yang kurang bagus atau karena kuantitas produk yang tidak sesuai dengan harga (terlalu sedikit). Padahal, jika kita membeli baju di toko-toko besar yang harganya sudah pasti, berapapun harganya akan kita beli. Cobalah untuk berfikir, apakah harga sayuran petani lebih mahal daripada harga baju di toko-toko tersebut?
Sekarang ini, selagi masih ada petani, cobalah kita untuk lebih menghargai mereka. Jika perlu, belajarlah kepada mereka cara bercocok tanam. Belajarlah bertani, agar kita menjadi generasi yang meneruskan perjuangan mereka. Tak perlu lah kita merasa gengsi untuk memegang tanah atau menggenggam pupuk. Toh kita ini butuh makan. Apakah kita mau, mencari-cari makanan di hutan seperti manusia zaman dahulu?

Maaf Bu, Aku Sedang Sibuk


Ibu, hari ini Aku ada tugas kuliah untuk dikumpulkan esok hari. Tugasnya banyak sekali, Bu. Kalau tidak Ku selesaikan hari ini, besok pasti Aku akan gugup. Maklumlah, dosenku ini sungguh pecinta kesempurnaan. Aku tak mau nilai tugasku jelek hanya karena Aku terburu-buru mengerjakannya. Jadi, mohon maaf kalau Aku tadi tak membalas pesan singkat dari Ibu.
Besok siang setelah selesai kuliah, Aku ada kegiatan di organisasi. Kegiatan tersebut penting sekali Bu, sehingga Aku harus hadir. Ibu, maaf ya kalau Aku besok tak dapat menelepon Ibu, seperti yang Ibu pesankan di pesan singkat tadi. Aku tak mau tertinggal kegiatan penting tersebut. Sebenarnya, Aku bisa menelepon Ibu saat malam, kalau saja tak ada janji makan malam dengan teman-teman.
Ibu, maaf juga kalau libur akhir pekan ini Aku tak dapat pulang ke rumah. Bukan karena Aku tak merindukan Ibu, tapi karena akhir pekan nanti Aku mau pergi naik gunung. Ibu tahu, kan ? Aku suka sekali naik gunung.
Ibu, maaf ya. Minggu ini sepertinya Aku tak ada waktu untuk Ibu. Maafkan Aku Ibu, karena Aku sedang sibuk.


Cantik Saja tidak Cukup


Kata “cantik” dan kata “wanita” takkan dapat dipisahkan. Ibarat sebuah pohon yang takkan dapat berpisah dari akarnya, seperti itulah wanita dengan kecantikannya. Hampir semua wanita menginginkan dirinya menjadi cantik, karena memang seperti itulah kodratnya.
Sebenarnya, pada dasarnya semua wanita itu cantik. Jika tidak cantik, maka ia adalah seorang pria. Namun, beberapa wanita merasa dirinya kurang cantik dan merasa iri pada wanita lain yang mereka anggap lebih cantik. Padahal, parameter kecantikan itu relatif. Misalnya saja, ada orang yang beranggapan bahwa wanita cantik adalah wanita yang berkulit putih dan langsing, namun ada pula yang beranggapan bahwa wanita cantik adalah mereka yang berkulit gelap dan tubuhnya berisi. Semua ini kembali lagi pada persepsi masing-masing individu.
Karena terobsesi akan kecantikan, banyak wanita rela merogoh kocek cukup dalam untuk membeli berbagai produk kecantikan, mulai dari produk perawatan kulit hingga make-up. Hal tersebut memang tidak sepenuhnya salah, namun jika obsesi tersebut menjadikan wanita kurang percaya diri dengan penampilan aslinya, itu akan menjadi masalah. Wanita yang terobsesi dengan berbagai produk kecantikan, biasanya berharap bahwa mereka akan secantik bintang iklan produk yang mereka beli. Atau berharap bahwa kulit mereka akan bersinar bagai matahari. Memang, tidak semua wanita seperti itu.
Jika kita pikirkan lebih dalam, sebenarnya seorang wanita sejak dilahirkan sudah memiliki kecantikan wajah yang istimewa. Jadi, yang perlu ditingkatkan oleh seorang wanita bukanlah kecantikan wajahnya, namun hal-hal lain yang sifatnya lebih mendesak. Seorang wanita harus memiliki akhlak yang baik, otak yang cerdas, keterampilan, serta kebijaksanaan. Akhlak yang baik akan membuat seorang wanita terlihat lebih bersinar di mata orang lain. Wanita harus cerdas karena merekalah pembangun peradaban yang sesungguhnya. Tingkat kecerdasan seorang wanita akan menentukan nasib suatu bangsa, karena merekalah yang mendidik generasi-generasi baru penerus bangsa. Keterampilan dan kebijaksanaan mutlak harus dimiliki oleh wanita, karena merekalah yang akan mengurus dan mengelolah sebuah rumah tangga. Tanpa kedua hal tersebut, mungkin sebuah rumah tangga akan berjalan layaknya sepeda yang bannya kempes. Keempat hal tersebutlah yang sebaiknya ditingkatkan oleh seorang wanita, karena kecantikan wajah saja tidaklah cukup.

Sabtu, 22 September 2018

"Kita takkan pernah bangkit, jika kita tak pernah jatuh". -Prihatini Puji Lestari-

Mencabut Rumput Teki


Kawanku, akhir-akhir ini kita dihebohkan oleh banyaknya oknum pejabat yang terjaring operasi tangkap tangan (OTT) KPK. Bukan hanya pejabat di pemerintahan pusat saja, pejabat-pejabat di tingkat daerah pun tak luput dari OTT KPK. Bahkan, di suatu daerah KPK seperti menangkap ikan di tambak menggunakan jaring, -banyak sekali ikan yang didapat-.
Kita sebagai warga negara republik ini tentu merasa resah dengan banyaknya kasus KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme) yang menjerat para pejabat di negara ini. Bagaimana tidak? Selama ini, kita sudah mempercayakan urusan negara ini kepada para pejabat yang mengemban amanah di pemerintahan. Namun, yang kita dapatkan justru penghianatan.
Sebagian besar dari kita tentu merasa heran. KPK selama ini sudah meringkus banyak sekali pejabat pelaku KKN, namun mengapa kasus KKN seolah tak ada habisnya? Mungkin di antara kita ada yang mengistilahkan KKN di negara ini seperti “mati satu tumbuh seribu”.
Kawanku, kasus KKN di negara ini, jika boleh kuibaratkan, seperti rumput teki. Rumput teki walaupun sudah dicabut, disemprot herbisida atau dicangkul tetap saja beberapa waktu kemudian akan tumbuh kembali. Mengapa demikian? Rumput teki pada dasarnya berkembang biak dengan geragih Jika alat  perkembangbiakannya masih ada, maka rumput teki akan tetap dapat tumbuh lagi. Seperti halnya rumput teki, kasus KKN di negara ini akan tetap ada jika “geragihnya” masih ada.

Move On


Kawanku, pernahkah kau merasa kecewa? Aku yakin Kau pernah merasakannya, karena Aku pun pernah. Sebagai manusia tentu saja terasa wajar saat kita merasa kecewa. Yang tidak wajar adalah saat kita tak bisa menerima keadaan yang mengecewakan kita, lantas membuat kita hancur dan akhirnya menjadi manusia yang pesimis.
Saat kita gagal memperoleh sesuatu yang kita inginkan, kita kerap kali mengeluh atau merasa kecewa. Terkadang bahkan kita menyalahkan orang lain atas kegagalan kita. Atau bahkan menggerutu karena Tuhan tak mengabulkan do’a dan usaha kita. Kawanku, tahukah  Kau bahwa mungkin Tuhan justru sedang memberikan kebaikan-Nya dengan membuat kita gagal? Tuhan lebih tahu apa yang dibutuhkan hamba-Nya. Dia akan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan.
Kawanku, di dunia ini selalu ada dua sisi pada setiap kejadian, positif dan negatif. Saat kita merasa kecewa berlarut-larut, berarti kita melihat suatu kejadian dari sisi negatifnya. Sebaliknya, saat kita berani move on, berani bangkit meskipun sudah dikecewakan, berarti kita mengambil sisi positif dari suatu kejadian.
Move on dari rasa kecewa dapat membangkitkan kembali rasa optimis dalam diri kita, atau bahkan meningkatkannya. Ketahuilah, saat kita gagal berarti kita belum berusaha semaksimal mungkin. Oleh karena itu, tak pantas rasanya jika kita berlarut-larut dalam kekecewaan dan menganggap diri kita tak pantas gagal. Kawanku yang baik, sebenarnya cara kita melihat hasil usaha kita dapat diibaratkan seperti melihat bunga mawar. Saat kita merasa kecewa atas kegagalan yang kita peroleh, kita seperti melihat mawar sebagai bunga yang jahat karena yang dilihat adalah durinya. Sebaliknya, saat kita selalu berpikiran positif meskipun gagal, berarti yang kita lihat adalah mahkota bunga mawar yang indah, meskipun ia memang berduri.
Kawanku yang baik, maukah Kau melihat bunga mawar hanya pada mahkotanya yang indah, tanpa pedulii dengan durinya ?

Minggu, 16 September 2018

Ironi



Musim kering di tahun ini sudah bertamu ke kampung kami, kampung Dukuh Nom. Sebenarnya sekarang masih bulan Maret, tapi entah mengapa agaknya langit sudah enggan mencurahkan air ke kampung kami. Matahari juga sepertinya semangat sekali memancarkan sinarnya. Jika kupikir-pikir, bila saja kampungku ini cocok untuk berkebun sawit, mungkin saat kemarau seperti ini seluruh penduduk kampung kami sudah memenuhi puskesmas-puskesmas karena sesak napas.
Pada musim kemarau seperti ini, tanaman di kampung kami banyak yang meranggas, bahkan mati. Rumput-rumput mengering, sehingga ternak-ternak kami terkadang terpaksa puasa. Sumur-sumur kami juga banyak yang mengering, sehingga kami terpaksa harus mengurangi jatah mandi kami.
Sinar matahari yang begitu terik pada kemarau tahun ini rasa-rasanya jauh lebih terik dari kemarau-kemarau yang lalu. Mungkin karena banyak pepohonan di kampung kami yang sudah dijadikan mebel-mebel mewah atau pintu-pintu berukiran indah. Atau, menurut pendapatku sinar matahari yang semakin terik ini dikarenakan banyak kebun dan hutan di sekitar kampung kami yang sudah dijadikan kandang ayam, perumahan dan pabrik konveksi.
Kemarin pagi, aku berbelanja ke pasar di kampung sebelah untuk membeli keperluan untuk arisan bapak-bapak besok lusa, yang digelar dua minggu sekali tiap Sabtu malam. Maklumlah, meskipun arisannya masih lusa tapi kami sudah berbelanja kemarin karena pasar hanya buka seminggu sekali. Pasar tersebut sebenarnya cukup jauh dari kampungku. Sekitar dua kilometer menurut perkiraanku.
Saat berjalan ke pasar kemarin, Aku menyaksikan seorang bapak yang terjatuh dari motornya. Maklumlah, beliau sedang menghindari lubang kecil di jalan, namun justru beliau melewati lubang yang besar. Beliau memang hanya mengalami lecet kecil saja, tapi kaca spion dan lampu depan motornya pecah. Meskipun demikian, tetap saja Aku kasihan melihat beliau.
Jalanan di kampungku sebenarnya keadaannya cukup bagus untuk jalanan kampung. Itu jika dilihat lima tahun lalu, saat jalan tersebut baru dibangun. Namun,  kini kondisinya amat memprihatinkan. Jalanan mengelupas di sana-sini, membuat kerikil bertebaran. Saat musim kemarau seperti ini, kondisi jalanan di kampung kami sangat berbahaya, ditambah lagi dengan debu yang beterbangan mengganggu pemandangan.
Jika melihat keadaan kampungku yang menyedihkan ini, Aku jadi ingin pindah ke Ibu Kota. Di Ibu Kota sana, Aku tak perlu cemas akan banyaknya lubang di jalanan saat Aku mengendarai sepeda motor. Itu karena di televisi,  kulihat jalanan di Ibu Kota mulus bagai keramik.
Di Ibu Kota, Aku tak perlu cemas untuk terburu-buru belanja untuk keperluan sehari-hari atau untuk arisan. Wajar saja kan? Di Ibu Kota, swalayan bertebaran di mana-mana. Kau tak perlu khawatir kehabisan barang yang Kau butuhkan. Jika Kau tak menemukan barang yang Kau cari di salah satu swalayan, Kau dapat mencarinya di swalayan lain. Bahkan, Kau tak perlu khawatir jika Kau tak ada waktu untuk berbelanja di pagi hari. Swalayan-swalayan di Ibu Kota ada yang buka sampai malam.
Aku juga tak perlu khawatir harus mengurangi jatah mandiku di musim kemarau kalau Aku pindah ke Ibu Kota. Aku lihat di televisi, warga Ibu Kota selalu mendapat suplai air bersih saat musim kemarau datang. Kalaupun Aku harus mengurangi jatah mandiku, Aku tak perlu khawatir akan bau badanku. Maklumlah, kalau Aku pindah ke Ibu Kota Aku hanya mau tinggal di rumah yang ada pendingin udaranya. Dengan begitu, Aku tak akan banyak berkeringat, sehingga bau badanku tak akan terlalu menyiksa penciuman orang lain.
 Jika Aku tinggal di Ibu Kota, Aku tak perlu mengkhawatikan ternak-ternak yang terpaksa berpuasa. Kau tau, kan? Di Ibu Kota binatang ternak tak ubahnya jarum di tumpukkan jerami. Yang perlu Aku khawatirkan adalah lalat-lalat yang memenuhi saluran air dan tumpukkan sampah yang jumlahnya mungkin setara dengan ternak-ternak di kampung.
Meskipun Aku sangat ingin pindah ke Ibu Kota, namun Ibuku tak setuju dengan keinginanku. Katanya, Aku hanya akan menjadi beban pemerintah di sana. Ibuku bilang, Aku hanya akan membuat Ibu Kota semakin sesak saja. Beliau juga mengatakan, Aku akan merindukan suasana di kampung saat musim hujan melanda Ibu Kota. Sebagian wilayah Ibu Kota akan dilanda banjir saat musim hujan, sedangkan di kampungku tak pernah sekalipun banjir. Betul juga kata-kata Ibuku. Walaupun Ibu Kota nampak memikat saat kemarau, namun kampungku jauh lebih memikat saat musim hujan. Jika demikian adanya, sepertinya Aku akan menetap di kampungku. Biarlah Ibu Kota tak perlu menanggung beban karena kedatanganku. Cukuplah Ibu Kota menjadi tempat tinggal bagi orang-orang yang memang terlahir di sana, bukan tempat bagi orang-orang yang hanya menginginkan kesenangan sesaat sepertiku.

Diseruduk Banteng


Kawanku, Pernahkah Kau ‘diseruduk’ banteng?
Aku berharap bahwa tidak ada kawanku yang pernah ‘diseruduk’ banteng. Tentunya ‘diseruduk’ banteng akan sangat menyakitkan, apalagi jika banteng tersebut sedang kalap. Aku sendiri mengetahui bahwasanya diseruduk banteng amat menyakitkan. Itu bukan berarti  Aku pernah mengalami ‘nikmatnya’ diseruduk banteng. Aku tidak akan mau mengalami hal seperti itu.
Aku mengetahui bahwa orang yang ‘diseruduk’ banteng akan merasa kesakitan,  karena Aku pernah melihat tayangan di televisi tentang seorang gladiator yang gagal menaklukkan bantengnya. Gladiator tersebut terjungkal cukup jauh dan itu tentu saja menyakitkan. Dari ekspresi wajahnya, Aku tahu bahwa ‘diseruduk’ banteng bukanlah suatu pengalaman yang akan diidamkan siapapun.
Kawanku, Aku juga pernah melihat tayangan mengenai tumpukan suatu barang yang ‘diseruduk’ banteng. Apa yang terjadi pada tumpukan barang tersebut menurutmu, Kawan? Roboh atukah tetap tegak? Tentu saja barang-barang tersebut roboh dan bahkan ada beberapa yang hancur. Kau tentu tidak akan percaya jika Kukatakan padamu barang-barang tersebut tetap utuh, bukan?
Akhir-akhir ini, kita pastinya sudah tidak asing lagi dengan berita mengenai bukit-bukit yang roboh. Maksudku, tentu saja bukan roboh seperti tumpukan barang yang ‘diseruduk’ banteng. Yang Kumaksud adalah bukit-bukit itu sekarang sudah lenyap, -rata-. Mereka hancur, lalu lenyap karena ‘diseruduk’ banteng-banteng bertenaga mesin. Banteng bertenaga mesin tersebut bahkan mempunyai kekuatan untuk menghancurkan yang lebih besar daripada banteng asli yang sedang kalap.
Kawanku, Aku dan Kau tentu saja, telah melihat begitu banyak tempat yang dulunya ditumbuhi bukit-bukit yang menghijau sekarang sudah berganti rupa dan warna. Ada bukit yang dulunya sangat cantik, sekarang sudah berganti menjadi pabrik-pabrik dengan cerobong asapnya yang tinggi. Atau, ada pula bukit yang kini ditumbuhi perumahan, tentu saja setelah permukaannya diratakan. Dan banyak lagi bukit-bukit yang berubah sekarang, yang tak dapat Kusebut satu per satu.
Aku tentu saja ingin mencabuti rumah-rumah atau pabrik-pabrik atau apapun yang tertanam di ‘bekas’ bukit-bukit, lantas menggantinya dengan pepohonan. Tapi, Aku ini bisa apa? Proyek pembuatan perumahan dan pabrik-pabrik tersebut menghasilkan banyak uang dan menyerap banyak tenaga. Jika saja Aku punya kuasa, Aku akan mengirim banteng-banteng bermesin untuk menghancurkan mereka. Setelah itu, Aku akan membuat lapangan pekerjaan baru. Tapi, sekali lagi, Aku ini bukan siapa-siapa.

Kamis, 13 September 2018

Semua Tempat adalah Tempat Sampah



Apa yang terlintas dalam pikiran kita jika mendengar kata ‘sampah’?

Sebagian besar dari kita tentu saja berpikir bahwa sampah merupakan barang sisa, barang tak terpakai atau barang tak berguna. Sampah merupakan barang yang kita anggap menjijikan dan mengganggu pemandangan mata. Namun, bagi kita yang tinggal di negeri ini, tentu saja sudah tak asing lagi dengan pemandangan tumpukan sampah yang hampir ada di mana-mana. Tumpukan sampah plastik, sampah organik, sampah styrofoam, sampah logam, bahkan sampah popok bayi kerap kali kita jumpai di banyak sudut. Tumpukan sampah di negeri ini ibarat bakteri, banyak dan amat cepat berkembang biak.
Masyarakat kita memang menganggap sampah sebagai barang menjijikan dan mengganggu pemandangan. Namun, di sisi lain masyarakat kita gemar sekali menciptakan ‘tempat sampah’ sendiri. Sebagian besar masyarakat menganggap bahwa semua tempat adalah tempat sampah. Lihat saja, di sudut-sudut kampus, sungai, pantai, terminal, tepi jalan, dan tempat-tempat lain kerap kali kita jumpai tumpukan sampah.
Sebagian besar masyarakat seakan tak peduli lagi di mana mereka membuang sampah. Yang terpenting bagi mereka adalah tak ada lagi sampah yang ada di genggaman tangan. Namun, yang mengherankan adalah jika timbul bau busuk dari tumpukan sampah yang mereka ciptakan sendiri, mereka berpikir bahwa petugas kebersihan tak bekerja dengan baik. Padahal jika mereka mau berpikir dengan baik, petugas kebersihan akan bekerja dengan maksimal jika kita mau membuang sampah pada tempatnya. Perlu kita ketahui, petugas kebersihan tak hanya bertugas untuk membuang sampah saja.
Masalah sampah yang menumpuk paling banyak kita jumpai di kota-kota besar. Di kota-kota besar, bau busuk sampah hampir tak dapat kita hindari. Mau bagaimana lagi, jika saluran pembuangan air pun dipenuhi sampah ? Bahkan, sampah-sampah di kota besar seringkali memicu banjir saat musim hujan. Namun, siapa yang kerap disalahkan atas munculnya banjir-banjir tersebut ? Kita tentu sudah paham.


Rabu, 12 September 2018

Label "Anak Cerdas"

Apa yang kita pikirkan jika kita mendengar kata anak cerdas?

     Sebagian besar dari kita saat mendengar kata 'anak cerdas' tentu akan langsung tertuju pada anak dengan kemampuan matematika, fisika, kimia, atau kemampuan di bidang sains yang di atas rata-rata anak lainnya. Memang anggapan tersebut tidak salah, karena pada dasarnya anak-anak dengan kemampuan sains di atas rata-rata memang tergolong anak cerdas. Namun, bukan berarti anak-anak yang kemampuan sainsnya tidak terlalu baik bukan termasuk anak yang cerdas.
   Definisi cerdas tidak boleh hanya digunakan untuk menyebut anak-anak dengan kemampuan akademik, terutama di bidang sains, yang di atas rata-rata. Hal tersebut tentu saja akan membuat anak-anak yang lain merasa menjadi anak yang bodoh. Kita misalkan saja ada seorang anak yang mempunyai kemampuan di bidang olahraga yang sangat baik, namun kemampuan sainsnya rendah. Sebagian besar orang akan menganggap anak tersebut pintar berolahraga, namun 'bodoh'. Tentu saja hal tersebut sangat tidak adil. Mengapa? Karena apabila ada anak yang cerdas di bidang sains namun kemampuan olahraganya buruk, orang tidak akan menyebutnya sebagai bodoh.
  Pemberian label "anak cerdas" hanya untuk anak-anak dengan kemampuan sains baik, dikhawatirkan akan membuat anak-anak yang lain merasa rendah diri atau merasa iri. Hal tersebut tentu kurang baik jika dibiarkan terus menerus. Kita sebagai orang dewasa hendaknya mengubah pandangan kita terhadap pemberian label 'anak cerdas'. Apa salahnya jika kita menyebut anak-anak yang kemampuan olahraga, seni atau pemahaman terhadap ilmu agamanya baik sebagai anak cerdas? Toh semua anak terlahir dengan keistimewaan masing-masing. Para orang tua juga hendaknya tidak membebankan kepada anak-anaknya agar menjadi cerdas dengan meningkatkan kemampuan sainsnya. Biarlah anak-anak tumbuh dengan kemampuan yang memang menjadi keistimewaannya, bukan tumbuh dengan kemampuan yang dipaksakan oleh orangtuanya.

Senin, 10 September 2018

Terbang dan Berlari

Aku ingin berlari menuju tepian samudra,
mengejar gelombang yang tak henti menari
menggapai senja di ujung cakrawala
tak peduli jika badai berkecamuk
atau langit yang tiba-tiba meredup

Aku ingin terbang bagai seekor elang
berlari bersama angin,
menari bersama awan dan hujan,
berkelana bersama sinar Sang Surya

Aku ingin...
terbang dan berlari

Kita


Cukup didengarkan
Tak perlu dimasukkan ke hati
Anggap saja debu
Yang kan terbang saat angin menyapu
Cukup ku tahu
Tak perlu Ku anggap sebagai duri
Anggap saja daun kering
yang kan lapuk dimakan usia
Aku tahu Engkau pun tahu
Tapi masih saja sekat kerap menghadang
Engkau tahu Aku pun tahu
Bahkan kita sama-sama tahu
tapi tetap saja ada jarak antara kita

Surat untuk Aisha

Assalamu’alaykum...
Kawanku Aisha,
Hari ini Aku lulus SMP. Alhamdulillah, nilai matematikaku sempurna dan Aku mendapat peringkat ke  tiga di sekolahku. Kau tahu, Aisha ? Ini semua berkat do’a orangtuaku dan juga berkat dukunganmu.
Aisha, minggu depan Aku akan berangkat ke Ibu kota. Aku akan ikut dengan bibiku bekerja di pabrik roti. Kata bibiku, pabrik roti itu besar sekali. Di sana, nantinya Aku akan bekerja sebagai petugas kebersihan. Itu karena aku baru lulus SMP dan belum punya keterampilan apa-apa. Bibiku bilang, kalau Aku rajin bekerja dan mau belajar, nantinya Aku bisa bekerja sebagai pembuat roti. Aku senang sekali membayangkan diriku mengaduk-aduk adonan roti. Kau tau kan, Aisha? Cita-citaku adalah sekolah di jurusan tata boga, agar bisa  menjadi chef handal. Meskipun Aku tak bisa melanjutkan sekolah di jurusan tata boga, dengan bekerja membuat roti setidaknya Aku jadi sekaligus belajar membuat roti.
Adikku Fathan senang sekali karena Aku akan ke kota. Katanya, nanti Dia minta Aku belikan mobil-mobilan. Tapi, adikku Fatima tak mau bicara denganku gara-gara Aku akan pergi ke Ibu Kota. Fatima bilang, nanti Aku tak kenal lagi dengannya kalau Aku sudah bekerja sebagai pembuat roti. Lucu sekali, ya? Kalau Ibuku, beliau bilang kalau Aku sudah punya uang gaji, beliau minta dibelikan kain gendongan modern. Katanya, agar beliau lebih mudah menggendong Abimanyu saat sedang menyetrika baju tetangga.
Oh ya, Aisha. Aku harap nantinya Aku bisa bertemu dengan kamu kalau Aku sudah di Ibu Kota. Mudah-mudahan Kamu bisa melanjutkan ke SMA hingga perguruan tinggi agar cita-citamu untuk menjadi jaksa dapat terwujud. Nanti kalau Aku sudah sampai di Ibu Kota Aku akan memberikan alamatku kepadamu.
Aisha kawanku, sekian dulu ya surat dariku. Kalau Aku sudah di Ibu Kota Aku aku Akan mengirimu surat lagi.
Wassalamu’alaykum.

                                                                                                Kawanmu,
                                                                                                   Nadia

Minggu, 09 September 2018

Anak-anak Tanpa Alas Kaki


    Minggu lalu, Aku sedang berjalan menuju kampus saat Kulihat dua anak laki-laki berjalan tanpa alas kaki di seberang jalan. Hari itu bukan hari libur, jadi Aku bingung saat melihat anak-anak tersebut tidak memakai seragam sekolah. Mereka bahkan membawa jaring kroto (telur semut rang-rang), demi mengadu nasib untuk segenggam rupiah. Aku ingin menyapa mereka berdua, namun Aku sedang terburu-buru untuk kuliah dan kedua anak tersebut juga berjalan dengan tergesa-gesa.
    Pemandangan dua anak lelaki tanpa alas kaki yang Kulihat tempo hari selalu menghantuiku. Aku bingung sekaligus sedih karena di zaman yang merdeka ini masih ada anak-anak yang tak mengenyam pendidikan di republik ini. Bayangkan saja, di kota tempatku kuliah saja masih ada anak-anak yang tak bersekolah, apalagi di pelosok-pelosok negeri sana ? Keadaan ini cukup membuatku pusing. Apa penyebabnya hingga banyak anak-anak yang masih tak sekolah ? Apakah karena anak-anak tersebut tak mau sekolah ? Ataukah karena pendidikan begitu mahalnya sehingga banyak orangtua tak sanggup membiayai sekolah anaknya ? Tapi, Aku makin pusing karena pada kenyataannya hak warga negara republik ini untuk memperoleh pendidikan sudah di jamin oleh undang-undang. Namun, apakah undang-undang sudah menjamin hak pendidikan anak-anak tanpa alas kaki tersebut dan anak-anak lain yang bernasib serupa ?

Pendidikan Bagi Perempuan


    Pendidikan bagi seorang perempuan ibarat garam bagi sayuran.. Mengapa demikian ? Hal tersebut dikarenakan perempuan merupakan ujung tombak pembangunan peradaban. Perempuan merupakan sosok utama yang nantinya akan mendidik anak-anaknya agar menjadi generasi emas pembangun peradaban. Apabila perempuan tidak memperoleh pendidikan yang layak, bahkan mengalami diskriminasi dalam hal memperoleh pendidikan, lalu bagaimana mereka dapat mendidik anak-anaknya nanti hingga dapat menjadi emas di tumpukan jerami ?
   Sayur tanpa garam akan terasa hambar. Perempuan tanpa pernah memperoleh pendidikan akan nampak "kosong". Anggapan bahwa perempuan tak perlu sekolah hingga perguruan tinggi karena hanya akan berakhir di dapur, merupakan anggapan yang kurang tepat. Anak-anak perlu seorang Ibu yang bukan hanya salihah, berakhlak mulia, namun juga cerdas. Pendidikan bagi seorang perempuan merupakan salah satu jalan agar perempuan nantinya dapat menjadi seorang ibu yang cerdas.     

Jumat, 07 September 2018

Aku

Aku ingin berlari bersama ombak
agar ia menghapus laraku
Aku ingin bersisian dengan hujan
agar tak ada lagi tangis di pipiku
Aku ingin berkawan dengan angin
agar ia menerbangkan amarahku

Anak Kecil dan Ukulele itu...

Selepas Isya, gerimis kecil sisa hujan lebat sore itu masih mengguyur daerah tempat pemondokanku berada. Kala itu, Aku baru saja pulang d...