Apa yang terlintas dalam pikiran kita jika
mendengar kata ‘sampah’?
Sebagian
besar dari kita tentu saja berpikir
bahwa sampah merupakan barang sisa, barang tak terpakai atau barang tak
berguna. Sampah merupakan barang yang kita anggap menjijikan dan mengganggu
pemandangan mata. Namun, bagi kita yang tinggal di negeri ini, tentu saja sudah
tak asing lagi dengan pemandangan tumpukan sampah yang hampir ada di mana-mana.
Tumpukan sampah plastik, sampah organik, sampah styrofoam, sampah logam, bahkan
sampah popok bayi kerap kali kita jumpai di banyak sudut. Tumpukan sampah di
negeri ini ibarat bakteri, banyak dan amat cepat berkembang biak.
Masyarakat kita
memang menganggap sampah sebagai barang menjijikan dan mengganggu pemandangan.
Namun, di sisi lain masyarakat kita gemar sekali menciptakan ‘tempat sampah’
sendiri. Sebagian besar masyarakat menganggap bahwa semua tempat adalah tempat
sampah. Lihat saja, di sudut-sudut kampus, sungai, pantai, terminal, tepi
jalan, dan tempat-tempat lain kerap kali kita jumpai tumpukan sampah.
Sebagian besar
masyarakat seakan tak peduli lagi di mana mereka membuang sampah. Yang
terpenting bagi mereka adalah tak ada lagi sampah yang ada di genggaman
tangan. Namun, yang mengherankan adalah jika timbul bau busuk dari tumpukan
sampah yang mereka ciptakan sendiri, mereka berpikir bahwa petugas kebersihan
tak bekerja dengan baik. Padahal jika mereka mau berpikir dengan baik, petugas
kebersihan akan bekerja dengan maksimal jika kita mau membuang sampah pada
tempatnya. Perlu kita ketahui, petugas kebersihan tak hanya bertugas untuk
membuang sampah saja.
Masalah sampah
yang menumpuk paling banyak kita jumpai di kota-kota besar. Di kota-kota besar,
bau busuk sampah hampir tak dapat kita hindari. Mau bagaimana lagi, jika
saluran pembuangan air pun dipenuhi sampah ? Bahkan, sampah-sampah di kota
besar seringkali memicu banjir saat musim hujan. Namun, siapa yang kerap
disalahkan atas munculnya banjir-banjir tersebut ? Kita tentu sudah paham.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar