Kamis, 13 September 2018

Semua Tempat adalah Tempat Sampah



Apa yang terlintas dalam pikiran kita jika mendengar kata ‘sampah’?

Sebagian besar dari kita tentu saja berpikir bahwa sampah merupakan barang sisa, barang tak terpakai atau barang tak berguna. Sampah merupakan barang yang kita anggap menjijikan dan mengganggu pemandangan mata. Namun, bagi kita yang tinggal di negeri ini, tentu saja sudah tak asing lagi dengan pemandangan tumpukan sampah yang hampir ada di mana-mana. Tumpukan sampah plastik, sampah organik, sampah styrofoam, sampah logam, bahkan sampah popok bayi kerap kali kita jumpai di banyak sudut. Tumpukan sampah di negeri ini ibarat bakteri, banyak dan amat cepat berkembang biak.
Masyarakat kita memang menganggap sampah sebagai barang menjijikan dan mengganggu pemandangan. Namun, di sisi lain masyarakat kita gemar sekali menciptakan ‘tempat sampah’ sendiri. Sebagian besar masyarakat menganggap bahwa semua tempat adalah tempat sampah. Lihat saja, di sudut-sudut kampus, sungai, pantai, terminal, tepi jalan, dan tempat-tempat lain kerap kali kita jumpai tumpukan sampah.
Sebagian besar masyarakat seakan tak peduli lagi di mana mereka membuang sampah. Yang terpenting bagi mereka adalah tak ada lagi sampah yang ada di genggaman tangan. Namun, yang mengherankan adalah jika timbul bau busuk dari tumpukan sampah yang mereka ciptakan sendiri, mereka berpikir bahwa petugas kebersihan tak bekerja dengan baik. Padahal jika mereka mau berpikir dengan baik, petugas kebersihan akan bekerja dengan maksimal jika kita mau membuang sampah pada tempatnya. Perlu kita ketahui, petugas kebersihan tak hanya bertugas untuk membuang sampah saja.
Masalah sampah yang menumpuk paling banyak kita jumpai di kota-kota besar. Di kota-kota besar, bau busuk sampah hampir tak dapat kita hindari. Mau bagaimana lagi, jika saluran pembuangan air pun dipenuhi sampah ? Bahkan, sampah-sampah di kota besar seringkali memicu banjir saat musim hujan. Namun, siapa yang kerap disalahkan atas munculnya banjir-banjir tersebut ? Kita tentu sudah paham.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Anak Kecil dan Ukulele itu...

Selepas Isya, gerimis kecil sisa hujan lebat sore itu masih mengguyur daerah tempat pemondokanku berada. Kala itu, Aku baru saja pulang d...