Minggu, 16 September 2018

Diseruduk Banteng


Kawanku, Pernahkah Kau ‘diseruduk’ banteng?
Aku berharap bahwa tidak ada kawanku yang pernah ‘diseruduk’ banteng. Tentunya ‘diseruduk’ banteng akan sangat menyakitkan, apalagi jika banteng tersebut sedang kalap. Aku sendiri mengetahui bahwasanya diseruduk banteng amat menyakitkan. Itu bukan berarti  Aku pernah mengalami ‘nikmatnya’ diseruduk banteng. Aku tidak akan mau mengalami hal seperti itu.
Aku mengetahui bahwa orang yang ‘diseruduk’ banteng akan merasa kesakitan,  karena Aku pernah melihat tayangan di televisi tentang seorang gladiator yang gagal menaklukkan bantengnya. Gladiator tersebut terjungkal cukup jauh dan itu tentu saja menyakitkan. Dari ekspresi wajahnya, Aku tahu bahwa ‘diseruduk’ banteng bukanlah suatu pengalaman yang akan diidamkan siapapun.
Kawanku, Aku juga pernah melihat tayangan mengenai tumpukan suatu barang yang ‘diseruduk’ banteng. Apa yang terjadi pada tumpukan barang tersebut menurutmu, Kawan? Roboh atukah tetap tegak? Tentu saja barang-barang tersebut roboh dan bahkan ada beberapa yang hancur. Kau tentu tidak akan percaya jika Kukatakan padamu barang-barang tersebut tetap utuh, bukan?
Akhir-akhir ini, kita pastinya sudah tidak asing lagi dengan berita mengenai bukit-bukit yang roboh. Maksudku, tentu saja bukan roboh seperti tumpukan barang yang ‘diseruduk’ banteng. Yang Kumaksud adalah bukit-bukit itu sekarang sudah lenyap, -rata-. Mereka hancur, lalu lenyap karena ‘diseruduk’ banteng-banteng bertenaga mesin. Banteng bertenaga mesin tersebut bahkan mempunyai kekuatan untuk menghancurkan yang lebih besar daripada banteng asli yang sedang kalap.
Kawanku, Aku dan Kau tentu saja, telah melihat begitu banyak tempat yang dulunya ditumbuhi bukit-bukit yang menghijau sekarang sudah berganti rupa dan warna. Ada bukit yang dulunya sangat cantik, sekarang sudah berganti menjadi pabrik-pabrik dengan cerobong asapnya yang tinggi. Atau, ada pula bukit yang kini ditumbuhi perumahan, tentu saja setelah permukaannya diratakan. Dan banyak lagi bukit-bukit yang berubah sekarang, yang tak dapat Kusebut satu per satu.
Aku tentu saja ingin mencabuti rumah-rumah atau pabrik-pabrik atau apapun yang tertanam di ‘bekas’ bukit-bukit, lantas menggantinya dengan pepohonan. Tapi, Aku ini bisa apa? Proyek pembuatan perumahan dan pabrik-pabrik tersebut menghasilkan banyak uang dan menyerap banyak tenaga. Jika saja Aku punya kuasa, Aku akan mengirim banteng-banteng bermesin untuk menghancurkan mereka. Setelah itu, Aku akan membuat lapangan pekerjaan baru. Tapi, sekali lagi, Aku ini bukan siapa-siapa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Anak Kecil dan Ukulele itu...

Selepas Isya, gerimis kecil sisa hujan lebat sore itu masih mengguyur daerah tempat pemondokanku berada. Kala itu, Aku baru saja pulang d...