Dulu, dan mungkin juga sekarang, beberapa dari kita pasti
pernah merasa malu jika tidak mengetahui suatu hal. Orang lain, misalnya, ramai
berbicara tentang bencana terkini di suatu daerah, tapi kita belum tahu berita
tersebut. Atau, ada orang yang menganggap kita sebagai orang cerdas, lalu
bertanya mengenai suatu permasalahan kepada kita, padahal kita tak tahu apa-apa
mengenai permasalahan tersebut. Saat hal tersebut terjadi, apa yang kita lakukan?
Tentu karena didorong oleh perasaan malu, kita akan mengatakan kepada orang
lain bahwa kita juga sudah mengetahui berita tersebut, atau menjawab pertanyaan
orang lain tanpa tahu apakah jawaban kita salah ataukah benar.
Kawanku, sebagian besar dari kita memang merasa enggan
untuk mengatakan “Maaf, saya belum atau tidak tahu”. Mungkin engkau kurang
setuju dengan pendapatku, namun memang begitulah kenyataannya. Sebagian dari
kita merasa takut akan kehilangan kewibawaan atau terlihat bodoh jika mengatakan
“tidak tahu”. Padahal, sejak kecil tentu orang tua kita sudah mengajarkan
kepada kita untuk selalu mengatakan kejujuran. Jika pada kenyataannya kita
“tidak tahu” namun mengatakan “tahu”, bukankah kita sudah tidak jujur?
Kawanku, jika engkau tidak tahu mengenai suatu hal, maka
katakanlah bahwa engkau memang tidak tahu. Selanjutnya, bertanyalah. Bukankah
ada pepatah yang mengatakan bahwa malu bertanya sesat di jalan? Jika engkau tak
mau tersesat di jalan, tentu saja engkau harus mau bertanya, bukan? Lalu, jika
ada yang bertanya padamu dan engkau tidak tahu jawabannya, katakan saja “Maaf,
saya tidak tahu”. Tak usahlah risau engkau akan kehilangan image
pandaimu itu. Yang terpenting adalah bahwa kita tidak sok tahu, karena
terkadang jawaban yang sok tahu itu dapat menyesatkan orang lain dan bahkan
dapat menghilangkan kepercayaan orang lain terhadap kita. Engkau tentu saja
tidak mau hal tersebut terjadi padamu, bukan?