Kamis, 11 Oktober 2018
Senin, 08 Oktober 2018
Teruntuk Kamu
Kubisikkan do’a
pada Rabb yang mencipta semesta
agar Ia
membutakanmu dari apa yang yang tak pantas Kau lihat
Ku panjatkan
do’a pada Rabb pemilik ‘Arsy
agar Ia
menulikanmu dari apa yang tak pantas Kau dengar
Ku lantunkan
do’a pada Rabb pemilik langit dan bumi
agar Dia
mengunci lidahmu dari apa yang tak pantas Kau ucapkan
Aku berdo’a pada
Dzat yang jiwa dan ragaku ada pada-Nya
agar Ia selalu
menjaga langkah kakimu dari apa yang tak pantas Kau injak
Aku berdo’a pada
Rabb pemilik timur dan barat
agar Ia
senantiasa menjaga tanganmu dari mengambil apa yang bukan hakmu
Aku berdo’a pada
Rabbku
Agar Ia selalu
menjagamu dan memelukmu dengan Kasih-Nya
Bolehkah Ku Minta Hatimu ?
Manusia banyak sekali yang dianugerahi harta
melimpah, paras rupawan, tubuh atletis, fisik sempurna dan anugerah lainnya
dari Tuhan. Namun sayangnya, beberapa orang yang diberi banyak anugerah justru
tak memiliki “hati”. Tentu saja jika yang Kau maksud adalah hati yang termasuk
organ dalam, semua orang memilikinya, karena jika tidak maka orang tersebut
takkan hidup. Yang Ku maksud adalah dengan hati adalah sesuatu yang menyebabkan
manusia memiliki perasaan, kepekaan dan emosi.
Memang, tidak semua orang yang diberi banyak
anugerah tidak memiliki “hati”. Pada paragraf sebelumnya pun sudah Ku katakan
hanya beberapa orang. Jika Kau tak percaya, coba Kau baca lagi paragraf
sebelumnya. Di situ Ku tulis dengan jelas “beberapa orang”.
Lantas, seperti apakah orang yang tak memiliki
“hati” itu?
Kita ambil salah satu contoh. Di kota-kota besar,
banyak sekali orang-orang kaya yang tinggal di apartemen mewah. Di sisi lain,
banyak pula kaum papa yang tinggal di rumah-rumah kardus di bawah apartemen-apartemen
tersebut. Namun, apakah para penghuni apartemen-apartemen tersebut tergerak
hatinya untuk membantu membangunkan rumah bagi para penghuni rumah kardus?
Mungkin beberapa orang ada yang tergerak hatinya, namun sebagian yang lain
justru tak peduli sama sekali, bahkan bersikap seolah itu bukan urusan mereka.
Kita ambil contoh yang lain. Bagi orang yang sering
berkendara dengan kendaraan umum, terutama bus, pasti pernah merasakan yang
namanya berdesak-desakkan karena jumlah penumpang melampaui kapasitas yang
ditentukan. Terkadang di antara penumpang tersebut ada ibu hamil, lansia atau
penyandang disabilitas yang terpaksa berdiri karena semua kursi dipenuhi oleh
orang-orang yang sehat, namun tak mau mengalami kesusahan. Bahkan, sebagian
besar penumpang yang duduk tersebut adalah kaum muda yang fisiknya segar bugar.
Kau juga pasti pernah mendengar beberapa orang yang
fisiknya kurang sempurna atau parasnya dianggap kurang rupawan mengalami
perumbungan. Jika Kau tak pernah mendengar kasus seperti itu, berarti Kau tak
pernah menonton atau membaca berita atau tidak pernah memperhatikan lingkungan
sekitar. Karena mengalami perumbungan, beberapa orang mengalami apa yang
disebut sebagai rendah diri, merasa tertekan, bahkan ada yang sampai mengalami
stress. Tapi, orang-orang yang mengejek a.k.a “membully” justru
tertawa-tawa bahagia dengan lelucon mereka yang tidak lucu. Jika boleh, Aku
ingin mengatakan bahwa mereka punya hati namun hati mereka sudah mati.
Padamu yang sudah dianugerahi Tuhan dengan bermacam
anugerah, namun tak peduli dengan lingkungan sekitar. Aku ingin bertanya
padamu. Apakah Kau mempunyai hati? Jika punya, bolehkah Ku minta hatimu?
Minggu, 07 Oktober 2018
Layang-layang
Kawan, Aku suka sekali melihat layang-layang. Saat
Aku menatap langit, lalu melihatnya menari-nari, hatiku begitu gembira. Mereka
seakan mengajakku berlari, lalu terbang hingga ke ujung dunia. Lalu, saat
Kulihat tubuhnya yang berwarna-warni, Kurasakan bahwa dunia begitu Indahnya.
Sungguh Maha Besar Tuhan yang telah mencipta banyak warna dan menganugerahkan
mata pada manusia, sehingga manusia dapat melihat mereka.
Meskipun Aku menyukai layang-layang, tapi Aku tak
suka caranya terbang. Bagi kawan yang suka menerbangkan layang-layang, tentu
tahu bahwa layang-layang takkan mau terbang kalau tak ada angin. Terus terang,
Aku juga tak suka caranya menari. Yaah, meskipun harus Ku akui bahwa Aku bahagia
saat melihatnya menari. Tapi, mereka akan menari ke kanan atau ke kiri
mengikuti arah angin. Itu harus Ku maklumi, tentu saja, karena mereka pun
terbang karena angin. Tetapi...
Kawan, di dunia ini bukan hanya layang-layang saja
yang tak memiliki “pendirian” dalam hal arah terbang. Manusia, sebagaimana
layang-layang banyak yang tak memiliki pendirian. Banyak di antara kita yang
hanya mengikuti arus, mengikuti “kebanyakan orang”, tak punya pendirian sama
sekali. Jika sebagian besar orang berjalan ke arah barat, maka orang yang tak
berpendirian tentu akan mengikutinya.
Sifat yang tak punya pendirian tentu saja tidak
baik. Kita sebagai manusia harus memiliki pendirian, memiliki prinsip yang kuat
agar tak mudah diombang-ambingkan. Kita tak boleh terlalu mengikuti orang lain,
karena belum tentu orang yang kita ikuti adalah orang baik. Jika kita mempunyai
pendirian yang kokoh, kita takkan mudah dipengaruhi orang lain, juga takkan
mudah ditipu orang.
Kawan, tak perlu lah Aku berpanjang lebar mengenai
hal ini. Kawanku yang baik tentu saja sudah paham mengapa sebagai manusia kita
perlu memiliki prinsip dan pendirian yang kokoh. Kau tak mau kan, kalo suatu
hari harus mengikuti tren “nyemplung” ke sumur ?
Rapat Terus, Kapan Belajarnya?
Bagi pelajar atau mahasiswa yang memiliki “hobi”
berorganisasi atau mengikuti berbagai kepanitiaan pasti sudah tak asing lagi
dengan “sesuatu” bernama rapat. Pagi rapat, sore rapat, malam pun rapat. Bahkan
ada yang rapat dari sore hingga fajar menyingsing. Luar biasa, bukan?
Aku sebenarnya merasa bingung karena beberapa rapat
organisasi atau kepanitiaan bisa berlangsung sangat lama. Padahal yang dibahas
toh hanya seputar program kerja organisasi atau acara yang akan diselenggarakan
panitia. Jika yang dibahas adalah masalah negara atau masalah ummat, tak apa
lah kalau rapat harus berlangsung sangat lama.
Aku terkadang merasa muak jika ada rapat yang
berlangsung dari sore hingga pagi. Itu bukan berarti Aku orang yang anti organisasi
atau anti kepanitiaan. Tapi, Aku sungguh tak suka jika harus mengikuti rapat
yang pembahasannya terlalu berlarut-larut. Terkadang hanya membahas satu
kalimat dalam suatu draft program kerja atau petunjuk pelaksanaan suatu acara
saja bisa berlangsung hingga 40 menit ! Bayangkan, empat puluh lima menit!
Padahal, apa artinya sebuah kalimat? Toh yang terpenting adalah konsep program
kerja dan acaranya memiliki kualitas bagus.
Sebagai pelajar atau mahasiswa tentu saja rapat yang
terlalu berlarut-larut sangat mengganggu kegiatan akademik. Adalah salah jika
ada yang berkata bahwa “rapat dilakukan sore hari, sedangkan kegiatan akademik
pada pagi hari”. Harus Ku katakan padamu, bahwa kegiatan akademik dalam artian
yang sesungguhnya (kegiatan belajar mengajar) memang berlangsung di pagi hari.
Namun, jika ada tugas atau laporan apakah kita harus mengerjakan di pagi hari
juga?
Terkadang Aku juga tak suka pada orang yang berkata
bahwa rapat itu sangat penting. Seberapa penting kah rapat jika yang dibahas
adalah masalah yang kurang penting, bahkan terkadang peserta rapat saling
berdebat mengenai hal yang kurang penting pula? Rapat di organisasi atau
kepanitiaan terkadang juga isinya adalah peserta rapat yang mencari kesalahan
peserta lain, namun tak mau memberikan solusi. Seharusnya, peserta rapat
membahas solusi dari suatu masalh, bukan mencari-cari kesalahan yang belum
tentu ada.
Rapat memang terkadang penting, namun akademik juga
penting. Jika ada yang bilang jangan terlalu “Academic oriented”, teriakkan
saja padanya: “bukankah orang tua kita membayar sekolah/kuliah kita agar kita
belajar dengan baik?”. Yaa, orang tua kita mempercayakan uangnya digunakan oleh
anak-anaknya agar mereka belajar dengan baik, bukan untuk mengikuti rapat-rapat
yang berlarut-larut.. Bukan, bukan karena Aku tak suka rapat, namun Aku tak
suka rapat yang berlarut-larut. Kapan Aku bisa belajar, mengerjakan tugas, atau
mengerjakan laporan jika setiap hari harus Ku ikuti rapat dari sore hingga
pagi?
Langganan:
Komentar (Atom)
Anak Kecil dan Ukulele itu...
Selepas Isya, gerimis kecil sisa hujan lebat sore itu masih mengguyur daerah tempat pemondokanku berada. Kala itu, Aku baru saja pulang d...
-
Manusia banyak sekali yang dianugerahi harta melimpah, paras rupawan, tubuh atletis, fisik sempurna dan anugerah lainnya dari Tuhan. Namun...
-
Lagu cinta untuk-Mu Dinginnya tetesan air suci, tenangkan jiwa dan ragaku Dengannya, ku basuh diri ini Tuk sejenak ku bebaskan di...
-
Ibu, hari ini Aku ada tugas kuliah untuk dikumpulkan esok hari. Tugasnya banyak sekali, Bu. Kalau tidak Ku selesaikan hari ini, besok past...