Manusia banyak sekali yang dianugerahi harta
melimpah, paras rupawan, tubuh atletis, fisik sempurna dan anugerah lainnya
dari Tuhan. Namun sayangnya, beberapa orang yang diberi banyak anugerah justru
tak memiliki “hati”. Tentu saja jika yang Kau maksud adalah hati yang termasuk
organ dalam, semua orang memilikinya, karena jika tidak maka orang tersebut
takkan hidup. Yang Ku maksud adalah dengan hati adalah sesuatu yang menyebabkan
manusia memiliki perasaan, kepekaan dan emosi.
Memang, tidak semua orang yang diberi banyak
anugerah tidak memiliki “hati”. Pada paragraf sebelumnya pun sudah Ku katakan
hanya beberapa orang. Jika Kau tak percaya, coba Kau baca lagi paragraf
sebelumnya. Di situ Ku tulis dengan jelas “beberapa orang”.
Lantas, seperti apakah orang yang tak memiliki
“hati” itu?
Kita ambil salah satu contoh. Di kota-kota besar,
banyak sekali orang-orang kaya yang tinggal di apartemen mewah. Di sisi lain,
banyak pula kaum papa yang tinggal di rumah-rumah kardus di bawah apartemen-apartemen
tersebut. Namun, apakah para penghuni apartemen-apartemen tersebut tergerak
hatinya untuk membantu membangunkan rumah bagi para penghuni rumah kardus?
Mungkin beberapa orang ada yang tergerak hatinya, namun sebagian yang lain
justru tak peduli sama sekali, bahkan bersikap seolah itu bukan urusan mereka.
Kita ambil contoh yang lain. Bagi orang yang sering
berkendara dengan kendaraan umum, terutama bus, pasti pernah merasakan yang
namanya berdesak-desakkan karena jumlah penumpang melampaui kapasitas yang
ditentukan. Terkadang di antara penumpang tersebut ada ibu hamil, lansia atau
penyandang disabilitas yang terpaksa berdiri karena semua kursi dipenuhi oleh
orang-orang yang sehat, namun tak mau mengalami kesusahan. Bahkan, sebagian
besar penumpang yang duduk tersebut adalah kaum muda yang fisiknya segar bugar.
Kau juga pasti pernah mendengar beberapa orang yang
fisiknya kurang sempurna atau parasnya dianggap kurang rupawan mengalami
perumbungan. Jika Kau tak pernah mendengar kasus seperti itu, berarti Kau tak
pernah menonton atau membaca berita atau tidak pernah memperhatikan lingkungan
sekitar. Karena mengalami perumbungan, beberapa orang mengalami apa yang
disebut sebagai rendah diri, merasa tertekan, bahkan ada yang sampai mengalami
stress. Tapi, orang-orang yang mengejek a.k.a “membully” justru
tertawa-tawa bahagia dengan lelucon mereka yang tidak lucu. Jika boleh, Aku
ingin mengatakan bahwa mereka punya hati namun hati mereka sudah mati.
Padamu yang sudah dianugerahi Tuhan dengan bermacam
anugerah, namun tak peduli dengan lingkungan sekitar. Aku ingin bertanya
padamu. Apakah Kau mempunyai hati? Jika punya, bolehkah Ku minta hatimu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar