Senin, 08 Oktober 2018

Bolehkah Ku Minta Hatimu ?


Manusia banyak sekali yang dianugerahi harta melimpah, paras rupawan, tubuh atletis, fisik sempurna dan anugerah lainnya dari Tuhan. Namun sayangnya, beberapa orang yang diberi banyak anugerah justru tak memiliki “hati”. Tentu saja jika yang Kau maksud adalah hati yang termasuk organ dalam, semua orang memilikinya, karena jika tidak maka orang tersebut takkan hidup. Yang Ku maksud adalah dengan hati adalah sesuatu yang menyebabkan manusia memiliki perasaan, kepekaan dan emosi.
Memang, tidak semua orang yang diberi banyak anugerah tidak memiliki “hati”. Pada paragraf sebelumnya pun sudah Ku katakan hanya beberapa orang. Jika Kau tak percaya, coba Kau baca lagi paragraf sebelumnya. Di situ Ku tulis dengan jelas “beberapa orang”.
Lantas, seperti apakah orang yang tak memiliki “hati” itu?
Kita ambil salah satu contoh. Di kota-kota besar, banyak sekali orang-orang kaya yang tinggal di apartemen mewah. Di sisi lain, banyak pula kaum papa yang tinggal di rumah-rumah kardus di bawah apartemen-apartemen tersebut. Namun, apakah para penghuni apartemen-apartemen tersebut tergerak hatinya untuk membantu membangunkan rumah bagi para penghuni rumah kardus? Mungkin beberapa orang ada yang tergerak hatinya, namun sebagian yang lain justru tak peduli sama sekali, bahkan bersikap seolah itu bukan urusan mereka.
Kita ambil contoh yang lain. Bagi orang yang sering berkendara dengan kendaraan umum, terutama bus, pasti pernah merasakan yang namanya berdesak-desakkan karena jumlah penumpang melampaui kapasitas yang ditentukan. Terkadang di antara penumpang tersebut ada ibu hamil, lansia atau penyandang disabilitas yang terpaksa berdiri karena semua kursi dipenuhi oleh orang-orang yang sehat, namun tak mau mengalami kesusahan. Bahkan, sebagian besar penumpang yang duduk tersebut adalah kaum muda yang fisiknya segar bugar.
Kau juga pasti pernah mendengar beberapa orang yang fisiknya kurang sempurna atau parasnya dianggap kurang rupawan mengalami perumbungan. Jika Kau tak pernah mendengar kasus seperti itu, berarti Kau tak pernah menonton atau membaca berita atau tidak pernah memperhatikan lingkungan sekitar. Karena mengalami perumbungan, beberapa orang mengalami apa yang disebut sebagai rendah diri, merasa tertekan, bahkan ada yang sampai mengalami stress. Tapi, orang-orang yang mengejek a.k.a “membully” justru tertawa-tawa bahagia dengan lelucon mereka yang tidak lucu. Jika boleh, Aku ingin mengatakan bahwa mereka punya hati namun hati mereka sudah mati.
Padamu yang sudah dianugerahi Tuhan dengan bermacam anugerah, namun tak peduli dengan lingkungan sekitar. Aku ingin bertanya padamu. Apakah Kau mempunyai hati? Jika punya, bolehkah Ku minta hatimu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Anak Kecil dan Ukulele itu...

Selepas Isya, gerimis kecil sisa hujan lebat sore itu masih mengguyur daerah tempat pemondokanku berada. Kala itu, Aku baru saja pulang d...