Sekarang ini zaman sudah modern. Lihat
saja, di mana-mana dapat kita temui balita-balita yang sudah mahir bermain smartphone.
Coba kita tengok zaman dahulu, -maksudku bukan zaman sebelum masehi-,
katakanlah 30 tahun yang lalu. Pada waktu itu, mana ada balita yang bermain smartphone?
Kalau balita yang bermain-main dengan tanah, Aku yakin ada banyak di zaman itu.
Karena zaman sudah modern, beberapa
profesi yang pada zaman pra-modern banyak diminati, sekarang ini jadi sepi
peminat. Kita lihat saja profesi petani. Dulu, mungkin sekitar 10 tahun yang
lalu, kita masih sering melihat petani-petani yang masih muda. Coba kita
bandingkan dengan keadaan sekarang. Petani-petani yang sering kita lihat
sekarang ini adalah petani-petani “sepuh” yang tenaganya sudah rapuh,
bahkan beberapa penglihatannya sudah rabun. Memang tidak semua petani zaman
sekarang adalah petani lanjut usia, namun jumlah petani mudanya tidak sebanyak
zaman dahulu.
Jumlah petani yang mulai sedikit,
ditambah lagi regenerasi yang berjalan kurang baik, tidak menjadikan profesi
ini dihargai layaknya profesi lain yang dianggap prestisius. Padahal, jasa para
petani sungguh sangat besar. Sebut saja isi meja makan kita, -hampir semuanya
adalah hasil kerja petani-. Namun, sudahkah kita menghargai hasil kerja keras
mereka? Banyak di antara kita yang masih sering membuang makanan atau menawar
harga sayuran atau hasil panen lainnya kepada petani seenak sendiri. Alasan
kita menawar hampir sama, mulai dari produk yang sudah tidak segar, penampilan
produk yang kurang bagus atau karena kuantitas produk yang tidak sesuai dengan
harga (terlalu sedikit). Padahal, jika kita membeli baju di toko-toko besar
yang harganya sudah pasti, berapapun harganya akan kita beli. Cobalah untuk
berfikir, apakah harga sayuran petani lebih mahal daripada harga baju di
toko-toko tersebut?
Sekarang ini, selagi masih ada petani,
cobalah kita untuk lebih menghargai mereka. Jika perlu, belajarlah kepada
mereka cara bercocok tanam. Belajarlah bertani, agar kita menjadi generasi yang
meneruskan perjuangan mereka. Tak perlu lah kita merasa gengsi untuk memegang
tanah atau menggenggam pupuk. Toh kita ini butuh makan. Apakah kita mau,
mencari-cari makanan di hutan seperti manusia zaman dahulu?