Rabu, 26 September 2018

Selagi Petani Masih Ada


Sekarang ini zaman sudah modern. Lihat saja, di mana-mana dapat kita temui balita-balita yang sudah mahir bermain smartphone. Coba kita tengok zaman dahulu, -maksudku bukan zaman sebelum masehi-, katakanlah 30 tahun yang lalu. Pada waktu itu, mana ada balita yang bermain smartphone? Kalau balita yang bermain-main dengan tanah, Aku yakin ada banyak di zaman itu.
Karena zaman sudah modern, beberapa profesi yang pada zaman pra-modern banyak diminati, sekarang ini jadi sepi peminat. Kita lihat saja profesi petani. Dulu, mungkin sekitar 10 tahun yang lalu, kita masih sering melihat petani-petani yang masih muda. Coba kita bandingkan dengan keadaan sekarang. Petani-petani yang sering kita lihat sekarang ini adalah petani-petani “sepuh” yang tenaganya sudah rapuh, bahkan beberapa penglihatannya sudah rabun. Memang tidak semua petani zaman sekarang adalah petani lanjut usia, namun jumlah petani mudanya tidak sebanyak zaman dahulu.
Jumlah petani yang mulai sedikit, ditambah lagi regenerasi yang berjalan kurang baik, tidak menjadikan profesi ini dihargai layaknya profesi lain yang dianggap prestisius. Padahal, jasa para petani sungguh sangat besar. Sebut saja isi meja makan kita, -hampir semuanya adalah hasil kerja petani-. Namun, sudahkah kita menghargai hasil kerja keras mereka? Banyak di antara kita yang masih sering membuang makanan atau menawar harga sayuran atau hasil panen lainnya kepada petani seenak sendiri. Alasan kita menawar hampir sama, mulai dari produk yang sudah tidak segar, penampilan produk yang kurang bagus atau karena kuantitas produk yang tidak sesuai dengan harga (terlalu sedikit). Padahal, jika kita membeli baju di toko-toko besar yang harganya sudah pasti, berapapun harganya akan kita beli. Cobalah untuk berfikir, apakah harga sayuran petani lebih mahal daripada harga baju di toko-toko tersebut?
Sekarang ini, selagi masih ada petani, cobalah kita untuk lebih menghargai mereka. Jika perlu, belajarlah kepada mereka cara bercocok tanam. Belajarlah bertani, agar kita menjadi generasi yang meneruskan perjuangan mereka. Tak perlu lah kita merasa gengsi untuk memegang tanah atau menggenggam pupuk. Toh kita ini butuh makan. Apakah kita mau, mencari-cari makanan di hutan seperti manusia zaman dahulu?

Maaf Bu, Aku Sedang Sibuk


Ibu, hari ini Aku ada tugas kuliah untuk dikumpulkan esok hari. Tugasnya banyak sekali, Bu. Kalau tidak Ku selesaikan hari ini, besok pasti Aku akan gugup. Maklumlah, dosenku ini sungguh pecinta kesempurnaan. Aku tak mau nilai tugasku jelek hanya karena Aku terburu-buru mengerjakannya. Jadi, mohon maaf kalau Aku tadi tak membalas pesan singkat dari Ibu.
Besok siang setelah selesai kuliah, Aku ada kegiatan di organisasi. Kegiatan tersebut penting sekali Bu, sehingga Aku harus hadir. Ibu, maaf ya kalau Aku besok tak dapat menelepon Ibu, seperti yang Ibu pesankan di pesan singkat tadi. Aku tak mau tertinggal kegiatan penting tersebut. Sebenarnya, Aku bisa menelepon Ibu saat malam, kalau saja tak ada janji makan malam dengan teman-teman.
Ibu, maaf juga kalau libur akhir pekan ini Aku tak dapat pulang ke rumah. Bukan karena Aku tak merindukan Ibu, tapi karena akhir pekan nanti Aku mau pergi naik gunung. Ibu tahu, kan ? Aku suka sekali naik gunung.
Ibu, maaf ya. Minggu ini sepertinya Aku tak ada waktu untuk Ibu. Maafkan Aku Ibu, karena Aku sedang sibuk.


Cantik Saja tidak Cukup


Kata “cantik” dan kata “wanita” takkan dapat dipisahkan. Ibarat sebuah pohon yang takkan dapat berpisah dari akarnya, seperti itulah wanita dengan kecantikannya. Hampir semua wanita menginginkan dirinya menjadi cantik, karena memang seperti itulah kodratnya.
Sebenarnya, pada dasarnya semua wanita itu cantik. Jika tidak cantik, maka ia adalah seorang pria. Namun, beberapa wanita merasa dirinya kurang cantik dan merasa iri pada wanita lain yang mereka anggap lebih cantik. Padahal, parameter kecantikan itu relatif. Misalnya saja, ada orang yang beranggapan bahwa wanita cantik adalah wanita yang berkulit putih dan langsing, namun ada pula yang beranggapan bahwa wanita cantik adalah mereka yang berkulit gelap dan tubuhnya berisi. Semua ini kembali lagi pada persepsi masing-masing individu.
Karena terobsesi akan kecantikan, banyak wanita rela merogoh kocek cukup dalam untuk membeli berbagai produk kecantikan, mulai dari produk perawatan kulit hingga make-up. Hal tersebut memang tidak sepenuhnya salah, namun jika obsesi tersebut menjadikan wanita kurang percaya diri dengan penampilan aslinya, itu akan menjadi masalah. Wanita yang terobsesi dengan berbagai produk kecantikan, biasanya berharap bahwa mereka akan secantik bintang iklan produk yang mereka beli. Atau berharap bahwa kulit mereka akan bersinar bagai matahari. Memang, tidak semua wanita seperti itu.
Jika kita pikirkan lebih dalam, sebenarnya seorang wanita sejak dilahirkan sudah memiliki kecantikan wajah yang istimewa. Jadi, yang perlu ditingkatkan oleh seorang wanita bukanlah kecantikan wajahnya, namun hal-hal lain yang sifatnya lebih mendesak. Seorang wanita harus memiliki akhlak yang baik, otak yang cerdas, keterampilan, serta kebijaksanaan. Akhlak yang baik akan membuat seorang wanita terlihat lebih bersinar di mata orang lain. Wanita harus cerdas karena merekalah pembangun peradaban yang sesungguhnya. Tingkat kecerdasan seorang wanita akan menentukan nasib suatu bangsa, karena merekalah yang mendidik generasi-generasi baru penerus bangsa. Keterampilan dan kebijaksanaan mutlak harus dimiliki oleh wanita, karena merekalah yang akan mengurus dan mengelolah sebuah rumah tangga. Tanpa kedua hal tersebut, mungkin sebuah rumah tangga akan berjalan layaknya sepeda yang bannya kempes. Keempat hal tersebutlah yang sebaiknya ditingkatkan oleh seorang wanita, karena kecantikan wajah saja tidaklah cukup.

Anak Kecil dan Ukulele itu...

Selepas Isya, gerimis kecil sisa hujan lebat sore itu masih mengguyur daerah tempat pemondokanku berada. Kala itu, Aku baru saja pulang d...