Sabtu, 22 September 2018
Mencabut Rumput Teki
Kawanku, akhir-akhir ini kita dihebohkan
oleh banyaknya oknum pejabat yang terjaring operasi tangkap tangan (OTT) KPK.
Bukan hanya pejabat di pemerintahan pusat saja, pejabat-pejabat di tingkat
daerah pun tak luput dari OTT KPK. Bahkan, di suatu daerah KPK seperti
menangkap ikan di tambak menggunakan jaring, -banyak sekali ikan yang didapat-.
Kita sebagai warga negara republik ini
tentu merasa resah dengan banyaknya kasus KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme) yang
menjerat para pejabat di negara ini. Bagaimana tidak? Selama ini, kita sudah
mempercayakan urusan negara ini kepada para pejabat yang mengemban amanah di
pemerintahan. Namun, yang kita dapatkan justru penghianatan.
Sebagian besar dari kita tentu merasa
heran. KPK selama ini sudah meringkus banyak sekali pejabat pelaku KKN, namun
mengapa kasus KKN seolah tak ada habisnya? Mungkin di antara kita ada yang
mengistilahkan KKN di negara ini seperti “mati satu tumbuh seribu”.
Kawanku, kasus KKN di negara ini, jika
boleh kuibaratkan, seperti rumput teki. Rumput teki walaupun sudah dicabut,
disemprot herbisida atau dicangkul tetap saja beberapa waktu kemudian akan
tumbuh kembali. Mengapa demikian? Rumput teki pada dasarnya berkembang biak
dengan geragih Jika alat perkembangbiakannya masih ada, maka rumput teki akan tetap dapat tumbuh
lagi. Seperti halnya rumput teki, kasus KKN di negara ini akan tetap ada jika
“geragihnya” masih ada.
Move On
Kawanku, pernahkah kau merasa kecewa?
Aku yakin Kau pernah merasakannya, karena Aku pun pernah. Sebagai manusia tentu
saja terasa wajar saat kita merasa kecewa. Yang tidak wajar adalah saat kita
tak bisa menerima keadaan yang mengecewakan kita, lantas membuat kita hancur
dan akhirnya menjadi manusia yang pesimis.
Saat kita gagal memperoleh sesuatu yang
kita inginkan, kita kerap kali mengeluh atau merasa kecewa. Terkadang bahkan
kita menyalahkan orang lain atas kegagalan kita. Atau bahkan menggerutu karena
Tuhan tak mengabulkan do’a dan usaha kita. Kawanku, tahukah Kau bahwa mungkin Tuhan justru sedang
memberikan kebaikan-Nya dengan membuat kita gagal? Tuhan lebih tahu apa yang
dibutuhkan hamba-Nya. Dia akan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa
yang kita inginkan.
Kawanku, di dunia ini selalu ada dua
sisi pada setiap kejadian, positif dan negatif. Saat kita merasa kecewa
berlarut-larut, berarti kita melihat suatu kejadian dari sisi negatifnya.
Sebaliknya, saat kita berani move on, berani bangkit meskipun sudah
dikecewakan, berarti kita mengambil sisi positif dari suatu kejadian.
Move on dari rasa
kecewa dapat membangkitkan kembali rasa optimis dalam diri kita, atau bahkan
meningkatkannya. Ketahuilah, saat kita gagal berarti kita belum berusaha
semaksimal mungkin. Oleh karena itu, tak pantas rasanya jika kita
berlarut-larut dalam kekecewaan dan menganggap diri kita tak pantas gagal.
Kawanku yang baik, sebenarnya cara kita melihat hasil usaha kita dapat diibaratkan
seperti melihat bunga mawar. Saat kita merasa kecewa atas kegagalan yang kita
peroleh, kita seperti melihat mawar sebagai bunga yang jahat karena yang
dilihat adalah durinya. Sebaliknya, saat kita selalu berpikiran positif
meskipun gagal, berarti yang kita lihat adalah mahkota bunga mawar yang indah,
meskipun ia memang berduri.
Kawanku yang baik, maukah Kau melihat
bunga mawar hanya pada mahkotanya yang indah, tanpa pedulii dengan durinya ?
Minggu, 16 September 2018
Ironi
Musim kering di tahun ini sudah
bertamu ke kampung kami, kampung Dukuh Nom. Sebenarnya sekarang masih bulan
Maret, tapi entah mengapa agaknya langit sudah enggan mencurahkan air ke kampung
kami. Matahari juga sepertinya semangat sekali memancarkan sinarnya. Jika
kupikir-pikir, bila saja kampungku ini cocok untuk berkebun sawit, mungkin saat
kemarau seperti ini seluruh penduduk kampung kami sudah memenuhi
puskesmas-puskesmas karena sesak napas.
Pada musim kemarau seperti ini, tanaman
di kampung kami banyak yang meranggas, bahkan mati. Rumput-rumput mengering,
sehingga ternak-ternak kami terkadang terpaksa puasa. Sumur-sumur kami juga
banyak yang mengering, sehingga kami terpaksa harus mengurangi jatah mandi
kami.
Sinar matahari yang begitu terik
pada kemarau tahun ini rasa-rasanya jauh lebih terik dari kemarau-kemarau yang
lalu. Mungkin karena banyak pepohonan di kampung kami yang sudah dijadikan
mebel-mebel mewah atau pintu-pintu berukiran indah. Atau, menurut pendapatku
sinar matahari yang semakin terik ini dikarenakan banyak kebun dan hutan di
sekitar kampung kami yang sudah dijadikan kandang ayam, perumahan dan pabrik
konveksi.
Kemarin pagi, aku berbelanja ke
pasar di kampung sebelah untuk membeli keperluan untuk arisan bapak-bapak besok
lusa, yang digelar dua minggu sekali tiap Sabtu malam. Maklumlah, meskipun
arisannya masih lusa tapi kami sudah berbelanja kemarin karena pasar hanya buka
seminggu sekali. Pasar tersebut sebenarnya cukup jauh dari kampungku. Sekitar
dua kilometer menurut perkiraanku.
Saat berjalan ke pasar kemarin,
Aku menyaksikan seorang bapak yang terjatuh dari motornya. Maklumlah, beliau
sedang menghindari lubang kecil di jalan, namun justru beliau melewati lubang
yang besar. Beliau memang hanya mengalami lecet kecil saja, tapi kaca spion dan
lampu depan motornya pecah. Meskipun demikian, tetap saja Aku kasihan melihat
beliau.
Jalanan di kampungku sebenarnya
keadaannya cukup bagus untuk jalanan kampung. Itu jika dilihat lima tahun lalu,
saat jalan tersebut baru dibangun. Namun, kini kondisinya amat memprihatinkan. Jalanan
mengelupas di sana-sini, membuat kerikil bertebaran. Saat musim kemarau seperti
ini, kondisi jalanan di kampung kami sangat berbahaya, ditambah lagi dengan
debu yang beterbangan mengganggu pemandangan.
Jika melihat keadaan kampungku
yang menyedihkan ini, Aku jadi ingin pindah ke Ibu Kota. Di Ibu Kota sana, Aku
tak perlu cemas akan banyaknya lubang di jalanan saat Aku mengendarai sepeda
motor. Itu karena di televisi, kulihat
jalanan di Ibu Kota mulus bagai keramik.
Di Ibu Kota, Aku tak perlu cemas
untuk terburu-buru belanja untuk keperluan sehari-hari atau untuk arisan. Wajar
saja kan? Di Ibu Kota, swalayan bertebaran di mana-mana. Kau tak perlu khawatir
kehabisan barang yang Kau butuhkan. Jika Kau tak menemukan barang yang Kau cari
di salah satu swalayan, Kau dapat mencarinya di swalayan lain. Bahkan, Kau tak
perlu khawatir jika Kau tak ada waktu untuk berbelanja di pagi hari.
Swalayan-swalayan di Ibu Kota ada yang buka sampai malam.
Aku juga tak perlu khawatir harus
mengurangi jatah mandiku di musim kemarau kalau Aku pindah ke Ibu Kota. Aku
lihat di televisi, warga Ibu Kota selalu mendapat suplai air bersih saat musim
kemarau datang. Kalaupun Aku harus mengurangi jatah mandiku, Aku tak perlu
khawatir akan bau badanku. Maklumlah, kalau Aku pindah ke Ibu Kota Aku hanya
mau tinggal di rumah yang ada pendingin udaranya. Dengan begitu, Aku tak akan
banyak berkeringat, sehingga bau badanku tak akan terlalu menyiksa penciuman orang
lain.
Jika Aku tinggal di Ibu Kota, Aku tak perlu
mengkhawatikan ternak-ternak yang terpaksa berpuasa. Kau tau, kan? Di Ibu Kota
binatang ternak tak ubahnya jarum di tumpukkan jerami. Yang perlu Aku
khawatirkan adalah lalat-lalat yang memenuhi saluran air dan tumpukkan sampah
yang jumlahnya mungkin setara dengan ternak-ternak di kampung.
Meskipun Aku sangat ingin pindah
ke Ibu Kota, namun Ibuku tak setuju dengan keinginanku. Katanya, Aku hanya akan
menjadi beban pemerintah di sana. Ibuku bilang, Aku hanya akan membuat Ibu Kota
semakin sesak saja. Beliau juga mengatakan, Aku akan merindukan suasana di
kampung saat musim hujan melanda Ibu Kota. Sebagian wilayah Ibu Kota akan
dilanda banjir saat musim hujan, sedangkan di kampungku tak pernah sekalipun
banjir. Betul juga kata-kata Ibuku. Walaupun Ibu Kota nampak memikat saat
kemarau, namun kampungku jauh lebih memikat saat musim hujan. Jika demikian
adanya, sepertinya Aku akan menetap di kampungku. Biarlah Ibu Kota tak perlu
menanggung beban karena kedatanganku. Cukuplah Ibu Kota menjadi tempat tinggal
bagi orang-orang yang memang terlahir di sana, bukan tempat bagi orang-orang
yang hanya menginginkan kesenangan sesaat sepertiku.
Diseruduk Banteng
Kawanku, Pernahkah Kau ‘diseruduk’ banteng?
Aku berharap bahwa tidak ada kawanku
yang pernah ‘diseruduk’ banteng. Tentunya ‘diseruduk’ banteng akan sangat
menyakitkan, apalagi jika banteng tersebut sedang kalap. Aku sendiri mengetahui
bahwasanya diseruduk banteng amat menyakitkan. Itu bukan berarti Aku pernah mengalami ‘nikmatnya’
diseruduk banteng. Aku tidak akan mau mengalami hal seperti itu.
Aku mengetahui bahwa orang yang ‘diseruduk’
banteng akan merasa kesakitan, karena
Aku pernah melihat tayangan di televisi tentang seorang gladiator yang
gagal menaklukkan bantengnya. Gladiator tersebut terjungkal cukup jauh
dan itu tentu saja menyakitkan. Dari ekspresi wajahnya, Aku tahu bahwa ‘diseruduk’
banteng bukanlah suatu pengalaman yang akan diidamkan siapapun.
Kawanku, Aku juga pernah melihat
tayangan mengenai tumpukan suatu barang yang ‘diseruduk’ banteng. Apa yang
terjadi pada tumpukan barang tersebut menurutmu, Kawan? Roboh atukah tetap
tegak? Tentu saja barang-barang tersebut roboh dan bahkan ada beberapa yang
hancur. Kau tentu tidak akan percaya jika Kukatakan padamu barang-barang
tersebut tetap utuh, bukan?
Akhir-akhir ini, kita pastinya sudah
tidak asing lagi dengan berita mengenai bukit-bukit yang roboh. Maksudku, tentu
saja bukan roboh seperti tumpukan barang yang ‘diseruduk’ banteng. Yang Kumaksud
adalah bukit-bukit itu sekarang sudah lenyap, -rata-. Mereka hancur, lalu
lenyap karena ‘diseruduk’ banteng-banteng bertenaga mesin. Banteng bertenaga
mesin tersebut bahkan mempunyai kekuatan untuk menghancurkan yang lebih besar
daripada banteng asli yang sedang kalap.
Kawanku, Aku dan Kau tentu saja, telah
melihat begitu banyak tempat yang dulunya ditumbuhi bukit-bukit yang menghijau
sekarang sudah berganti rupa dan warna. Ada bukit yang dulunya sangat cantik,
sekarang sudah berganti menjadi pabrik-pabrik dengan cerobong asapnya yang tinggi.
Atau, ada pula bukit yang kini ditumbuhi perumahan, tentu saja setelah
permukaannya diratakan. Dan banyak lagi bukit-bukit yang berubah sekarang, yang
tak dapat Kusebut satu per satu.
Aku tentu saja ingin mencabuti
rumah-rumah atau pabrik-pabrik atau apapun yang tertanam di ‘bekas’
bukit-bukit, lantas menggantinya dengan pepohonan. Tapi, Aku ini bisa apa?
Proyek pembuatan perumahan dan pabrik-pabrik tersebut menghasilkan banyak uang
dan menyerap banyak tenaga. Jika saja Aku punya kuasa, Aku akan mengirim
banteng-banteng bermesin untuk menghancurkan mereka. Setelah itu, Aku akan
membuat lapangan pekerjaan baru. Tapi, sekali lagi, Aku ini bukan siapa-siapa.
Langganan:
Komentar (Atom)
Anak Kecil dan Ukulele itu...
Selepas Isya, gerimis kecil sisa hujan lebat sore itu masih mengguyur daerah tempat pemondokanku berada. Kala itu, Aku baru saja pulang d...
-
Manusia banyak sekali yang dianugerahi harta melimpah, paras rupawan, tubuh atletis, fisik sempurna dan anugerah lainnya dari Tuhan. Namun...
-
Lagu cinta untuk-Mu Dinginnya tetesan air suci, tenangkan jiwa dan ragaku Dengannya, ku basuh diri ini Tuk sejenak ku bebaskan di...
-
Ibu, hari ini Aku ada tugas kuliah untuk dikumpulkan esok hari. Tugasnya banyak sekali, Bu. Kalau tidak Ku selesaikan hari ini, besok past...