Kawanku, pernahkah kau merasa kecewa?
Aku yakin Kau pernah merasakannya, karena Aku pun pernah. Sebagai manusia tentu
saja terasa wajar saat kita merasa kecewa. Yang tidak wajar adalah saat kita
tak bisa menerima keadaan yang mengecewakan kita, lantas membuat kita hancur
dan akhirnya menjadi manusia yang pesimis.
Saat kita gagal memperoleh sesuatu yang
kita inginkan, kita kerap kali mengeluh atau merasa kecewa. Terkadang bahkan
kita menyalahkan orang lain atas kegagalan kita. Atau bahkan menggerutu karena
Tuhan tak mengabulkan do’a dan usaha kita. Kawanku, tahukah Kau bahwa mungkin Tuhan justru sedang
memberikan kebaikan-Nya dengan membuat kita gagal? Tuhan lebih tahu apa yang
dibutuhkan hamba-Nya. Dia akan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa
yang kita inginkan.
Kawanku, di dunia ini selalu ada dua
sisi pada setiap kejadian, positif dan negatif. Saat kita merasa kecewa
berlarut-larut, berarti kita melihat suatu kejadian dari sisi negatifnya.
Sebaliknya, saat kita berani move on, berani bangkit meskipun sudah
dikecewakan, berarti kita mengambil sisi positif dari suatu kejadian.
Move on dari rasa
kecewa dapat membangkitkan kembali rasa optimis dalam diri kita, atau bahkan
meningkatkannya. Ketahuilah, saat kita gagal berarti kita belum berusaha
semaksimal mungkin. Oleh karena itu, tak pantas rasanya jika kita
berlarut-larut dalam kekecewaan dan menganggap diri kita tak pantas gagal.
Kawanku yang baik, sebenarnya cara kita melihat hasil usaha kita dapat diibaratkan
seperti melihat bunga mawar. Saat kita merasa kecewa atas kegagalan yang kita
peroleh, kita seperti melihat mawar sebagai bunga yang jahat karena yang
dilihat adalah durinya. Sebaliknya, saat kita selalu berpikiran positif
meskipun gagal, berarti yang kita lihat adalah mahkota bunga mawar yang indah,
meskipun ia memang berduri.
Kawanku yang baik, maukah Kau melihat
bunga mawar hanya pada mahkotanya yang indah, tanpa pedulii dengan durinya ?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar