Selepas Isya, gerimis kecil sisa hujan lebat sore itu masih mengguyur daerah tempat pemondokanku berada. Kala itu, Aku baru saja pulang dari kampus, berjalan kaki. Maklum saja, hujan lebat yang mengguyur sejak sore dan keteledoranku karena tidak membawa payung ataupun jas hujan memaksaku untuk terlambat pulang. Mendekati pemondokan, aku memperlambat langkahku karena gerimis semakin mengecil.
Pemondokanku terletak di daerah padat penduduk. Maklum saja, di daerah tersebut banyak didapati pemondokan mahasiswa. Saking padatnya daerah tersebut oleh pemondokan, jumlah pohon yang ada di sini mungkin bisa dihitung dengan jari. Selain pemondokan, warung makan, laundry dan burjo (warung mie-red) bertebaran pula di daerah ini. Bahkan, di samping pemondokanku pun terdapat sebuah burjo.
Aku sudah sampai di depan pemondokan ketika kudengar petikan ukulele diiringi sebuah lagu yang dipopulerkan oleh penyanyi legendaris Ebiet G. Ade. Aku menengok ke sumber suara. Tampak seorang anak lelaki berusia sekitar 10 tahun sedang menyanyikan lagu tersebut di depan burjo dengan suara sumbangnya.
Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan,
Sayang engkau tak duduk di sampingku kawan
Banyak cerita yang mestinya kau saksikan
Di tanah kering bebatuan
Mendengar lagu tersebut dinyanyikan oleh seorang pengamen kecil, Aku jadi merenung. Betapa ia yang masih kecil, sudah menempuh perjalanan yang cukup berat. Aku tak tahu apakah ketika ia menyanyikan lirik “Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan”, ia merasa sedih atau tidak. Yang pasti, akulah yang merasa sedih.
Anak-anak kecil, belum saatnya untuk bekerja terlalu keras apalagi bekerja hingga malam menjelang. Pekerjaan mengamen menurut pendapatku pribadi adalah salah satu pekerjaan berat. Seorang pengamen harus berjalan dari satu tempat ke tempat lain, bernyanyi sepanjang waktu, yang pastinya membutuhkan banyak energi. Apalagi, terkadang mereka bernyanyi dan tak mendapatkan rupiah seperti yang diharapkannya.
Bukan hanya sekali aku melihat anak kecil yang mengamen. Selama menempuh pendidikan tinggi di kota ini, beberapa kali aku melihat anak usia sekolah yang mengamen atau bekerja lainnya, bahkan di waktu ketika anak-anak seharusnya pergi ke sekolah. Betapa mirisnya kondisi tersebut.
Iqbal Masih, salah seorang aktivis asal Pakistan sebelum meninggal dunia pernah mengatakan “Children should have pen in their hands, not tools”. Anak-anak seharusnya belajar, bukan bekerja. Ya, anak-anak memang pada dasarnya harus menikmati masa kanak-kanaknya, bersekolah, belajar dan bermain bersama kawan-kawan. Ada masanya ketika anak-anak tersebut akan bekerja, yaitu ketika mereka dewasa nanti.
Orang tua yang bertanggung jawab dalam mendidik anak-anaknya, seharusnya tidak membiarkan anak-anak mereka untuk bekerja terlalu berat. Selain itu, orang tua juga berkewajiban untuk memberikan pendidikan yang sebaik-baiknya bagi anak-anaknya. Jika alasan mereka membiarkan anak-anaknya bekerja berat karena tak mampu menyekolahkan mereka, bukankah negara menjamin hak setiap warganya untuk memperoleh pendidikan? Dan jika alasan orang tua adalah untuk mendidik anak-anaknya untuk mandiri, aku tak menyalahkan mereka. Akan tetapi, ada banyak cara yang mungkin dapat dilakukan, bukan dengan membiarkan mereka bekerja di waktu sekolah atau bekerja hingga malam menjelang.
Semoga kelak tidak kulihat lagi anak-anak yang bekerja berat di waktu sekolah atau bekerja hingga malam menjelang.
Purwokerto, 11 Desember 2019
Tidak ada komentar:
Posting Komentar