Sabtu, 16 November 2019

Menjadi Seorang Wanita

Dulu, seringkali kudengar kalimat seperti ini:
"Kamu itu wanita, untuk apa sekolah tinggi-tinggi?" atau "Kamu itu wanita, tahu apa Kau tentang...?" dan beberapa kalimat bernada menyudutkan lainnya.

Lalu, yang jadi pertanyaan:
Apakah seorang wanita tidak boleh sekolah setinggi-tingginya?
Atau sebagai seorang wanita, apakah kami tak boleh tahu mengenai apapun?

Menurut pendapat Saya sendiri, seorang wanita berhak untuk menempuh pendidikan hingga jenjang apapun asalkan Ia tidak menghilangkan kodratnya sebagai seorang wanita. Misalnya, dengan alasan mengejar pendidikan seorang wanita rela untuk meninggalkan suaminya dan tidak merawat anaknya. Padahal, bukankah seorang anak akan lebih baik jika yang merawat dan mengasuhnya adalah ibunya sendiri? Dan sebagai seorang istri, bukankah seorang wanita mempunyai kewajiban yang harus Ia tunaikan terhadap suaminya?

Ada sebuah pepatah yang menyebutkan bahwa wanita adalah tiang negara. Apabila wanitanya rusak, maka rusak pula negaranya. Mengapa demikian? Kita ketahui bahwa wanitalah yang nantinya akan melahirkan generasi baru, merawatnya dan mendidiknya. Apabila seorang wanita memiliki pendidikan yang baik, akhlak yang baik, ditambah dengan pemahaman agama yang baik, bukan tidak mungkin Ia akan mampu melahirkan generasi penerus bangsa yang baik pula, dan berlaku pula sebaliknya. Jadi, tak masalah jika seorang wanita ingin menempuh pendidikan yang setinggi-tinginya, bukan? Asalkan, Ia mampu menjaga kehormatannya sebagai seorang wanita.

Dalam sebuah hadist disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,
“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim” (HR. Ibnu Majah no. 224, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan Al Albani dalam Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir no. 3913).

Hadist tersebut menegaskan bahwa menuntut ilmu diwajibkan atas semua muslim, artinya baik pria maupun wanita diwajibkan untuk menuntut ilmu. Menuntut ilmu dilakukan untuk mencari suatu kebenaran. Apabila seorang wanita sudah menuntut ilmu, bukankah wajar jika Ia mengetahui tentang suatu kebenaran? Jadi, kalimat "Kamu itu wanita, tahu apa Kau tentang...?" tidak selayaknya ditanyakan kepada seorang wanita, karena siapa tahu Ia memang mengetahui apa yang tidak Engkau ketahui.

Mulianya Seorang Wanita

Seorang wanita akan memperoleh kemuliaan yang tidak akan diperoleh oleh seorang pria, yaitu sebagai seorang ibu. Dalam sebuah hadist disebutkan bahwa orang yang wajib untuk dihormati pertama kali oleh seorang anak adalah ibunya, bahkan kata 'Ibu' disebutkan sebanyak tuga kali.

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.'” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548).

Dalam agama Islam, seorang wanita juga amat dimuliakan. Salah satu contoh betapa dimuliakannya seorang wanita dalam Islam adalah diwajibkannya seorang wanita untuk mengenakan hijab. Kewajiban tersebut sebagai cara Islam untuk menjaga wanita dari pandangan mata laki-laki yang merendahkan martabatnya, menjaga kemuliaanya, serta untuk mengangkat derajatnya sebagai seorang wanita.

Allah ta'ala berfirman
"Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnyake seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzâb [33]: 59).

Purwokerto, 16 November 2019


Referensi



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Anak Kecil dan Ukulele itu...

Selepas Isya, gerimis kecil sisa hujan lebat sore itu masih mengguyur daerah tempat pemondokanku berada. Kala itu, Aku baru saja pulang d...