Sabtu, 14 Desember 2019

Anak Kecil dan Ukulele itu...


Selepas Isya, gerimis kecil sisa hujan lebat sore itu masih mengguyur daerah tempat pemondokanku berada. Kala itu, Aku baru saja pulang dari kampus, berjalan kaki. Maklum saja, hujan lebat yang mengguyur sejak sore dan keteledoranku karena tidak membawa payung ataupun jas hujan memaksaku untuk terlambat pulang. Mendekati pemondokan, aku memperlambat langkahku karena gerimis semakin mengecil.

Pemondokanku terletak di daerah padat penduduk. Maklum saja, di daerah tersebut banyak didapati pemondokan mahasiswa. Saking padatnya daerah tersebut oleh pemondokan, jumlah pohon yang ada di sini mungkin bisa dihitung dengan jari. Selain pemondokan, warung makan, laundry dan burjo (warung mie-red) bertebaran pula di daerah ini. Bahkan, di samping pemondokanku pun terdapat sebuah burjo.

Aku sudah sampai di depan pemondokan ketika kudengar petikan ukulele diiringi sebuah lagu yang dipopulerkan oleh penyanyi legendaris Ebiet G. Ade. Aku menengok ke sumber suara. Tampak seorang anak lelaki berusia sekitar 10 tahun sedang menyanyikan lagu tersebut di depan burjo dengan suara sumbangnya.

Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan,
Sayang engkau tak duduk di sampingku kawan
Banyak cerita yang mestinya kau saksikan
Di tanah kering bebatuan

Mendengar lagu tersebut dinyanyikan oleh seorang pengamen kecil, Aku jadi merenung. Betapa ia yang masih kecil, sudah menempuh perjalanan yang cukup berat. Aku tak tahu apakah ketika ia menyanyikan lirik “Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan”, ia merasa sedih atau tidak. Yang pasti, akulah yang merasa sedih.

Anak-anak kecil, belum saatnya untuk bekerja terlalu keras apalagi bekerja hingga malam menjelang. Pekerjaan mengamen menurut pendapatku pribadi adalah salah satu pekerjaan berat. Seorang pengamen harus berjalan dari satu tempat ke tempat lain, bernyanyi sepanjang waktu, yang pastinya membutuhkan banyak energi. Apalagi, terkadang mereka bernyanyi dan tak mendapatkan rupiah seperti yang diharapkannya.

Bukan hanya sekali aku melihat anak kecil yang mengamen. Selama menempuh pendidikan tinggi di kota ini, beberapa kali aku melihat anak usia sekolah yang mengamen atau bekerja lainnya, bahkan di waktu ketika anak-anak seharusnya pergi ke sekolah. Betapa mirisnya kondisi tersebut.

Iqbal Masih, salah seorang aktivis asal Pakistan sebelum meninggal dunia pernah mengatakan “Children should have pen in their hands, not tools”. Anak-anak seharusnya belajar, bukan bekerja. Ya, anak-anak memang pada dasarnya harus menikmati masa kanak-kanaknya, bersekolah, belajar dan bermain bersama kawan-kawan. Ada masanya ketika anak-anak tersebut akan bekerja, yaitu ketika mereka dewasa nanti.

Orang tua yang bertanggung jawab dalam mendidik anak-anaknya, seharusnya tidak membiarkan anak-anak mereka untuk bekerja terlalu berat. Selain itu, orang tua juga berkewajiban untuk memberikan pendidikan yang sebaik-baiknya bagi anak-anaknya. Jika alasan mereka membiarkan anak-anaknya bekerja berat karena tak mampu menyekolahkan mereka, bukankah negara menjamin hak setiap warganya untuk memperoleh pendidikan? Dan jika alasan orang tua adalah untuk mendidik anak-anaknya untuk mandiri, aku tak menyalahkan mereka. Akan tetapi, ada banyak cara yang mungkin dapat dilakukan, bukan dengan membiarkan mereka bekerja di waktu sekolah atau bekerja hingga malam menjelang. 

Semoga kelak tidak kulihat lagi anak-anak yang bekerja berat di waktu sekolah atau bekerja hingga malam menjelang.

Purwokerto, 11 Desember 2019

Sabtu, 16 November 2019

Menjadi Seorang Wanita

Dulu, seringkali kudengar kalimat seperti ini:
"Kamu itu wanita, untuk apa sekolah tinggi-tinggi?" atau "Kamu itu wanita, tahu apa Kau tentang...?" dan beberapa kalimat bernada menyudutkan lainnya.

Lalu, yang jadi pertanyaan:
Apakah seorang wanita tidak boleh sekolah setinggi-tingginya?
Atau sebagai seorang wanita, apakah kami tak boleh tahu mengenai apapun?

Menurut pendapat Saya sendiri, seorang wanita berhak untuk menempuh pendidikan hingga jenjang apapun asalkan Ia tidak menghilangkan kodratnya sebagai seorang wanita. Misalnya, dengan alasan mengejar pendidikan seorang wanita rela untuk meninggalkan suaminya dan tidak merawat anaknya. Padahal, bukankah seorang anak akan lebih baik jika yang merawat dan mengasuhnya adalah ibunya sendiri? Dan sebagai seorang istri, bukankah seorang wanita mempunyai kewajiban yang harus Ia tunaikan terhadap suaminya?

Ada sebuah pepatah yang menyebutkan bahwa wanita adalah tiang negara. Apabila wanitanya rusak, maka rusak pula negaranya. Mengapa demikian? Kita ketahui bahwa wanitalah yang nantinya akan melahirkan generasi baru, merawatnya dan mendidiknya. Apabila seorang wanita memiliki pendidikan yang baik, akhlak yang baik, ditambah dengan pemahaman agama yang baik, bukan tidak mungkin Ia akan mampu melahirkan generasi penerus bangsa yang baik pula, dan berlaku pula sebaliknya. Jadi, tak masalah jika seorang wanita ingin menempuh pendidikan yang setinggi-tinginya, bukan? Asalkan, Ia mampu menjaga kehormatannya sebagai seorang wanita.

Dalam sebuah hadist disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,
“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim” (HR. Ibnu Majah no. 224, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan Al Albani dalam Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir no. 3913).

Hadist tersebut menegaskan bahwa menuntut ilmu diwajibkan atas semua muslim, artinya baik pria maupun wanita diwajibkan untuk menuntut ilmu. Menuntut ilmu dilakukan untuk mencari suatu kebenaran. Apabila seorang wanita sudah menuntut ilmu, bukankah wajar jika Ia mengetahui tentang suatu kebenaran? Jadi, kalimat "Kamu itu wanita, tahu apa Kau tentang...?" tidak selayaknya ditanyakan kepada seorang wanita, karena siapa tahu Ia memang mengetahui apa yang tidak Engkau ketahui.

Mulianya Seorang Wanita

Seorang wanita akan memperoleh kemuliaan yang tidak akan diperoleh oleh seorang pria, yaitu sebagai seorang ibu. Dalam sebuah hadist disebutkan bahwa orang yang wajib untuk dihormati pertama kali oleh seorang anak adalah ibunya, bahkan kata 'Ibu' disebutkan sebanyak tuga kali.

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.'” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548).

Dalam agama Islam, seorang wanita juga amat dimuliakan. Salah satu contoh betapa dimuliakannya seorang wanita dalam Islam adalah diwajibkannya seorang wanita untuk mengenakan hijab. Kewajiban tersebut sebagai cara Islam untuk menjaga wanita dari pandangan mata laki-laki yang merendahkan martabatnya, menjaga kemuliaanya, serta untuk mengangkat derajatnya sebagai seorang wanita.

Allah ta'ala berfirman
"Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnyake seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzâb [33]: 59).

Purwokerto, 16 November 2019


Referensi



Rabu, 04 September 2019

Aku, Seorang Perempuan

Gerimis pertama di akhir Agustus ini cukup menyejukkan. Hawa di dalam bus jurusan Sidareja-Purwokerto yang kutumpangi menjadi sedikit dingin, meskipun aroma debu menyeruak memenuhi rongga hidungku. Gerimis pertama selalu membuat udara penuh aroma debu. Dengar-dengar, gerimis pertama dan aromanyat tidak baik untuk kesehatan. Namun, aku belum tau pasti tentang kebenarannya.
Sejak dulu aku suka hujan. Waktu masih anak-anak, aku suka sekali mandi di bawah guyuran hujan sambil berlarian di halaman rumah. Rasanya aku seperti terbebas dari masalah apapun. Sekarang, saat aku memasuki usia dewasa, aku tak lagi mandi di bawah hujan. Sebagai penggantinya, aku selalu menyempatkan diri untuk  memandang hujan, lama. Bagiku sekarang, hujan ibarat obat sekaligus penyayat luka. Terkadang, saat memandang hujan air mataku tak sadar menetes. Alasannya sepele. Aku ingat masa lalu yang bagiku menyakitkan, misalnya saat aku harus kehilangan sandal kesayanganku terbawa air selokan  -saat hujan deras-. Atau  terkadang aku bisa tersenyum ceria. Alasannya, karena saat itu aku ingat bahwa aku pernah terpeleset saat hujan. Sepele sekali.
Seperti saat ini, saat aku  duduk di bangku nomer 3 baris sebelah kiri bus yang kutumpangi. Bus nomer 23. Aku sedang merenungi perjalanan hidupku selama 3 tahun ini, seraya memandang hujan melalui kaca jendela bus. Di sebelahku, ada seorang Ibu setengah baya yang kulihat hendak menengok cucunya. Beliau membawa banyak mainan anak-anak, jadi kusimpulkan bahwa beliau hendak menengok cucunya. Mengenai kebenarannya, aku tak tau pasti.
Selama tiga tahun ini, Aku sedang menempuh jenjang pendidikan strata satu di salah satu universitas negeri di Kota Satria. Aku mengambil salah satu program studi di Fakultas Pertanian. Itu karena aku berkeinginan untuk menjadi seorang petani dan ingin membantu memajukan pertanian di desaku. Yah, mudah-mudahan keinginanku itu dapat terkabul.
Bus yang kutumpangi terus melaju, pelan. Bus sudah tak berada di wilayah Kota Satria lagi, sudah memasuki Ajibarang. Hujan sudah hampir reda di wilayah ini, hanya menyisakan rintik-rintik gerimis. Aku menghela nafas, panjang. Sebenarnya aku kurang nyaman saat harus pulang kampung. Bisikan-bisikan miring tetangga, lirikan sinis mereka, ahh aku tak suka itu semua. Tapi, kemarin sore Ibu menelponku. Katanya, sepupuku mau menikah hari ini, jadi beliau memintaku menyempatkan diri untuk pulang. 
Aku ingat, 3 tahun yang lalu saat aku memutuskan untuk kuliah banyak tetangga yang berkomentar negatif.
"Eh, Fatima. Buat apa sih kuliah? Kamu toh perempuan, nanti kerjamu ya cuma ngurus anak, ngurus suami, ngurus dapur. Lagi pula, bapakmu itu kan cuma buruh tani. Mau kuliah pakai duit siapa nanti?", Ucap salah seorang tetangga.
"Iya, Fat. Toh, nanti kalau kamu sekolah terus, kamu bisa lupa nikah lho. Bisa jadi perawan tua kamu", sahut tetangga yang lain dengan nada bijak.
Aku hanya tersenyum, tetap diam. Mereka hanya tidak tau atau tidak mau tau kalau aku mendapat beasiswa dari pemerintah dan itu meliputi biaya hidup. Padahal, ibuku sudah memberitahu mereka bahwa aku kuliah dengan uang beasiswa, tapi ya namanya manusia. Mungkin mereka lupa.
Memasuki tahun kedua kuliah, komentar-komentar negatif dari tetangga saat aku pulang kampung sudah berbeda lagi. Mereka sudah tau kalau aku mengambil program studi pertanian, maka itulah yang menjadi sasaran komentar negatif mereka.
"Fatima, orang lain kuliah mengambil jurusan kedokteran, keguruan atau jurusan yang nanti bisa kerja di bank. Lah, kok kamu malah jurusannya pertanian? Wong mau jadi petani saja kok musti kuliah?", ucap salah seorang tetangga, masih kerabat.
"Iya, lha wong kakek buyutmu saja tidak kuliah bisa kok nanam padi", sahut tetangga yang lain. Kali ini seorang bapak.
Aku masih tetap tersenyum dan diam. Jika kujawab pertanyaan mereka, aku justru akan dianggap melawan orang tua. Mereka hanya tidak tau, kalau aku ingin belajar pertanian, agar kelak aku bisa turut memajukan pertanian di desaku. Semoga saja saat itu segera datang.
Bus nomer 23 masih terus melaju. Kali ini sudah memasuki terminal Wangon. Bus berhenti sejenak dan seorang pedagang asongan bergegas naik, berharap ada pembeli yang mau membeli dagangannya. Aku membeli sebotol air mineral ukuran sedang karena persediaan minumku sudah habis. Harganya 5000 rupiah, hampir dua kali lipat harga normal. Tak apa, hitung-hitung sebagai upah beliau mondar-mandir naik-turun bus.
Ibu di sebelahku kini tertidur. Aku masih mengingat-ingat komentar-komentar negatif tetanggaku, meskipun di Wangon tidak turun hujan. Sejenak kemudian bus kembali melaju. Kali ini dengan kecepatan yang lebih tinggi dari sebelumnya.
Aku kembali mengulang percakapanku dengan salah seorang tetangga sebulan yang lalu saat aku terakhir pulang. Percakapan itu terkait dengan pakaian yang aku kenakan sekarang. Kini aku mulai belajar untuk berpakaian selayaknya seorang muslimah sesungguhnya. Memakai pakaian panjang, memakai rok/gamis,  memakai kaos kaki dan memakai kerudung lebar. Beberapa tetangga mengira kalau aku terseret ke dalam aliran sesat.
Dengan nada keibuan, salah seorang tetangga menasihati, "Fat, kamu itu kenapa? Kok sekarang pakaiannya seperti ini? Kaya yang dipakai teroris-teroris itu lho..".
"Lho, memangnya bibi pernah melihat teroris?", Aku menyahut sembari tersenyum.
"Ya, belum sih. Tapi itu lho, di TV-TV kan ada beritanya", jawabnya dengan nada bersemangat.
"Ah, Bibi. Tidak semua yang ditayangkan di TV itu betul. Seorang perempuan muslimah ya memang harus berpakaian seperti ini, Bi. Kan aurat perempuan itu kecuali wajah dan telapak tangan. Jadi, kaki juga harus ditutupi. Ditambah lagi, perempuan kan tidak boleh memakai pakaian yang menunjukkan lekuk tubuh, jadi ya harus pakai gamis atau rok",  aku menjawab dengan penuh keyakinan.
"Hmmm. Tapi kok ya, umumnya di sini bukan seperti itu, Fat", jawabnya seraya menggeleng.
Aku tersenyum mengingat percakapan itu. Memang, suatu perubahan meskipun mengarah ke hal yang positif akan sulit diterima oleh masyarakat. Butuh waktu lama agar masyarakat mau menerima perubahan itu.
"Mba, kenapa tho? Kok daritadi saya lihat mba'nya melamun?", penumpang di sebelahku menyapa. Ternyata daritadi beliau sudah terbangun dan memperhatikanku.
"Tidak apa-apa kok Bu, hanya sedang mengingat sesuatu", sahutku sambil tersenyum. Kuperhatikan wajah ibu di sebelahku. Beliau berwajah manis dengan mata indah yang begitu bening. Mungkin beliau seusia ibuku.
"Mba'nya mau ke mana? Kok sendirian?", Tanyanya dengan wajah tersenyum.
"Saya mau pulang ke rumah Bu, sepupu saya mau menikah", jawabku jujur.
"Owalaah. Mba'nya masih sekolah atau sudah kerja? Saya lihat mba'nya bawa tas besar", kali ini beliau bertanya dengan nada penasaran.
"Saya masih kuliah, Bu. Di Purwokerto. Ibu nanti turun di mana?", Aku bertanya. Sekadar basa-basi.
"Oooh, masih kuliah tho. Alhamdulillah kalau mba'nya punya keinginan untuk kuliah padahal perempuan. Perempuan itu mba, memang harus berpendidikan. Harus sekolah yang tinggi, biar nanti bisa mendidik anak-anaknya dengan baik dan tidak mengandalkan didikan guru di sekolah. Tidak usah peduli dengan anggapan masyarakat yang mengatakan bahwa tugas perempuan hanya di dapur, sumur dan kasur, sehingga tidak perlu sekolah tinggi. Itu anggapan orang zaman dulu. Sekarang zaman sudah berubah, mba. Saya lihat mba'nya juga pakaiannya rapi, beda dari perempuan kebanyakan, apalagi yang seumuran mba'nya. Perempuan, apalagi seorang muslimah memang harus berpakaian rapi, menutup aurat, bukan hanya membungkusnya. Saya do'akan semoga mba'nya bisa sukses dunia akhirat, bisa membahagiakan orang tua. Saya ini sebentar lagi turun mba, di pertigaan sana", Si Ibu menjawab seraya menunjuk pertigaan yang sebentar lagi, sekitar 200 meter akan kami lewati.
"Aamiin, terima kasih banyak atas nasihatnya, Bu. Semoga Allah selalu melindungi Ibu. Dan hati-hati di jalan, Bu", ucapku tulus.
"Aamiin ya rabbal'aalamiin", Ibu itu tersenyum seraya melangkahkan kaki ke dekat pintu bus, "Saya berhenti di pertigaan depan, Pak. Mari, mba".
"Mari, Bu. Hati-hati", aku mengangguk dan tersenyum pada beliau.
Bus kembali melaju dan aku kembali merenung. Bukan merenungkan komentar negatif tetanggaku, tetapi merenungkan ucapan penumpang di sebelahku tadi. Ya, Ibu itu benar. Aku memang seorang perempua

Minggu, 01 September 2019

Satu Jam di Bus Nomer 10


Surya begitu terik menyinari jalanan di sepanjang Kota Satria. Peluh sedari tadi sudah mengucur deras di pipiku. Untunglah aku tak memakai make up, jadi tak perlu khawatir kalau-kalau make upku luntur.
Sudah setengah jam aku menunggu bus jurusan Sidareja-Purwokerto di tepi Jalan Gerilya ini, tapi tak kunjung datang juga. Entahlah. Mungkin bus-bus juga enggan berjalan lantaran jalanan begitu terik. Mungkin mereka takut kalau-kalau ban mereka nanti meleleh terkena panasnya jalanan.
Bumbumbum
Dari kejauhan kudengar suara bus mendekat. Aku reflek menengok dan kulihat bus bercat biru-putih yang sedari tadi kutunggu akhirnya datang juga. Papan nama Sidareja-Purwokerto yang terpampang di kepala bus tampak sudah pucat dimakan usia. Karat di badan bus yang mencoba disamarkan oleh sang empunya dengan cat baru ternyata tak berhasil menyamarkan usia tuanya. Aku terkadang penasaran, berapa usia bus itu? Apakah dia sudah memasuki masa remaja untuk usia manusia? Mungkin saja. 
Aku segera melambaikan tangan untuk menghentikan bus. Bus segera berhenti tepat di depanku berdiri. Aku segera melompat naik ke dalam bus. Kuedarkan pandangan ke seluruh bus, ternyata hanya tersisa satu bangku kosong. Bangku ke dua, baris sebelah kiri. Mau tak mau, aku harus duduk di bangku itu. Di sebelahnya, kulihat seorang pemuda sedang asyik membaca buku. Dia terus saja menunduk melihat kedatanganku. Yang bergerak hanya tangannya, meletakkan tas ranselnya tepat di sebelahnya. Mungkin Ia ingin agar kami tak saling bersentuhan selama di jalan nanti. Dalam hati aku tersenyum, ternyata masih ada pemuda seperti itu di zaman ini.  
Bus kembali berjalan. Pelan saja. Khas bus kecil jurusan pedesaan. Dalam hati aku merutuk -kenapa tidak cepat saja jalannya?-. Lalu aku teringat, bus ini sudah tua, kalau dibawa jalan cepat mungkin saja di tengah jalan nanti batuk lalu mati mesin dan akhirnya penumpang harus diturunkan ditengah jalan. Ahhh, Aku tidak mau kalau harus diturunkan di tengah jalan. Ya sudahlah aku terima saja meski bus berjalan pelan sekali.
Penumpang di sebelahku masih saja asyik dengan bukunya. Aku penasaran dengan apa yang ia baca. Kukirikkan mataku melihat halaman yang sedang ia baca. Bukan niatku untuk berlaku tidak sopan, hanya saja aku penasaran. Sebuah pembelaan untuk sebuah kesalahan yang tidak ingin disebut sebagai suatu kesalahan. Biarlah, lagi pula siapa tau nanti Ia merasa terganggu lalu matanya lepas sejenak dari bukunya. Ah, aku mulai berkhayal.
"Sungguh Konstantinopel akan ditaklukkan. Sebaik-baik pemimpin adalah penakluknya dan sebaik-baik pasukan adalah pasukannya" (H.R. Ahmad)
Itulah penggalan hadist yang ada di buku yang Ia baca. Aku tau, itu adalah buku tentang Sultan Al-Fatih, Sang Penakluk Konstantinopel. Aku tau kisahnya dari guruku di madrasah, juga dari buku karya Syaikh Ramzi Al-Munyawi yang aku beli setahun lalu.
Bus berhenti di perempatan, lampu merah. Seorang pengamen berusia 17 tahun naik membawa ukulelenya. Sebenarnya Aku tak tau pasti umurnya, tapi aku hanya menebak saja. Mungkin saja ia masih 15 tahun atau bahkan sudah 23 tahun. Entahlah, yang pasti aku menganggapnya 17 tahun 
Wahai bapak, wahai ibu, wahai para Budiman
Saya datang membawa sebuah lagu
Demi sedikit rupiah dari bapak dan ibu
Mudah-mudahan bapak dan ibu berkenan
Memberi sedikit rejeki kepada saya
Saya tidak memaksa, tapi kalau sampai tak mengasih ya kebangetan
Apalagi kalau sampai pura-pura
Pura-pura tak mendengar atau pura-pura tidur
Di akhiri dengan petikan ukulele yang tak bermelodi, pengamen 17 tahun itu mulai berkeliling menyodorkan bungkus permen terbalik ke suluruh penumpang. Aku penasaran. Mengapa harus bungkus permen yang dipakai, dan mengapa mesti dibalik? 
Pengamen itu sampai di bangkuku. Aku melambaikan tangan, enggan memberi. Tapi ia tetap saja berdiri di sebelahku. Enggan pergi sebelum aku memberinya uang. Ahh. Kau bilang tidak memaksa, tapi dari caramu tetap berdiri di sampingku aku tau engkau memaksa. Aku paling enggan kalau harus mengeluarkan uang untuk pengamen, ya walaupun sekadar koin lima ratusan.
"Ini mas, dari saya dan mba di sebelah saya", sebuah tangan terulur dari sebelahku. Aku reflek menengok dan Ia tersenyum sedikit, lalu asyik lagi dengan bukunya.
Dalam anganku, ada banyak percakapan setelah itu.
"Aduh, maaf mas. Saya jadi nggak enak. Sudah merepotkan", ucapku malu-malu.
"Ahh, tidak apa-apa. Sebenarnya saya juga jarang kasih uang ke pengamen. Cuma tadi saya lihat pengamannya agak pemaksa, ya sudah saya kasih uang saja", Ia menjawab dengan senyum simpul.
"Aduuh, sekali lagi saya minta maaf ya, mas. Oh ya, saya lihat daritadi masnya asyik baca buku. Kalau boleh tau, buku apa ya mas? Jarang-jarang lho ada orang baca buku di bus", jawabku masih malu-malu.
Aku tersentak.
"Mba, mau turun di mana. Belum bayar kan?", kondektur yang tak paham suasana menganggu lamunanku seraya menepuk lenganku. Buyar sudah khayalanku.
Suasana bus kembali hening. Hanya ada suara dua ibu yang sedang bergosip di belakang tempat dudukku. Tentang sawahnya yang gagal panen, lalu tentang anak tetangganya yang hendak menikah dengan orang seberang. Ahh, kalau kuingat-ingat, sudah beberapa kali aku satu bus dengan salah satu ibu itu dan ceritanya selalu saja sama. Biarlah, suka-suka beliau saja.
Sudah setengah jam kami duduk. Tapi tetap saja tak ada percakapan barang sepatah dua patah kata. Aku ingin memulai percakapan, tapi aku terlalu malu untuk itu. Tidak, tidak. Aku tak pandai memulai percakapan. Ia pun hanya diam, tetap asyik dengan bukunya. Sesekali, ia menengok ke luar bus saat bus melewati tanah-tanah pertanian -sambil tersenyum-.
Bus kini sudah memasuki Pancasan, melewati bukit-bukit yang mesti dikosongkan demi pabrik semen. Dulu, waktu aku masih kecil aku sering melewati tempat ini. Dulu tempat ini hijau, menyejukkan mata saat dipandang. Tapi itu dulu.
Aku menghela nafas panjang. Sedih. Mengapa demi ego pembangunan, bukit-bukit itu yang harus jadi korban? Kutengok pemandangan menyedihkan itu melalui kaca jendela bus. Mataku hanya menatapnya nanar.
"Mba, kenapa? Kok matanya berkaca?", Ia bertanya padaku. Cemas.
"Ooh. Enggak mas, saya cuma sedih. Bukit-bukit itu harusnya tetap hijau", sahutku dengan nada setengah kaget.
"Ooh, itu. Iya sih. Tidak seharusnya bukit-bukit itu digunduli. Sejak bukit-bukit itu digunduli, udara di sini makin panas, mba. Itu kata teman saya yang rumahnya ada di belakang pabrik semen", Ia menyahut dengan pandangan menerawang, sambil menunjuk arah rumah temannya.
"Iya. Terkadang, atas nama pembangunan, semua harus tunduk pada tindakan yang sebenarnya tidak terlalu baik", aku kembali menghela nafas. Diam.
"Wangon, Wangon. Yang mau turun di Wangon atau mau ke Cilacap, siap-siap. Sebentar lagi sampai", terdengar teriakan kondektur yang nyaring dari belakang bus. Aku sampai terkaget.
"Permisi, mba. Saya mau turun", ia mengucapkan kalimat permisi itu seraya membangunkan ku dari lamunan.
Aku segera menyingkirkan kakiku dan memberinya jalan untuk lewat. Ia menjinjing ranselnya, tak lupa memasukkan bukunya seteleh ia tandai di halaman terakhir yang ia baca.
"Maaf mas, mau tanya. Nama mas, siapa ya?", Aku bertanya padanya setengah berteriak. Ia menengok sebentar, lalu menyebutkan namanya.
Ahh. Tapi itu hanya di dalam hati. Aku terlalu malu, bahkan hanya untuk mengangguk padanya.
Sekarang bus sudah berhenti di terminal Wangon, dan ia bergegas turun.

Sabtu, 31 Agustus 2019

Nadi di Lereng Muria

Malam hari, 12 Januari

Sayup-sayup kudengar suara adzan Isya di surau sebelah kosan. Aku segera bergegas mengambil wudhu, lalu kulangkahkan kakiku memenuhi panggilan Allah.
Selepas sholat dan mengadu pada Sang Pemilik Cerita, Aku kembali merenungkan percakapanku dengan Ruvita siang tadi. Kami berbincang tentang rencana kami untuk praktik kerja lapangan atau PKL yang akan dilakukan dua Minggu lagi. Ruvita yang akan PKL di salah satu balai penelitian besar di Bogor, sudah punya rencana yang harus dilakukan untuk pergi ke tempat PKL-nya, bahkan sudah memesan travel untuk ke sana dan sudah menemukan induk semang. Sedangkan Aku, entahlah. Boro-boro dapat induk semang, tempat PKL ku di sebelah mana saja Aku tidak tahu.
Siang tadi, saat Ruvita asyik menceritakan rencana-rencananya, Aku hanya diam mendengarkan dan sesekali menjawab 'iya' atau 'tidak' saat Ruvita bertanya. Aku mulai digerogoti keraguan, apakah aku akan lanjut PKL di liburan semester ini atau menunda hingga semester depan. Ah, tapi kalau kutunda, berarti aku juga harus menunda rencana KKN (kuliah kerja nyata). Tentu saja aku tak mau melakukan itu.
Aku kembali mengingat dua Minggu lalu saat aku tiba-tiba memutuskan untuk PKL di tempat itu, tepat di batas akhir pendaftaran tempat PKL. Awalnya kupilih Salatiga, tapi entah mengapa seperti ada yang membisikkan kata magis yang membuatku berubah haluan. Padahal aku sama sekali tak tau di mana tempat itu, bahkan nama kabupatennya saja hanya ku ketahui lewat peta Jawa Tengah yang pernah kulihat di atlas milikku dulu.
Pati. Itulah nama kabupaten yang kupilih untuk melaksanakan PKL. Namanya asing di telingaku, bahkan aku sempat takut mendengar namanya. Sebagai orang jawa, aku tahu bahwa Pati berarti mati. Yaah, mungkin arti kata itu hanya ada di benakku saja yang sebenarnya sedang cemas memikirkan bagaimana caranya aku akan ke Pati. Ya, Aku cemas. Bagaimana tidak? Jika teman-temanku memilih PKL di tempat yang sama dengan teman akrabnya, aku memilih sendirian. Ya....sendirian dan memilih tempat yang sangat asing.
Tiba-tiba layar ponselku menyala. Ada pesan masuk.
"Atin, kamu katanya mau PKL di Pati ya? Tadi Ahmad bilang ke Aku"
Itu pesan dari Eva.
"Iya, kenapa Va?", Aku balas pesan Eva seraya gemetar, berharap Eva juga PKL di Pati.
"Aku juga PKL di Pati tin, di Jakenan. Kalo kamu di mana? Kamu mau ke sana kapan? Mau bareng nggak? Kalo mau bareng, nanti aku pesenin travel, cuma nanti kita barengnya dari stasiun Tawang ya, soalnya aku berangkat dari Cirebon", Eva membalas pesanku panjang sekali.
Alhamdulillah. Ternyata benar dugaan ku, Eva juga PKL di Pati. Segera aku balas pesannya, "Aku di lereng Muria va. Kalo berangkat hari Kamis tgl 17 gimana? Soalnya aku mau mampir ke kantor pusat tempat PKL ku dulu tgl 18 pagi, terus ke patinya siangnya. Ada berkas yg harus dikumpulkan. Oke nanti ketemu di Tawang aja, tolong pesenin travelnya dulu".
"Oke deh tin. Oya, kamu udah dapet induk semang belum?"
Tanganku seketika lemas. Pesan Eva kubalas agak lam, "Belum Va, nanti aku nginep di kosan kamu dulu, besoknya tolong bilangin ke Ahmad aku minta diantar ke lereng Muria terus minta dibantu nyari induk semang. Makasih, va".
"Ooh, gitu. Oke deh tin. Sampe ketemu tgl 18 ya...😊"
Aku cemas lagi dan terus menerus memikirkan rencanaku nanti setelah sampai ke Pati. Aku terus berpikir dan akhirnya tertidur pulas.

Sore hari, 16 Januari

Aku berkemas untuk pergi ke Slawi, ke rumah Ruvita. Besok aku harus naik kereta ke Tawang pagi-pagi. Harusnya bisa saja aku berangkat dari Purwokerto, tapi karena kereta Purwokerto-Tawang berangkat jam 5 pagi, kuputuskan untuk berangkat dari Slawi. Sebuah keputusan yang agak konyol memang, karena membuatku harus bergegas ke Slawi sore ini, padahal belum packing sama sekali. Tapi ya, sudahlah. Aku sudah terlanjur bilang ke Ruvita kalau aku besok berangkat ke Tawang via Slawi.
Ketergesaan terkadang memicu masalah. Yaa..itulah yang aku alami. Aku tergesa memutuskan untuk ke Slawi menggunakan bus, padahal aku sama sekali belum pernah ke sana. Benar saja, di tengah jalan aku di turunkan dengan barang bawaan banyak, dan kulihat jam di ponsel sudah menunjukkan pukul 19. 15 wib. Sial. Kuberanikan bertanya pada seorang kakek yang kebetulan lewat di sebelahku, "Bapak, punten badhe tangled. Bis jurusan Slawi taksiih wonten nopo mboten nggih?" (Bapak, permisi mau tanya. Bis jurusan Slawi masih ada atau tidak, ya?)
 Sang kakek menjawab dengan raut muka cemas, " Taksiih, mba. Tapi sampun jarang. Mba'e didunke nggih?" (Masih mba, tapi sudah jarang. Mbaknya diturunkan, ya?)
"Nggih, Pak", aku tersenyum agak kakek yang baik ini tidak terlalu cemas.
"Sopir bis Saiki pada ora sopan. Mba'e niki perempuan. Kok didunke Nang tengah dalan wengi-wengi. Nggih sampun mba, mengkin kula tenggoni ngadhang bis dugi angsal nggih. Mangga nenggone ngajeng warung mawon". (Sopir bus sekarang tidak sopan. Mbaknya kan perempuan. Masa diturunkan di tengah jalan malam-malam begini. Ya sudah mba, nanti saya tunggui nunggu bis sampai dapat. Mari, nunggu bisnya di depan warung saja)
Alhamdulillah. Di tengah masalah, masih ada orang baik yang mau menolongku. Setelah menunggu sekitar satu jam, akhirnya bis ke arah slawi muncul juga. Aku berterima kasih kepada kakek yang baik hati itu dan berangkat ke slawi.

17 Januari

Aku bergegas menuju stasiun Slawi. 15 menit lagi kereta joglosemarkerto yang akan membawaku ke Tawang akan segera berangkat. Hatiku berdegup kencang. Ini adalah kali pertama aku naik kereta dan kota yang aku tuju adalah kota yang aku rindu -Semarang-.
Tuttuttut.....
Kereta melaju dengan kecepatan tinggi, namun aku seperti duduk di sebuah ruang tunggu saja. Rasanya kereta tak bergerak sama sekali.
Di sepanjang jalan, aku tak henti-hentinya menengok ke luar jendela kereta. Banyak hal menarik yang aku lihat, mulai dari persawahan, sungai, laut Jawa, bahkan perumahan kumuh. Ada seorang ibu yang duduk di hadapanku. Bersama putrinya, kuketahui bahwa beliau akan berkonsultasi mengenai skrispi dengan dosennya di Semarang. Ternyata beliau masih mahasiswa.
Sayup-sayup aku dengar dari pengeras suara kalau kereta sebentar lagi sampai di Tawang. Akhirnya....aku sampai di kota yang aku rindu menuju kota yang asing bagiku. Ya, walaupun aku masih cemas, setidaknya ada waktu satu hari untukku bersenang-senang di Semarang.

18 Januari

Urusanku dengan berkas-berkas PKL di kantor pusat selesai. Saatnya aku bergegas ke Tawang, bertemu Eva lalu berangkat ke pati.
Travel yang hendak membawa kami ke Pati ternyata sudah datang, tapi Eva belum datang. Terjebak macetnya Semarang, katanya. Untunglah sopir travelnya baik dan mau menunggu Eva.
Booom boom....
Travel berangkat dan selama dua jam setengah perjalanku ke Pati aku hanya diam. Masih cemas memikirkan rencana besok pagi untuk mencari letak pasti tempat PKL ku -sebuah kebun kopi peninggalan Belanda- di Lereng Muria. Sesekali aku mengajak Eva ngobrol untuk memecah keheningan.
"Va, Ahmad sama temannya -Putra- besok mau kan nganterin aku ke Lereng Muria? Aku cemas va, belum dapet induk semang", tanyaku ke Eva setelah beberapa saat hening.
"Iya tin, tapi katanya sore, soalnya mereka baru ke Pati sore. Mereka berangkat dari Kudus", Eva menjawab dengan nada khawatir.
"Ooh, gitu. Yaudah nggak papa"
Kami terdiam lagi.

Sore, 19 Januari

Ahmad dan Putra sudah berada di depan rumah induk semang Eva, siap mengantarku ke Lereng Muria. Aku juga sudah bersiap-siap. Eva yang awalnya tidak akan ikut, akhirnya memutuskan untuk ikut.
"Tin, Kamu tuh edan. Mau PKL tanggal 21 dan  sampai tanggal 19 belum dapat induk semang. Udah gitu belum tau lagi tempat PKL nya di mana. Ckck", Ahmad berdecak dengan nada heran. Putra mengangguk mengiyakan.
"Iya, mad. Aku memang edan", jawabku dengan nada getir.
"Hmm. Ya sudah ayo berangkat takutnya nanti kemalaman di jalan. Soalnya kita juga kan nggak tau tempatnya", putra berkata memecah keheningan yang sesaat melanda kami.
Kami berpamitan kepada induk semang Eva dan berangkat menuju Lereng Muria. Hanya mengandalkan petunjuk dari Google Maps dan kami mengendarai sepeda motor. Aku membonceng Eva dan Ahmad membonceng Putra. Ya....begitah cara kami menuju Lereng Muria
Perjalanan kami ternyata tidak mulus, meskipun kami mematuhi petunjuk dari Google Maps. Atau mungkin kami yang salah mengartikan petunjuk yang ada. Entahlah. Yang pasti beberapa kali kami salah jalan.
Kami melewati jalan raya Pantura, lalu perlahan kami memasuki jalanan yang lebih kecil. Kanan kiri kami perlahan berubah menjadi ladang dan sawah yang menghijau. Lalu, bukit-bukit terbntang di hadapan kami. Jalanan menanjak dan berkelok mulai menyambut.
Hari semakin gelap dan aku semakin cemas. Kami belum juga menemukan papan nama kebun kopi tujuan kami. Untunglah ketiga kawanku itu menenangkanku sepanjang perjalanan. Aku beruntung Allah mengirimkan mereka.

Pukul 17.30, menjelang Maghrib
Jalanan semakin menanjak, semakin mengecil. Untunglah pemerintah membuat jalanan ini mulus, sehingga kami tidak mengalami kesulitan mengendarai sepeda motor melewati jalanan ini. Kami terus melaju dan melaju hingga akhirnya perkebunan kopi terhampar di sepanjang jalan yang kami lalui.  Maa syaa Allah....di kanan dan kiri kami banyak sekali pohon kopi. Banyak pula tanaman jeruk pamelo dan jeruk keprok. Dalam hati aku mengucap sebuah ayat dari surah Arrahman. Fabiayyi aala irabbikuma tukadzdzibaan.
Tiba-tiba jalanan di depan kami buntu. Tidak ada lagi rumah atau kehidupan. Kami tiba di puncak bukit. Kami berenpat panik. Hari semakin gelap dan angin semakin kencang di sini. Pepohonan bergoyang kencang seperti ada badai. Untunglah, dari balik kegelapan ada sesosok bapak yang turun dari puncak bukit.
"Adik-adik ini mau ke mana?", Bapak itu bertanya terlebih dahulu kepada kami.
"Kami mau ke kebun kopi, Pak. Tapi kami malah sampai ke sini. Soalnya kami mengikuti peta, Pak. Kalau boleh tau, ini desa apa ya, Pak? Kok di pucuk bukit?", Ahmad yang sudah turun dari sepeda motor menyahut.
"Owalah. Mau ke kebun kopi tho? Ya ini kebun kopinya. Desa ini namanya Jollong, Dik", Si Bapak menjawab seraya tersenyum.
"Alhamdulillah", kami berempat menjawab serempak.
Ya. Jollong. Itulah namanya.
Sepotong tempat indah yang Allah ciptakan di Bumi Mina Tani. Sebuah nadi, di Lereng Gunung Muria.
Dan sejak saat ini, Aku jatuh cinta. Dengan Jollong, dengan Pati

Diam

Jam dinding berdetak,
cicak merayap,
berteriak
Diamlah !
Jam dinding menyahut,
malas
Biar sajalah...
Cicak berteriak,
marah
Kau mengganggu!
Jam dinding tersenyum,
sinis

Begitulah kita

Prihatini Puji Lestari
31 Agustus 2019

Jumat, 30 Agustus 2019

Senja di Perbatasan

Kali ini gubuk-gubuk tampak muram,
caping hanya tergantung saja di atas tiang bambu,
sedang burung pipit nampak sekarat di tepian sawah

Nyiur melambai,
bukan lambaian keras...
hanya lambaian gemulai sebagai tanda
Mengharap kasih dari sesosok makhluk,
bernama manusia

Menjelang senja,
bukan rona jingga yang menghias angkasa
Hanya kelabu
hingga pokok-pokok pisang nampak malu,
dan para nokturnal enggan berburu 


Senin, 14 Januari 2019

Jika Aku Memilih Diam

Aku hanyalah seorang gadis biasa, sama seperti gadis-gadis lainnya.
Tapi terkadang, entah mengapa Aku seperti terasingkan di tengah-tengah orang yang Ku pikir sama denganku.
Mereka tertawa, asyik bersenda gurau, sedangkan diriku hanya diam menatap segala kebahagiaan yang mereka pancarkan.
Aku bukannya enggan bergaul, hanya saja Aku merasa mereka tak mau berdekatan denganku. Mungkin ini hanya perasaanku, tapi entahlah.... Aku merasa mereka menganggapku aneh
Saat Aku berbicara, mereka entah mendengarkan atau tidak. Mereka hanya menatapku, seolah menganggap orang sepertiku tak seharusnya berbicara.
Saat Aku hanya diam, mereka menuduhku sombong, menganggapku anti sosial atau...entahlah hal buruk apalagi yang mereka katakan.
Kawan, jika Aku memilih diam...maka Aku hanya tidak ingin mengatakan sesuatu yang tak berguna
dan,
Jika Aku memilih untuk berbicara, Aku hanya ingin mengatakan suatu kebenaran
Kawan, Aku tak bermaksud untuk menyombongkan diri atau menjadi seorang anti sosial
Aku hanya ingin menjadi gadis biasa seperti kalian,
Hanya saja Aku akan tetap memilih diam jika tak ada hal baik yang perlu Ku bicarakan.

Anak Kecil dan Ukulele itu...

Selepas Isya, gerimis kecil sisa hujan lebat sore itu masih mengguyur daerah tempat pemondokanku berada. Kala itu, Aku baru saja pulang d...