Gerimis pertama di akhir Agustus ini cukup menyejukkan. Hawa di dalam bus jurusan Sidareja-Purwokerto yang kutumpangi menjadi sedikit dingin, meskipun aroma debu menyeruak memenuhi rongga hidungku. Gerimis pertama selalu membuat udara penuh aroma debu. Dengar-dengar, gerimis pertama dan aromanyat tidak baik untuk kesehatan. Namun, aku belum tau pasti tentang kebenarannya.
Sejak dulu aku suka hujan. Waktu masih anak-anak, aku suka sekali mandi di bawah guyuran hujan sambil berlarian di halaman rumah. Rasanya aku seperti terbebas dari masalah apapun. Sekarang, saat aku memasuki usia dewasa, aku tak lagi mandi di bawah hujan. Sebagai penggantinya, aku selalu menyempatkan diri untuk memandang hujan, lama. Bagiku sekarang, hujan ibarat obat sekaligus penyayat luka. Terkadang, saat memandang hujan air mataku tak sadar menetes. Alasannya sepele. Aku ingat masa lalu yang bagiku menyakitkan, misalnya saat aku harus kehilangan sandal kesayanganku terbawa air selokan -saat hujan deras-. Atau terkadang aku bisa tersenyum ceria. Alasannya, karena saat itu aku ingat bahwa aku pernah terpeleset saat hujan. Sepele sekali.
Seperti saat ini, saat aku duduk di bangku nomer 3 baris sebelah kiri bus yang kutumpangi. Bus nomer 23. Aku sedang merenungi perjalanan hidupku selama 3 tahun ini, seraya memandang hujan melalui kaca jendela bus. Di sebelahku, ada seorang Ibu setengah baya yang kulihat hendak menengok cucunya. Beliau membawa banyak mainan anak-anak, jadi kusimpulkan bahwa beliau hendak menengok cucunya. Mengenai kebenarannya, aku tak tau pasti.
Selama tiga tahun ini, Aku sedang menempuh jenjang pendidikan strata satu di salah satu universitas negeri di Kota Satria. Aku mengambil salah satu program studi di Fakultas Pertanian. Itu karena aku berkeinginan untuk menjadi seorang petani dan ingin membantu memajukan pertanian di desaku. Yah, mudah-mudahan keinginanku itu dapat terkabul.
Bus yang kutumpangi terus melaju, pelan. Bus sudah tak berada di wilayah Kota Satria lagi, sudah memasuki Ajibarang. Hujan sudah hampir reda di wilayah ini, hanya menyisakan rintik-rintik gerimis. Aku menghela nafas, panjang. Sebenarnya aku kurang nyaman saat harus pulang kampung. Bisikan-bisikan miring tetangga, lirikan sinis mereka, ahh aku tak suka itu semua. Tapi, kemarin sore Ibu menelponku. Katanya, sepupuku mau menikah hari ini, jadi beliau memintaku menyempatkan diri untuk pulang.
Aku ingat, 3 tahun yang lalu saat aku memutuskan untuk kuliah banyak tetangga yang berkomentar negatif.
"Eh, Fatima. Buat apa sih kuliah? Kamu toh perempuan, nanti kerjamu ya cuma ngurus anak, ngurus suami, ngurus dapur. Lagi pula, bapakmu itu kan cuma buruh tani. Mau kuliah pakai duit siapa nanti?", Ucap salah seorang tetangga.
"Iya, Fat. Toh, nanti kalau kamu sekolah terus, kamu bisa lupa nikah lho. Bisa jadi perawan tua kamu", sahut tetangga yang lain dengan nada bijak.
Aku hanya tersenyum, tetap diam. Mereka hanya tidak tau atau tidak mau tau kalau aku mendapat beasiswa dari pemerintah dan itu meliputi biaya hidup. Padahal, ibuku sudah memberitahu mereka bahwa aku kuliah dengan uang beasiswa, tapi ya namanya manusia. Mungkin mereka lupa.
Memasuki tahun kedua kuliah, komentar-komentar negatif dari tetangga saat aku pulang kampung sudah berbeda lagi. Mereka sudah tau kalau aku mengambil program studi pertanian, maka itulah yang menjadi sasaran komentar negatif mereka.
"Fatima, orang lain kuliah mengambil jurusan kedokteran, keguruan atau jurusan yang nanti bisa kerja di bank. Lah, kok kamu malah jurusannya pertanian? Wong mau jadi petani saja kok musti kuliah?", ucap salah seorang tetangga, masih kerabat.
"Iya, lha wong kakek buyutmu saja tidak kuliah bisa kok nanam padi", sahut tetangga yang lain. Kali ini seorang bapak.
Aku masih tetap tersenyum dan diam. Jika kujawab pertanyaan mereka, aku justru akan dianggap melawan orang tua. Mereka hanya tidak tau, kalau aku ingin belajar pertanian, agar kelak aku bisa turut memajukan pertanian di desaku. Semoga saja saat itu segera datang.
Bus nomer 23 masih terus melaju. Kali ini sudah memasuki terminal Wangon. Bus berhenti sejenak dan seorang pedagang asongan bergegas naik, berharap ada pembeli yang mau membeli dagangannya. Aku membeli sebotol air mineral ukuran sedang karena persediaan minumku sudah habis. Harganya 5000 rupiah, hampir dua kali lipat harga normal. Tak apa, hitung-hitung sebagai upah beliau mondar-mandir naik-turun bus.
Ibu di sebelahku kini tertidur. Aku masih mengingat-ingat komentar-komentar negatif tetanggaku, meskipun di Wangon tidak turun hujan. Sejenak kemudian bus kembali melaju. Kali ini dengan kecepatan yang lebih tinggi dari sebelumnya.
Aku kembali mengulang percakapanku dengan salah seorang tetangga sebulan yang lalu saat aku terakhir pulang. Percakapan itu terkait dengan pakaian yang aku kenakan sekarang. Kini aku mulai belajar untuk berpakaian selayaknya seorang muslimah sesungguhnya. Memakai pakaian panjang, memakai rok/gamis, memakai kaos kaki dan memakai kerudung lebar. Beberapa tetangga mengira kalau aku terseret ke dalam aliran sesat.
Dengan nada keibuan, salah seorang tetangga menasihati, "Fat, kamu itu kenapa? Kok sekarang pakaiannya seperti ini? Kaya yang dipakai teroris-teroris itu lho..".
"Lho, memangnya bibi pernah melihat teroris?", Aku menyahut sembari tersenyum.
"Ya, belum sih. Tapi itu lho, di TV-TV kan ada beritanya", jawabnya dengan nada bersemangat.
"Ah, Bibi. Tidak semua yang ditayangkan di TV itu betul. Seorang perempuan muslimah ya memang harus berpakaian seperti ini, Bi. Kan aurat perempuan itu kecuali wajah dan telapak tangan. Jadi, kaki juga harus ditutupi. Ditambah lagi, perempuan kan tidak boleh memakai pakaian yang menunjukkan lekuk tubuh, jadi ya harus pakai gamis atau rok", aku menjawab dengan penuh keyakinan.
"Hmmm. Tapi kok ya, umumnya di sini bukan seperti itu, Fat", jawabnya seraya menggeleng.
Aku tersenyum mengingat percakapan itu. Memang, suatu perubahan meskipun mengarah ke hal yang positif akan sulit diterima oleh masyarakat. Butuh waktu lama agar masyarakat mau menerima perubahan itu.
"Mba, kenapa tho? Kok daritadi saya lihat mba'nya melamun?", penumpang di sebelahku menyapa. Ternyata daritadi beliau sudah terbangun dan memperhatikanku.
"Tidak apa-apa kok Bu, hanya sedang mengingat sesuatu", sahutku sambil tersenyum. Kuperhatikan wajah ibu di sebelahku. Beliau berwajah manis dengan mata indah yang begitu bening. Mungkin beliau seusia ibuku.
"Mba'nya mau ke mana? Kok sendirian?", Tanyanya dengan wajah tersenyum.
"Saya mau pulang ke rumah Bu, sepupu saya mau menikah", jawabku jujur.
"Owalaah. Mba'nya masih sekolah atau sudah kerja? Saya lihat mba'nya bawa tas besar", kali ini beliau bertanya dengan nada penasaran.
"Saya masih kuliah, Bu. Di Purwokerto. Ibu nanti turun di mana?", Aku bertanya. Sekadar basa-basi.
"Oooh, masih kuliah tho. Alhamdulillah kalau mba'nya punya keinginan untuk kuliah padahal perempuan. Perempuan itu mba, memang harus berpendidikan. Harus sekolah yang tinggi, biar nanti bisa mendidik anak-anaknya dengan baik dan tidak mengandalkan didikan guru di sekolah. Tidak usah peduli dengan anggapan masyarakat yang mengatakan bahwa tugas perempuan hanya di dapur, sumur dan kasur, sehingga tidak perlu sekolah tinggi. Itu anggapan orang zaman dulu. Sekarang zaman sudah berubah, mba. Saya lihat mba'nya juga pakaiannya rapi, beda dari perempuan kebanyakan, apalagi yang seumuran mba'nya. Perempuan, apalagi seorang muslimah memang harus berpakaian rapi, menutup aurat, bukan hanya membungkusnya. Saya do'akan semoga mba'nya bisa sukses dunia akhirat, bisa membahagiakan orang tua. Saya ini sebentar lagi turun mba, di pertigaan sana", Si Ibu menjawab seraya menunjuk pertigaan yang sebentar lagi, sekitar 200 meter akan kami lewati.
"Aamiin, terima kasih banyak atas nasihatnya, Bu. Semoga Allah selalu melindungi Ibu. Dan hati-hati di jalan, Bu", ucapku tulus.
"Aamiin ya rabbal'aalamiin", Ibu itu tersenyum seraya melangkahkan kaki ke dekat pintu bus, "Saya berhenti di pertigaan depan, Pak. Mari, mba".
"Mari, Bu. Hati-hati", aku mengangguk dan tersenyum pada beliau.
Bus kembali melaju dan aku kembali merenung. Bukan merenungkan komentar negatif tetanggaku, tetapi merenungkan ucapan penumpang di sebelahku tadi. Ya, Ibu itu benar. Aku memang seorang perempua
Tidak ada komentar:
Posting Komentar