Rabu, 04 September 2019

Aku, Seorang Perempuan

Gerimis pertama di akhir Agustus ini cukup menyejukkan. Hawa di dalam bus jurusan Sidareja-Purwokerto yang kutumpangi menjadi sedikit dingin, meskipun aroma debu menyeruak memenuhi rongga hidungku. Gerimis pertama selalu membuat udara penuh aroma debu. Dengar-dengar, gerimis pertama dan aromanyat tidak baik untuk kesehatan. Namun, aku belum tau pasti tentang kebenarannya.
Sejak dulu aku suka hujan. Waktu masih anak-anak, aku suka sekali mandi di bawah guyuran hujan sambil berlarian di halaman rumah. Rasanya aku seperti terbebas dari masalah apapun. Sekarang, saat aku memasuki usia dewasa, aku tak lagi mandi di bawah hujan. Sebagai penggantinya, aku selalu menyempatkan diri untuk  memandang hujan, lama. Bagiku sekarang, hujan ibarat obat sekaligus penyayat luka. Terkadang, saat memandang hujan air mataku tak sadar menetes. Alasannya sepele. Aku ingat masa lalu yang bagiku menyakitkan, misalnya saat aku harus kehilangan sandal kesayanganku terbawa air selokan  -saat hujan deras-. Atau  terkadang aku bisa tersenyum ceria. Alasannya, karena saat itu aku ingat bahwa aku pernah terpeleset saat hujan. Sepele sekali.
Seperti saat ini, saat aku  duduk di bangku nomer 3 baris sebelah kiri bus yang kutumpangi. Bus nomer 23. Aku sedang merenungi perjalanan hidupku selama 3 tahun ini, seraya memandang hujan melalui kaca jendela bus. Di sebelahku, ada seorang Ibu setengah baya yang kulihat hendak menengok cucunya. Beliau membawa banyak mainan anak-anak, jadi kusimpulkan bahwa beliau hendak menengok cucunya. Mengenai kebenarannya, aku tak tau pasti.
Selama tiga tahun ini, Aku sedang menempuh jenjang pendidikan strata satu di salah satu universitas negeri di Kota Satria. Aku mengambil salah satu program studi di Fakultas Pertanian. Itu karena aku berkeinginan untuk menjadi seorang petani dan ingin membantu memajukan pertanian di desaku. Yah, mudah-mudahan keinginanku itu dapat terkabul.
Bus yang kutumpangi terus melaju, pelan. Bus sudah tak berada di wilayah Kota Satria lagi, sudah memasuki Ajibarang. Hujan sudah hampir reda di wilayah ini, hanya menyisakan rintik-rintik gerimis. Aku menghela nafas, panjang. Sebenarnya aku kurang nyaman saat harus pulang kampung. Bisikan-bisikan miring tetangga, lirikan sinis mereka, ahh aku tak suka itu semua. Tapi, kemarin sore Ibu menelponku. Katanya, sepupuku mau menikah hari ini, jadi beliau memintaku menyempatkan diri untuk pulang. 
Aku ingat, 3 tahun yang lalu saat aku memutuskan untuk kuliah banyak tetangga yang berkomentar negatif.
"Eh, Fatima. Buat apa sih kuliah? Kamu toh perempuan, nanti kerjamu ya cuma ngurus anak, ngurus suami, ngurus dapur. Lagi pula, bapakmu itu kan cuma buruh tani. Mau kuliah pakai duit siapa nanti?", Ucap salah seorang tetangga.
"Iya, Fat. Toh, nanti kalau kamu sekolah terus, kamu bisa lupa nikah lho. Bisa jadi perawan tua kamu", sahut tetangga yang lain dengan nada bijak.
Aku hanya tersenyum, tetap diam. Mereka hanya tidak tau atau tidak mau tau kalau aku mendapat beasiswa dari pemerintah dan itu meliputi biaya hidup. Padahal, ibuku sudah memberitahu mereka bahwa aku kuliah dengan uang beasiswa, tapi ya namanya manusia. Mungkin mereka lupa.
Memasuki tahun kedua kuliah, komentar-komentar negatif dari tetangga saat aku pulang kampung sudah berbeda lagi. Mereka sudah tau kalau aku mengambil program studi pertanian, maka itulah yang menjadi sasaran komentar negatif mereka.
"Fatima, orang lain kuliah mengambil jurusan kedokteran, keguruan atau jurusan yang nanti bisa kerja di bank. Lah, kok kamu malah jurusannya pertanian? Wong mau jadi petani saja kok musti kuliah?", ucap salah seorang tetangga, masih kerabat.
"Iya, lha wong kakek buyutmu saja tidak kuliah bisa kok nanam padi", sahut tetangga yang lain. Kali ini seorang bapak.
Aku masih tetap tersenyum dan diam. Jika kujawab pertanyaan mereka, aku justru akan dianggap melawan orang tua. Mereka hanya tidak tau, kalau aku ingin belajar pertanian, agar kelak aku bisa turut memajukan pertanian di desaku. Semoga saja saat itu segera datang.
Bus nomer 23 masih terus melaju. Kali ini sudah memasuki terminal Wangon. Bus berhenti sejenak dan seorang pedagang asongan bergegas naik, berharap ada pembeli yang mau membeli dagangannya. Aku membeli sebotol air mineral ukuran sedang karena persediaan minumku sudah habis. Harganya 5000 rupiah, hampir dua kali lipat harga normal. Tak apa, hitung-hitung sebagai upah beliau mondar-mandir naik-turun bus.
Ibu di sebelahku kini tertidur. Aku masih mengingat-ingat komentar-komentar negatif tetanggaku, meskipun di Wangon tidak turun hujan. Sejenak kemudian bus kembali melaju. Kali ini dengan kecepatan yang lebih tinggi dari sebelumnya.
Aku kembali mengulang percakapanku dengan salah seorang tetangga sebulan yang lalu saat aku terakhir pulang. Percakapan itu terkait dengan pakaian yang aku kenakan sekarang. Kini aku mulai belajar untuk berpakaian selayaknya seorang muslimah sesungguhnya. Memakai pakaian panjang, memakai rok/gamis,  memakai kaos kaki dan memakai kerudung lebar. Beberapa tetangga mengira kalau aku terseret ke dalam aliran sesat.
Dengan nada keibuan, salah seorang tetangga menasihati, "Fat, kamu itu kenapa? Kok sekarang pakaiannya seperti ini? Kaya yang dipakai teroris-teroris itu lho..".
"Lho, memangnya bibi pernah melihat teroris?", Aku menyahut sembari tersenyum.
"Ya, belum sih. Tapi itu lho, di TV-TV kan ada beritanya", jawabnya dengan nada bersemangat.
"Ah, Bibi. Tidak semua yang ditayangkan di TV itu betul. Seorang perempuan muslimah ya memang harus berpakaian seperti ini, Bi. Kan aurat perempuan itu kecuali wajah dan telapak tangan. Jadi, kaki juga harus ditutupi. Ditambah lagi, perempuan kan tidak boleh memakai pakaian yang menunjukkan lekuk tubuh, jadi ya harus pakai gamis atau rok",  aku menjawab dengan penuh keyakinan.
"Hmmm. Tapi kok ya, umumnya di sini bukan seperti itu, Fat", jawabnya seraya menggeleng.
Aku tersenyum mengingat percakapan itu. Memang, suatu perubahan meskipun mengarah ke hal yang positif akan sulit diterima oleh masyarakat. Butuh waktu lama agar masyarakat mau menerima perubahan itu.
"Mba, kenapa tho? Kok daritadi saya lihat mba'nya melamun?", penumpang di sebelahku menyapa. Ternyata daritadi beliau sudah terbangun dan memperhatikanku.
"Tidak apa-apa kok Bu, hanya sedang mengingat sesuatu", sahutku sambil tersenyum. Kuperhatikan wajah ibu di sebelahku. Beliau berwajah manis dengan mata indah yang begitu bening. Mungkin beliau seusia ibuku.
"Mba'nya mau ke mana? Kok sendirian?", Tanyanya dengan wajah tersenyum.
"Saya mau pulang ke rumah Bu, sepupu saya mau menikah", jawabku jujur.
"Owalaah. Mba'nya masih sekolah atau sudah kerja? Saya lihat mba'nya bawa tas besar", kali ini beliau bertanya dengan nada penasaran.
"Saya masih kuliah, Bu. Di Purwokerto. Ibu nanti turun di mana?", Aku bertanya. Sekadar basa-basi.
"Oooh, masih kuliah tho. Alhamdulillah kalau mba'nya punya keinginan untuk kuliah padahal perempuan. Perempuan itu mba, memang harus berpendidikan. Harus sekolah yang tinggi, biar nanti bisa mendidik anak-anaknya dengan baik dan tidak mengandalkan didikan guru di sekolah. Tidak usah peduli dengan anggapan masyarakat yang mengatakan bahwa tugas perempuan hanya di dapur, sumur dan kasur, sehingga tidak perlu sekolah tinggi. Itu anggapan orang zaman dulu. Sekarang zaman sudah berubah, mba. Saya lihat mba'nya juga pakaiannya rapi, beda dari perempuan kebanyakan, apalagi yang seumuran mba'nya. Perempuan, apalagi seorang muslimah memang harus berpakaian rapi, menutup aurat, bukan hanya membungkusnya. Saya do'akan semoga mba'nya bisa sukses dunia akhirat, bisa membahagiakan orang tua. Saya ini sebentar lagi turun mba, di pertigaan sana", Si Ibu menjawab seraya menunjuk pertigaan yang sebentar lagi, sekitar 200 meter akan kami lewati.
"Aamiin, terima kasih banyak atas nasihatnya, Bu. Semoga Allah selalu melindungi Ibu. Dan hati-hati di jalan, Bu", ucapku tulus.
"Aamiin ya rabbal'aalamiin", Ibu itu tersenyum seraya melangkahkan kaki ke dekat pintu bus, "Saya berhenti di pertigaan depan, Pak. Mari, mba".
"Mari, Bu. Hati-hati", aku mengangguk dan tersenyum pada beliau.
Bus kembali melaju dan aku kembali merenung. Bukan merenungkan komentar negatif tetanggaku, tetapi merenungkan ucapan penumpang di sebelahku tadi. Ya, Ibu itu benar. Aku memang seorang perempua

Minggu, 01 September 2019

Satu Jam di Bus Nomer 10


Surya begitu terik menyinari jalanan di sepanjang Kota Satria. Peluh sedari tadi sudah mengucur deras di pipiku. Untunglah aku tak memakai make up, jadi tak perlu khawatir kalau-kalau make upku luntur.
Sudah setengah jam aku menunggu bus jurusan Sidareja-Purwokerto di tepi Jalan Gerilya ini, tapi tak kunjung datang juga. Entahlah. Mungkin bus-bus juga enggan berjalan lantaran jalanan begitu terik. Mungkin mereka takut kalau-kalau ban mereka nanti meleleh terkena panasnya jalanan.
Bumbumbum
Dari kejauhan kudengar suara bus mendekat. Aku reflek menengok dan kulihat bus bercat biru-putih yang sedari tadi kutunggu akhirnya datang juga. Papan nama Sidareja-Purwokerto yang terpampang di kepala bus tampak sudah pucat dimakan usia. Karat di badan bus yang mencoba disamarkan oleh sang empunya dengan cat baru ternyata tak berhasil menyamarkan usia tuanya. Aku terkadang penasaran, berapa usia bus itu? Apakah dia sudah memasuki masa remaja untuk usia manusia? Mungkin saja. 
Aku segera melambaikan tangan untuk menghentikan bus. Bus segera berhenti tepat di depanku berdiri. Aku segera melompat naik ke dalam bus. Kuedarkan pandangan ke seluruh bus, ternyata hanya tersisa satu bangku kosong. Bangku ke dua, baris sebelah kiri. Mau tak mau, aku harus duduk di bangku itu. Di sebelahnya, kulihat seorang pemuda sedang asyik membaca buku. Dia terus saja menunduk melihat kedatanganku. Yang bergerak hanya tangannya, meletakkan tas ranselnya tepat di sebelahnya. Mungkin Ia ingin agar kami tak saling bersentuhan selama di jalan nanti. Dalam hati aku tersenyum, ternyata masih ada pemuda seperti itu di zaman ini.  
Bus kembali berjalan. Pelan saja. Khas bus kecil jurusan pedesaan. Dalam hati aku merutuk -kenapa tidak cepat saja jalannya?-. Lalu aku teringat, bus ini sudah tua, kalau dibawa jalan cepat mungkin saja di tengah jalan nanti batuk lalu mati mesin dan akhirnya penumpang harus diturunkan ditengah jalan. Ahhh, Aku tidak mau kalau harus diturunkan di tengah jalan. Ya sudahlah aku terima saja meski bus berjalan pelan sekali.
Penumpang di sebelahku masih saja asyik dengan bukunya. Aku penasaran dengan apa yang ia baca. Kukirikkan mataku melihat halaman yang sedang ia baca. Bukan niatku untuk berlaku tidak sopan, hanya saja aku penasaran. Sebuah pembelaan untuk sebuah kesalahan yang tidak ingin disebut sebagai suatu kesalahan. Biarlah, lagi pula siapa tau nanti Ia merasa terganggu lalu matanya lepas sejenak dari bukunya. Ah, aku mulai berkhayal.
"Sungguh Konstantinopel akan ditaklukkan. Sebaik-baik pemimpin adalah penakluknya dan sebaik-baik pasukan adalah pasukannya" (H.R. Ahmad)
Itulah penggalan hadist yang ada di buku yang Ia baca. Aku tau, itu adalah buku tentang Sultan Al-Fatih, Sang Penakluk Konstantinopel. Aku tau kisahnya dari guruku di madrasah, juga dari buku karya Syaikh Ramzi Al-Munyawi yang aku beli setahun lalu.
Bus berhenti di perempatan, lampu merah. Seorang pengamen berusia 17 tahun naik membawa ukulelenya. Sebenarnya Aku tak tau pasti umurnya, tapi aku hanya menebak saja. Mungkin saja ia masih 15 tahun atau bahkan sudah 23 tahun. Entahlah, yang pasti aku menganggapnya 17 tahun 
Wahai bapak, wahai ibu, wahai para Budiman
Saya datang membawa sebuah lagu
Demi sedikit rupiah dari bapak dan ibu
Mudah-mudahan bapak dan ibu berkenan
Memberi sedikit rejeki kepada saya
Saya tidak memaksa, tapi kalau sampai tak mengasih ya kebangetan
Apalagi kalau sampai pura-pura
Pura-pura tak mendengar atau pura-pura tidur
Di akhiri dengan petikan ukulele yang tak bermelodi, pengamen 17 tahun itu mulai berkeliling menyodorkan bungkus permen terbalik ke suluruh penumpang. Aku penasaran. Mengapa harus bungkus permen yang dipakai, dan mengapa mesti dibalik? 
Pengamen itu sampai di bangkuku. Aku melambaikan tangan, enggan memberi. Tapi ia tetap saja berdiri di sebelahku. Enggan pergi sebelum aku memberinya uang. Ahh. Kau bilang tidak memaksa, tapi dari caramu tetap berdiri di sampingku aku tau engkau memaksa. Aku paling enggan kalau harus mengeluarkan uang untuk pengamen, ya walaupun sekadar koin lima ratusan.
"Ini mas, dari saya dan mba di sebelah saya", sebuah tangan terulur dari sebelahku. Aku reflek menengok dan Ia tersenyum sedikit, lalu asyik lagi dengan bukunya.
Dalam anganku, ada banyak percakapan setelah itu.
"Aduh, maaf mas. Saya jadi nggak enak. Sudah merepotkan", ucapku malu-malu.
"Ahh, tidak apa-apa. Sebenarnya saya juga jarang kasih uang ke pengamen. Cuma tadi saya lihat pengamannya agak pemaksa, ya sudah saya kasih uang saja", Ia menjawab dengan senyum simpul.
"Aduuh, sekali lagi saya minta maaf ya, mas. Oh ya, saya lihat daritadi masnya asyik baca buku. Kalau boleh tau, buku apa ya mas? Jarang-jarang lho ada orang baca buku di bus", jawabku masih malu-malu.
Aku tersentak.
"Mba, mau turun di mana. Belum bayar kan?", kondektur yang tak paham suasana menganggu lamunanku seraya menepuk lenganku. Buyar sudah khayalanku.
Suasana bus kembali hening. Hanya ada suara dua ibu yang sedang bergosip di belakang tempat dudukku. Tentang sawahnya yang gagal panen, lalu tentang anak tetangganya yang hendak menikah dengan orang seberang. Ahh, kalau kuingat-ingat, sudah beberapa kali aku satu bus dengan salah satu ibu itu dan ceritanya selalu saja sama. Biarlah, suka-suka beliau saja.
Sudah setengah jam kami duduk. Tapi tetap saja tak ada percakapan barang sepatah dua patah kata. Aku ingin memulai percakapan, tapi aku terlalu malu untuk itu. Tidak, tidak. Aku tak pandai memulai percakapan. Ia pun hanya diam, tetap asyik dengan bukunya. Sesekali, ia menengok ke luar bus saat bus melewati tanah-tanah pertanian -sambil tersenyum-.
Bus kini sudah memasuki Pancasan, melewati bukit-bukit yang mesti dikosongkan demi pabrik semen. Dulu, waktu aku masih kecil aku sering melewati tempat ini. Dulu tempat ini hijau, menyejukkan mata saat dipandang. Tapi itu dulu.
Aku menghela nafas panjang. Sedih. Mengapa demi ego pembangunan, bukit-bukit itu yang harus jadi korban? Kutengok pemandangan menyedihkan itu melalui kaca jendela bus. Mataku hanya menatapnya nanar.
"Mba, kenapa? Kok matanya berkaca?", Ia bertanya padaku. Cemas.
"Ooh. Enggak mas, saya cuma sedih. Bukit-bukit itu harusnya tetap hijau", sahutku dengan nada setengah kaget.
"Ooh, itu. Iya sih. Tidak seharusnya bukit-bukit itu digunduli. Sejak bukit-bukit itu digunduli, udara di sini makin panas, mba. Itu kata teman saya yang rumahnya ada di belakang pabrik semen", Ia menyahut dengan pandangan menerawang, sambil menunjuk arah rumah temannya.
"Iya. Terkadang, atas nama pembangunan, semua harus tunduk pada tindakan yang sebenarnya tidak terlalu baik", aku kembali menghela nafas. Diam.
"Wangon, Wangon. Yang mau turun di Wangon atau mau ke Cilacap, siap-siap. Sebentar lagi sampai", terdengar teriakan kondektur yang nyaring dari belakang bus. Aku sampai terkaget.
"Permisi, mba. Saya mau turun", ia mengucapkan kalimat permisi itu seraya membangunkan ku dari lamunan.
Aku segera menyingkirkan kakiku dan memberinya jalan untuk lewat. Ia menjinjing ranselnya, tak lupa memasukkan bukunya seteleh ia tandai di halaman terakhir yang ia baca.
"Maaf mas, mau tanya. Nama mas, siapa ya?", Aku bertanya padanya setengah berteriak. Ia menengok sebentar, lalu menyebutkan namanya.
Ahh. Tapi itu hanya di dalam hati. Aku terlalu malu, bahkan hanya untuk mengangguk padanya.
Sekarang bus sudah berhenti di terminal Wangon, dan ia bergegas turun.

Anak Kecil dan Ukulele itu...

Selepas Isya, gerimis kecil sisa hujan lebat sore itu masih mengguyur daerah tempat pemondokanku berada. Kala itu, Aku baru saja pulang d...