Minggu, 01 September 2019

Satu Jam di Bus Nomer 10


Surya begitu terik menyinari jalanan di sepanjang Kota Satria. Peluh sedari tadi sudah mengucur deras di pipiku. Untunglah aku tak memakai make up, jadi tak perlu khawatir kalau-kalau make upku luntur.
Sudah setengah jam aku menunggu bus jurusan Sidareja-Purwokerto di tepi Jalan Gerilya ini, tapi tak kunjung datang juga. Entahlah. Mungkin bus-bus juga enggan berjalan lantaran jalanan begitu terik. Mungkin mereka takut kalau-kalau ban mereka nanti meleleh terkena panasnya jalanan.
Bumbumbum
Dari kejauhan kudengar suara bus mendekat. Aku reflek menengok dan kulihat bus bercat biru-putih yang sedari tadi kutunggu akhirnya datang juga. Papan nama Sidareja-Purwokerto yang terpampang di kepala bus tampak sudah pucat dimakan usia. Karat di badan bus yang mencoba disamarkan oleh sang empunya dengan cat baru ternyata tak berhasil menyamarkan usia tuanya. Aku terkadang penasaran, berapa usia bus itu? Apakah dia sudah memasuki masa remaja untuk usia manusia? Mungkin saja. 
Aku segera melambaikan tangan untuk menghentikan bus. Bus segera berhenti tepat di depanku berdiri. Aku segera melompat naik ke dalam bus. Kuedarkan pandangan ke seluruh bus, ternyata hanya tersisa satu bangku kosong. Bangku ke dua, baris sebelah kiri. Mau tak mau, aku harus duduk di bangku itu. Di sebelahnya, kulihat seorang pemuda sedang asyik membaca buku. Dia terus saja menunduk melihat kedatanganku. Yang bergerak hanya tangannya, meletakkan tas ranselnya tepat di sebelahnya. Mungkin Ia ingin agar kami tak saling bersentuhan selama di jalan nanti. Dalam hati aku tersenyum, ternyata masih ada pemuda seperti itu di zaman ini.  
Bus kembali berjalan. Pelan saja. Khas bus kecil jurusan pedesaan. Dalam hati aku merutuk -kenapa tidak cepat saja jalannya?-. Lalu aku teringat, bus ini sudah tua, kalau dibawa jalan cepat mungkin saja di tengah jalan nanti batuk lalu mati mesin dan akhirnya penumpang harus diturunkan ditengah jalan. Ahhh, Aku tidak mau kalau harus diturunkan di tengah jalan. Ya sudahlah aku terima saja meski bus berjalan pelan sekali.
Penumpang di sebelahku masih saja asyik dengan bukunya. Aku penasaran dengan apa yang ia baca. Kukirikkan mataku melihat halaman yang sedang ia baca. Bukan niatku untuk berlaku tidak sopan, hanya saja aku penasaran. Sebuah pembelaan untuk sebuah kesalahan yang tidak ingin disebut sebagai suatu kesalahan. Biarlah, lagi pula siapa tau nanti Ia merasa terganggu lalu matanya lepas sejenak dari bukunya. Ah, aku mulai berkhayal.
"Sungguh Konstantinopel akan ditaklukkan. Sebaik-baik pemimpin adalah penakluknya dan sebaik-baik pasukan adalah pasukannya" (H.R. Ahmad)
Itulah penggalan hadist yang ada di buku yang Ia baca. Aku tau, itu adalah buku tentang Sultan Al-Fatih, Sang Penakluk Konstantinopel. Aku tau kisahnya dari guruku di madrasah, juga dari buku karya Syaikh Ramzi Al-Munyawi yang aku beli setahun lalu.
Bus berhenti di perempatan, lampu merah. Seorang pengamen berusia 17 tahun naik membawa ukulelenya. Sebenarnya Aku tak tau pasti umurnya, tapi aku hanya menebak saja. Mungkin saja ia masih 15 tahun atau bahkan sudah 23 tahun. Entahlah, yang pasti aku menganggapnya 17 tahun 
Wahai bapak, wahai ibu, wahai para Budiman
Saya datang membawa sebuah lagu
Demi sedikit rupiah dari bapak dan ibu
Mudah-mudahan bapak dan ibu berkenan
Memberi sedikit rejeki kepada saya
Saya tidak memaksa, tapi kalau sampai tak mengasih ya kebangetan
Apalagi kalau sampai pura-pura
Pura-pura tak mendengar atau pura-pura tidur
Di akhiri dengan petikan ukulele yang tak bermelodi, pengamen 17 tahun itu mulai berkeliling menyodorkan bungkus permen terbalik ke suluruh penumpang. Aku penasaran. Mengapa harus bungkus permen yang dipakai, dan mengapa mesti dibalik? 
Pengamen itu sampai di bangkuku. Aku melambaikan tangan, enggan memberi. Tapi ia tetap saja berdiri di sebelahku. Enggan pergi sebelum aku memberinya uang. Ahh. Kau bilang tidak memaksa, tapi dari caramu tetap berdiri di sampingku aku tau engkau memaksa. Aku paling enggan kalau harus mengeluarkan uang untuk pengamen, ya walaupun sekadar koin lima ratusan.
"Ini mas, dari saya dan mba di sebelah saya", sebuah tangan terulur dari sebelahku. Aku reflek menengok dan Ia tersenyum sedikit, lalu asyik lagi dengan bukunya.
Dalam anganku, ada banyak percakapan setelah itu.
"Aduh, maaf mas. Saya jadi nggak enak. Sudah merepotkan", ucapku malu-malu.
"Ahh, tidak apa-apa. Sebenarnya saya juga jarang kasih uang ke pengamen. Cuma tadi saya lihat pengamannya agak pemaksa, ya sudah saya kasih uang saja", Ia menjawab dengan senyum simpul.
"Aduuh, sekali lagi saya minta maaf ya, mas. Oh ya, saya lihat daritadi masnya asyik baca buku. Kalau boleh tau, buku apa ya mas? Jarang-jarang lho ada orang baca buku di bus", jawabku masih malu-malu.
Aku tersentak.
"Mba, mau turun di mana. Belum bayar kan?", kondektur yang tak paham suasana menganggu lamunanku seraya menepuk lenganku. Buyar sudah khayalanku.
Suasana bus kembali hening. Hanya ada suara dua ibu yang sedang bergosip di belakang tempat dudukku. Tentang sawahnya yang gagal panen, lalu tentang anak tetangganya yang hendak menikah dengan orang seberang. Ahh, kalau kuingat-ingat, sudah beberapa kali aku satu bus dengan salah satu ibu itu dan ceritanya selalu saja sama. Biarlah, suka-suka beliau saja.
Sudah setengah jam kami duduk. Tapi tetap saja tak ada percakapan barang sepatah dua patah kata. Aku ingin memulai percakapan, tapi aku terlalu malu untuk itu. Tidak, tidak. Aku tak pandai memulai percakapan. Ia pun hanya diam, tetap asyik dengan bukunya. Sesekali, ia menengok ke luar bus saat bus melewati tanah-tanah pertanian -sambil tersenyum-.
Bus kini sudah memasuki Pancasan, melewati bukit-bukit yang mesti dikosongkan demi pabrik semen. Dulu, waktu aku masih kecil aku sering melewati tempat ini. Dulu tempat ini hijau, menyejukkan mata saat dipandang. Tapi itu dulu.
Aku menghela nafas panjang. Sedih. Mengapa demi ego pembangunan, bukit-bukit itu yang harus jadi korban? Kutengok pemandangan menyedihkan itu melalui kaca jendela bus. Mataku hanya menatapnya nanar.
"Mba, kenapa? Kok matanya berkaca?", Ia bertanya padaku. Cemas.
"Ooh. Enggak mas, saya cuma sedih. Bukit-bukit itu harusnya tetap hijau", sahutku dengan nada setengah kaget.
"Ooh, itu. Iya sih. Tidak seharusnya bukit-bukit itu digunduli. Sejak bukit-bukit itu digunduli, udara di sini makin panas, mba. Itu kata teman saya yang rumahnya ada di belakang pabrik semen", Ia menyahut dengan pandangan menerawang, sambil menunjuk arah rumah temannya.
"Iya. Terkadang, atas nama pembangunan, semua harus tunduk pada tindakan yang sebenarnya tidak terlalu baik", aku kembali menghela nafas. Diam.
"Wangon, Wangon. Yang mau turun di Wangon atau mau ke Cilacap, siap-siap. Sebentar lagi sampai", terdengar teriakan kondektur yang nyaring dari belakang bus. Aku sampai terkaget.
"Permisi, mba. Saya mau turun", ia mengucapkan kalimat permisi itu seraya membangunkan ku dari lamunan.
Aku segera menyingkirkan kakiku dan memberinya jalan untuk lewat. Ia menjinjing ranselnya, tak lupa memasukkan bukunya seteleh ia tandai di halaman terakhir yang ia baca.
"Maaf mas, mau tanya. Nama mas, siapa ya?", Aku bertanya padanya setengah berteriak. Ia menengok sebentar, lalu menyebutkan namanya.
Ahh. Tapi itu hanya di dalam hati. Aku terlalu malu, bahkan hanya untuk mengangguk padanya.
Sekarang bus sudah berhenti di terminal Wangon, dan ia bergegas turun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Anak Kecil dan Ukulele itu...

Selepas Isya, gerimis kecil sisa hujan lebat sore itu masih mengguyur daerah tempat pemondokanku berada. Kala itu, Aku baru saja pulang d...