Malam hari, 12 Januari
Sayup-sayup kudengar suara adzan Isya di surau sebelah kosan. Aku segera bergegas mengambil wudhu, lalu kulangkahkan kakiku memenuhi panggilan Allah.
Selepas sholat dan mengadu pada Sang Pemilik Cerita, Aku kembali merenungkan percakapanku dengan Ruvita siang tadi. Kami berbincang tentang rencana kami untuk praktik kerja lapangan atau PKL yang akan dilakukan dua Minggu lagi. Ruvita yang akan PKL di salah satu balai penelitian besar di Bogor, sudah punya rencana yang harus dilakukan untuk pergi ke tempat PKL-nya, bahkan sudah memesan travel untuk ke sana dan sudah menemukan induk semang. Sedangkan Aku, entahlah. Boro-boro dapat induk semang, tempat PKL ku di sebelah mana saja Aku tidak tahu.
Siang tadi, saat Ruvita asyik menceritakan rencana-rencananya, Aku hanya diam mendengarkan dan sesekali menjawab 'iya' atau 'tidak' saat Ruvita bertanya. Aku mulai digerogoti keraguan, apakah aku akan lanjut PKL di liburan semester ini atau menunda hingga semester depan. Ah, tapi kalau kutunda, berarti aku juga harus menunda rencana KKN (kuliah kerja nyata). Tentu saja aku tak mau melakukan itu.
Aku kembali mengingat dua Minggu lalu saat aku tiba-tiba memutuskan untuk PKL di tempat itu, tepat di batas akhir pendaftaran tempat PKL. Awalnya kupilih Salatiga, tapi entah mengapa seperti ada yang membisikkan kata magis yang membuatku berubah haluan. Padahal aku sama sekali tak tau di mana tempat itu, bahkan nama kabupatennya saja hanya ku ketahui lewat peta Jawa Tengah yang pernah kulihat di atlas milikku dulu.
Pati. Itulah nama kabupaten yang kupilih untuk melaksanakan PKL. Namanya asing di telingaku, bahkan aku sempat takut mendengar namanya. Sebagai orang jawa, aku tahu bahwa Pati berarti mati. Yaah, mungkin arti kata itu hanya ada di benakku saja yang sebenarnya sedang cemas memikirkan bagaimana caranya aku akan ke Pati. Ya, Aku cemas. Bagaimana tidak? Jika teman-temanku memilih PKL di tempat yang sama dengan teman akrabnya, aku memilih sendirian. Ya....sendirian dan memilih tempat yang sangat asing.
Tiba-tiba layar ponselku menyala. Ada pesan masuk.
"Atin, kamu katanya mau PKL di Pati ya? Tadi Ahmad bilang ke Aku"
Itu pesan dari Eva.
"Iya, kenapa Va?", Aku balas pesan Eva seraya gemetar, berharap Eva juga PKL di Pati.
"Aku juga PKL di Pati tin, di Jakenan. Kalo kamu di mana? Kamu mau ke sana kapan? Mau bareng nggak? Kalo mau bareng, nanti aku pesenin travel, cuma nanti kita barengnya dari stasiun Tawang ya, soalnya aku berangkat dari Cirebon", Eva membalas pesanku panjang sekali.
Alhamdulillah. Ternyata benar dugaan ku, Eva juga PKL di Pati. Segera aku balas pesannya, "Aku di lereng Muria va. Kalo berangkat hari Kamis tgl 17 gimana? Soalnya aku mau mampir ke kantor pusat tempat PKL ku dulu tgl 18 pagi, terus ke patinya siangnya. Ada berkas yg harus dikumpulkan. Oke nanti ketemu di Tawang aja, tolong pesenin travelnya dulu".
"Oke deh tin. Oya, kamu udah dapet induk semang belum?"
Tanganku seketika lemas. Pesan Eva kubalas agak lam, "Belum Va, nanti aku nginep di kosan kamu dulu, besoknya tolong bilangin ke Ahmad aku minta diantar ke lereng Muria terus minta dibantu nyari induk semang. Makasih, va".
"Ooh, gitu. Oke deh tin. Sampe ketemu tgl 18 ya...😊"
Aku cemas lagi dan terus menerus memikirkan rencanaku nanti setelah sampai ke Pati. Aku terus berpikir dan akhirnya tertidur pulas.
Sore hari, 16 Januari
Aku berkemas untuk pergi ke Slawi, ke rumah Ruvita. Besok aku harus naik kereta ke Tawang pagi-pagi. Harusnya bisa saja aku berangkat dari Purwokerto, tapi karena kereta Purwokerto-Tawang berangkat jam 5 pagi, kuputuskan untuk berangkat dari Slawi. Sebuah keputusan yang agak konyol memang, karena membuatku harus bergegas ke Slawi sore ini, padahal belum packing sama sekali. Tapi ya, sudahlah. Aku sudah terlanjur bilang ke Ruvita kalau aku besok berangkat ke Tawang via Slawi.
Ketergesaan terkadang memicu masalah. Yaa..itulah yang aku alami. Aku tergesa memutuskan untuk ke Slawi menggunakan bus, padahal aku sama sekali belum pernah ke sana. Benar saja, di tengah jalan aku di turunkan dengan barang bawaan banyak, dan kulihat jam di ponsel sudah menunjukkan pukul 19. 15 wib. Sial. Kuberanikan bertanya pada seorang kakek yang kebetulan lewat di sebelahku, "Bapak, punten badhe tangled. Bis jurusan Slawi taksiih wonten nopo mboten nggih?" (Bapak, permisi mau tanya. Bis jurusan Slawi masih ada atau tidak, ya?)
Sang kakek menjawab dengan raut muka cemas, " Taksiih, mba. Tapi sampun jarang. Mba'e didunke nggih?" (Masih mba, tapi sudah jarang. Mbaknya diturunkan, ya?)
"Nggih, Pak", aku tersenyum agak kakek yang baik ini tidak terlalu cemas.
"Sopir bis Saiki pada ora sopan. Mba'e niki perempuan. Kok didunke Nang tengah dalan wengi-wengi. Nggih sampun mba, mengkin kula tenggoni ngadhang bis dugi angsal nggih. Mangga nenggone ngajeng warung mawon". (Sopir bus sekarang tidak sopan. Mbaknya kan perempuan. Masa diturunkan di tengah jalan malam-malam begini. Ya sudah mba, nanti saya tunggui nunggu bis sampai dapat. Mari, nunggu bisnya di depan warung saja)
Alhamdulillah. Di tengah masalah, masih ada orang baik yang mau menolongku. Setelah menunggu sekitar satu jam, akhirnya bis ke arah slawi muncul juga. Aku berterima kasih kepada kakek yang baik hati itu dan berangkat ke slawi.
17 Januari
Aku bergegas menuju stasiun Slawi. 15 menit lagi kereta joglosemarkerto yang akan membawaku ke Tawang akan segera berangkat. Hatiku berdegup kencang. Ini adalah kali pertama aku naik kereta dan kota yang aku tuju adalah kota yang aku rindu -Semarang-.
Tuttuttut.....
Kereta melaju dengan kecepatan tinggi, namun aku seperti duduk di sebuah ruang tunggu saja. Rasanya kereta tak bergerak sama sekali.
Di sepanjang jalan, aku tak henti-hentinya menengok ke luar jendela kereta. Banyak hal menarik yang aku lihat, mulai dari persawahan, sungai, laut Jawa, bahkan perumahan kumuh. Ada seorang ibu yang duduk di hadapanku. Bersama putrinya, kuketahui bahwa beliau akan berkonsultasi mengenai skrispi dengan dosennya di Semarang. Ternyata beliau masih mahasiswa.
Sayup-sayup aku dengar dari pengeras suara kalau kereta sebentar lagi sampai di Tawang. Akhirnya....aku sampai di kota yang aku rindu menuju kota yang asing bagiku. Ya, walaupun aku masih cemas, setidaknya ada waktu satu hari untukku bersenang-senang di Semarang.
18 Januari
Urusanku dengan berkas-berkas PKL di kantor pusat selesai. Saatnya aku bergegas ke Tawang, bertemu Eva lalu berangkat ke pati.
Travel yang hendak membawa kami ke Pati ternyata sudah datang, tapi Eva belum datang. Terjebak macetnya Semarang, katanya. Untunglah sopir travelnya baik dan mau menunggu Eva.
Booom boom....
Travel berangkat dan selama dua jam setengah perjalanku ke Pati aku hanya diam. Masih cemas memikirkan rencana besok pagi untuk mencari letak pasti tempat PKL ku -sebuah kebun kopi peninggalan Belanda- di Lereng Muria. Sesekali aku mengajak Eva ngobrol untuk memecah keheningan.
"Va, Ahmad sama temannya -Putra- besok mau kan nganterin aku ke Lereng Muria? Aku cemas va, belum dapet induk semang", tanyaku ke Eva setelah beberapa saat hening.
"Iya tin, tapi katanya sore, soalnya mereka baru ke Pati sore. Mereka berangkat dari Kudus", Eva menjawab dengan nada khawatir.
"Ooh, gitu. Yaudah nggak papa"
Kami terdiam lagi.
Sore, 19 Januari
Ahmad dan Putra sudah berada di depan rumah induk semang Eva, siap mengantarku ke Lereng Muria. Aku juga sudah bersiap-siap. Eva yang awalnya tidak akan ikut, akhirnya memutuskan untuk ikut.
"Tin, Kamu tuh edan. Mau PKL tanggal 21 dan sampai tanggal 19 belum dapat induk semang. Udah gitu belum tau lagi tempat PKL nya di mana. Ckck", Ahmad berdecak dengan nada heran. Putra mengangguk mengiyakan.
"Iya, mad. Aku memang edan", jawabku dengan nada getir.
"Hmm. Ya sudah ayo berangkat takutnya nanti kemalaman di jalan. Soalnya kita juga kan nggak tau tempatnya", putra berkata memecah keheningan yang sesaat melanda kami.
Kami berpamitan kepada induk semang Eva dan berangkat menuju Lereng Muria. Hanya mengandalkan petunjuk dari Google Maps dan kami mengendarai sepeda motor. Aku membonceng Eva dan Ahmad membonceng Putra. Ya....begitah cara kami menuju Lereng Muria
Perjalanan kami ternyata tidak mulus, meskipun kami mematuhi petunjuk dari Google Maps. Atau mungkin kami yang salah mengartikan petunjuk yang ada. Entahlah. Yang pasti beberapa kali kami salah jalan.
Kami melewati jalan raya Pantura, lalu perlahan kami memasuki jalanan yang lebih kecil. Kanan kiri kami perlahan berubah menjadi ladang dan sawah yang menghijau. Lalu, bukit-bukit terbntang di hadapan kami. Jalanan menanjak dan berkelok mulai menyambut.
Hari semakin gelap dan aku semakin cemas. Kami belum juga menemukan papan nama kebun kopi tujuan kami. Untunglah ketiga kawanku itu menenangkanku sepanjang perjalanan. Aku beruntung Allah mengirimkan mereka.
Pukul 17.30, menjelang Maghrib
Jalanan semakin menanjak, semakin mengecil. Untunglah pemerintah membuat jalanan ini mulus, sehingga kami tidak mengalami kesulitan mengendarai sepeda motor melewati jalanan ini. Kami terus melaju dan melaju hingga akhirnya perkebunan kopi terhampar di sepanjang jalan yang kami lalui. Maa syaa Allah....di kanan dan kiri kami banyak sekali pohon kopi. Banyak pula tanaman jeruk pamelo dan jeruk keprok. Dalam hati aku mengucap sebuah ayat dari surah Arrahman. Fabiayyi aala irabbikuma tukadzdzibaan.
Tiba-tiba jalanan di depan kami buntu. Tidak ada lagi rumah atau kehidupan. Kami tiba di puncak bukit. Kami berenpat panik. Hari semakin gelap dan angin semakin kencang di sini. Pepohonan bergoyang kencang seperti ada badai. Untunglah, dari balik kegelapan ada sesosok bapak yang turun dari puncak bukit.
"Adik-adik ini mau ke mana?", Bapak itu bertanya terlebih dahulu kepada kami.
"Kami mau ke kebun kopi, Pak. Tapi kami malah sampai ke sini. Soalnya kami mengikuti peta, Pak. Kalau boleh tau, ini desa apa ya, Pak? Kok di pucuk bukit?", Ahmad yang sudah turun dari sepeda motor menyahut.
"Owalah. Mau ke kebun kopi tho? Ya ini kebun kopinya. Desa ini namanya Jollong, Dik", Si Bapak menjawab seraya tersenyum.
"Alhamdulillah", kami berempat menjawab serempak.
Ya. Jollong. Itulah namanya.
Sepotong tempat indah yang Allah ciptakan di Bumi Mina Tani. Sebuah nadi, di Lereng Gunung Muria.
Dan sejak saat ini, Aku jatuh cinta. Dengan Jollong, dengan Pati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar