Minggu, 16 September 2018

Ironi



Musim kering di tahun ini sudah bertamu ke kampung kami, kampung Dukuh Nom. Sebenarnya sekarang masih bulan Maret, tapi entah mengapa agaknya langit sudah enggan mencurahkan air ke kampung kami. Matahari juga sepertinya semangat sekali memancarkan sinarnya. Jika kupikir-pikir, bila saja kampungku ini cocok untuk berkebun sawit, mungkin saat kemarau seperti ini seluruh penduduk kampung kami sudah memenuhi puskesmas-puskesmas karena sesak napas.
Pada musim kemarau seperti ini, tanaman di kampung kami banyak yang meranggas, bahkan mati. Rumput-rumput mengering, sehingga ternak-ternak kami terkadang terpaksa puasa. Sumur-sumur kami juga banyak yang mengering, sehingga kami terpaksa harus mengurangi jatah mandi kami.
Sinar matahari yang begitu terik pada kemarau tahun ini rasa-rasanya jauh lebih terik dari kemarau-kemarau yang lalu. Mungkin karena banyak pepohonan di kampung kami yang sudah dijadikan mebel-mebel mewah atau pintu-pintu berukiran indah. Atau, menurut pendapatku sinar matahari yang semakin terik ini dikarenakan banyak kebun dan hutan di sekitar kampung kami yang sudah dijadikan kandang ayam, perumahan dan pabrik konveksi.
Kemarin pagi, aku berbelanja ke pasar di kampung sebelah untuk membeli keperluan untuk arisan bapak-bapak besok lusa, yang digelar dua minggu sekali tiap Sabtu malam. Maklumlah, meskipun arisannya masih lusa tapi kami sudah berbelanja kemarin karena pasar hanya buka seminggu sekali. Pasar tersebut sebenarnya cukup jauh dari kampungku. Sekitar dua kilometer menurut perkiraanku.
Saat berjalan ke pasar kemarin, Aku menyaksikan seorang bapak yang terjatuh dari motornya. Maklumlah, beliau sedang menghindari lubang kecil di jalan, namun justru beliau melewati lubang yang besar. Beliau memang hanya mengalami lecet kecil saja, tapi kaca spion dan lampu depan motornya pecah. Meskipun demikian, tetap saja Aku kasihan melihat beliau.
Jalanan di kampungku sebenarnya keadaannya cukup bagus untuk jalanan kampung. Itu jika dilihat lima tahun lalu, saat jalan tersebut baru dibangun. Namun,  kini kondisinya amat memprihatinkan. Jalanan mengelupas di sana-sini, membuat kerikil bertebaran. Saat musim kemarau seperti ini, kondisi jalanan di kampung kami sangat berbahaya, ditambah lagi dengan debu yang beterbangan mengganggu pemandangan.
Jika melihat keadaan kampungku yang menyedihkan ini, Aku jadi ingin pindah ke Ibu Kota. Di Ibu Kota sana, Aku tak perlu cemas akan banyaknya lubang di jalanan saat Aku mengendarai sepeda motor. Itu karena di televisi,  kulihat jalanan di Ibu Kota mulus bagai keramik.
Di Ibu Kota, Aku tak perlu cemas untuk terburu-buru belanja untuk keperluan sehari-hari atau untuk arisan. Wajar saja kan? Di Ibu Kota, swalayan bertebaran di mana-mana. Kau tak perlu khawatir kehabisan barang yang Kau butuhkan. Jika Kau tak menemukan barang yang Kau cari di salah satu swalayan, Kau dapat mencarinya di swalayan lain. Bahkan, Kau tak perlu khawatir jika Kau tak ada waktu untuk berbelanja di pagi hari. Swalayan-swalayan di Ibu Kota ada yang buka sampai malam.
Aku juga tak perlu khawatir harus mengurangi jatah mandiku di musim kemarau kalau Aku pindah ke Ibu Kota. Aku lihat di televisi, warga Ibu Kota selalu mendapat suplai air bersih saat musim kemarau datang. Kalaupun Aku harus mengurangi jatah mandiku, Aku tak perlu khawatir akan bau badanku. Maklumlah, kalau Aku pindah ke Ibu Kota Aku hanya mau tinggal di rumah yang ada pendingin udaranya. Dengan begitu, Aku tak akan banyak berkeringat, sehingga bau badanku tak akan terlalu menyiksa penciuman orang lain.
 Jika Aku tinggal di Ibu Kota, Aku tak perlu mengkhawatikan ternak-ternak yang terpaksa berpuasa. Kau tau, kan? Di Ibu Kota binatang ternak tak ubahnya jarum di tumpukkan jerami. Yang perlu Aku khawatirkan adalah lalat-lalat yang memenuhi saluran air dan tumpukkan sampah yang jumlahnya mungkin setara dengan ternak-ternak di kampung.
Meskipun Aku sangat ingin pindah ke Ibu Kota, namun Ibuku tak setuju dengan keinginanku. Katanya, Aku hanya akan menjadi beban pemerintah di sana. Ibuku bilang, Aku hanya akan membuat Ibu Kota semakin sesak saja. Beliau juga mengatakan, Aku akan merindukan suasana di kampung saat musim hujan melanda Ibu Kota. Sebagian wilayah Ibu Kota akan dilanda banjir saat musim hujan, sedangkan di kampungku tak pernah sekalipun banjir. Betul juga kata-kata Ibuku. Walaupun Ibu Kota nampak memikat saat kemarau, namun kampungku jauh lebih memikat saat musim hujan. Jika demikian adanya, sepertinya Aku akan menetap di kampungku. Biarlah Ibu Kota tak perlu menanggung beban karena kedatanganku. Cukuplah Ibu Kota menjadi tempat tinggal bagi orang-orang yang memang terlahir di sana, bukan tempat bagi orang-orang yang hanya menginginkan kesenangan sesaat sepertiku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Anak Kecil dan Ukulele itu...

Selepas Isya, gerimis kecil sisa hujan lebat sore itu masih mengguyur daerah tempat pemondokanku berada. Kala itu, Aku baru saja pulang d...