Musim kering di tahun ini sudah
bertamu ke kampung kami, kampung Dukuh Nom. Sebenarnya sekarang masih bulan
Maret, tapi entah mengapa agaknya langit sudah enggan mencurahkan air ke kampung
kami. Matahari juga sepertinya semangat sekali memancarkan sinarnya. Jika
kupikir-pikir, bila saja kampungku ini cocok untuk berkebun sawit, mungkin saat
kemarau seperti ini seluruh penduduk kampung kami sudah memenuhi
puskesmas-puskesmas karena sesak napas.
Pada musim kemarau seperti ini, tanaman
di kampung kami banyak yang meranggas, bahkan mati. Rumput-rumput mengering,
sehingga ternak-ternak kami terkadang terpaksa puasa. Sumur-sumur kami juga
banyak yang mengering, sehingga kami terpaksa harus mengurangi jatah mandi
kami.
Sinar matahari yang begitu terik
pada kemarau tahun ini rasa-rasanya jauh lebih terik dari kemarau-kemarau yang
lalu. Mungkin karena banyak pepohonan di kampung kami yang sudah dijadikan
mebel-mebel mewah atau pintu-pintu berukiran indah. Atau, menurut pendapatku
sinar matahari yang semakin terik ini dikarenakan banyak kebun dan hutan di
sekitar kampung kami yang sudah dijadikan kandang ayam, perumahan dan pabrik
konveksi.
Kemarin pagi, aku berbelanja ke
pasar di kampung sebelah untuk membeli keperluan untuk arisan bapak-bapak besok
lusa, yang digelar dua minggu sekali tiap Sabtu malam. Maklumlah, meskipun
arisannya masih lusa tapi kami sudah berbelanja kemarin karena pasar hanya buka
seminggu sekali. Pasar tersebut sebenarnya cukup jauh dari kampungku. Sekitar
dua kilometer menurut perkiraanku.
Saat berjalan ke pasar kemarin,
Aku menyaksikan seorang bapak yang terjatuh dari motornya. Maklumlah, beliau
sedang menghindari lubang kecil di jalan, namun justru beliau melewati lubang
yang besar. Beliau memang hanya mengalami lecet kecil saja, tapi kaca spion dan
lampu depan motornya pecah. Meskipun demikian, tetap saja Aku kasihan melihat
beliau.
Jalanan di kampungku sebenarnya
keadaannya cukup bagus untuk jalanan kampung. Itu jika dilihat lima tahun lalu,
saat jalan tersebut baru dibangun. Namun, kini kondisinya amat memprihatinkan. Jalanan
mengelupas di sana-sini, membuat kerikil bertebaran. Saat musim kemarau seperti
ini, kondisi jalanan di kampung kami sangat berbahaya, ditambah lagi dengan
debu yang beterbangan mengganggu pemandangan.
Jika melihat keadaan kampungku
yang menyedihkan ini, Aku jadi ingin pindah ke Ibu Kota. Di Ibu Kota sana, Aku
tak perlu cemas akan banyaknya lubang di jalanan saat Aku mengendarai sepeda
motor. Itu karena di televisi, kulihat
jalanan di Ibu Kota mulus bagai keramik.
Di Ibu Kota, Aku tak perlu cemas
untuk terburu-buru belanja untuk keperluan sehari-hari atau untuk arisan. Wajar
saja kan? Di Ibu Kota, swalayan bertebaran di mana-mana. Kau tak perlu khawatir
kehabisan barang yang Kau butuhkan. Jika Kau tak menemukan barang yang Kau cari
di salah satu swalayan, Kau dapat mencarinya di swalayan lain. Bahkan, Kau tak
perlu khawatir jika Kau tak ada waktu untuk berbelanja di pagi hari.
Swalayan-swalayan di Ibu Kota ada yang buka sampai malam.
Aku juga tak perlu khawatir harus
mengurangi jatah mandiku di musim kemarau kalau Aku pindah ke Ibu Kota. Aku
lihat di televisi, warga Ibu Kota selalu mendapat suplai air bersih saat musim
kemarau datang. Kalaupun Aku harus mengurangi jatah mandiku, Aku tak perlu
khawatir akan bau badanku. Maklumlah, kalau Aku pindah ke Ibu Kota Aku hanya
mau tinggal di rumah yang ada pendingin udaranya. Dengan begitu, Aku tak akan
banyak berkeringat, sehingga bau badanku tak akan terlalu menyiksa penciuman orang
lain.
Jika Aku tinggal di Ibu Kota, Aku tak perlu
mengkhawatikan ternak-ternak yang terpaksa berpuasa. Kau tau, kan? Di Ibu Kota
binatang ternak tak ubahnya jarum di tumpukkan jerami. Yang perlu Aku
khawatirkan adalah lalat-lalat yang memenuhi saluran air dan tumpukkan sampah
yang jumlahnya mungkin setara dengan ternak-ternak di kampung.
Meskipun Aku sangat ingin pindah
ke Ibu Kota, namun Ibuku tak setuju dengan keinginanku. Katanya, Aku hanya akan
menjadi beban pemerintah di sana. Ibuku bilang, Aku hanya akan membuat Ibu Kota
semakin sesak saja. Beliau juga mengatakan, Aku akan merindukan suasana di
kampung saat musim hujan melanda Ibu Kota. Sebagian wilayah Ibu Kota akan
dilanda banjir saat musim hujan, sedangkan di kampungku tak pernah sekalipun
banjir. Betul juga kata-kata Ibuku. Walaupun Ibu Kota nampak memikat saat
kemarau, namun kampungku jauh lebih memikat saat musim hujan. Jika demikian
adanya, sepertinya Aku akan menetap di kampungku. Biarlah Ibu Kota tak perlu
menanggung beban karena kedatanganku. Cukuplah Ibu Kota menjadi tempat tinggal
bagi orang-orang yang memang terlahir di sana, bukan tempat bagi orang-orang
yang hanya menginginkan kesenangan sesaat sepertiku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar