Rabu, 12 September 2018

Label "Anak Cerdas"

Apa yang kita pikirkan jika kita mendengar kata anak cerdas?

     Sebagian besar dari kita saat mendengar kata 'anak cerdas' tentu akan langsung tertuju pada anak dengan kemampuan matematika, fisika, kimia, atau kemampuan di bidang sains yang di atas rata-rata anak lainnya. Memang anggapan tersebut tidak salah, karena pada dasarnya anak-anak dengan kemampuan sains di atas rata-rata memang tergolong anak cerdas. Namun, bukan berarti anak-anak yang kemampuan sainsnya tidak terlalu baik bukan termasuk anak yang cerdas.
   Definisi cerdas tidak boleh hanya digunakan untuk menyebut anak-anak dengan kemampuan akademik, terutama di bidang sains, yang di atas rata-rata. Hal tersebut tentu saja akan membuat anak-anak yang lain merasa menjadi anak yang bodoh. Kita misalkan saja ada seorang anak yang mempunyai kemampuan di bidang olahraga yang sangat baik, namun kemampuan sainsnya rendah. Sebagian besar orang akan menganggap anak tersebut pintar berolahraga, namun 'bodoh'. Tentu saja hal tersebut sangat tidak adil. Mengapa? Karena apabila ada anak yang cerdas di bidang sains namun kemampuan olahraganya buruk, orang tidak akan menyebutnya sebagai bodoh.
  Pemberian label "anak cerdas" hanya untuk anak-anak dengan kemampuan sains baik, dikhawatirkan akan membuat anak-anak yang lain merasa rendah diri atau merasa iri. Hal tersebut tentu kurang baik jika dibiarkan terus menerus. Kita sebagai orang dewasa hendaknya mengubah pandangan kita terhadap pemberian label 'anak cerdas'. Apa salahnya jika kita menyebut anak-anak yang kemampuan olahraga, seni atau pemahaman terhadap ilmu agamanya baik sebagai anak cerdas? Toh semua anak terlahir dengan keistimewaan masing-masing. Para orang tua juga hendaknya tidak membebankan kepada anak-anaknya agar menjadi cerdas dengan meningkatkan kemampuan sainsnya. Biarlah anak-anak tumbuh dengan kemampuan yang memang menjadi keistimewaannya, bukan tumbuh dengan kemampuan yang dipaksakan oleh orangtuanya.

2 komentar:

Anak Kecil dan Ukulele itu...

Selepas Isya, gerimis kecil sisa hujan lebat sore itu masih mengguyur daerah tempat pemondokanku berada. Kala itu, Aku baru saja pulang d...