Rabu, 31 Oktober 2018

Apakah Tingkat Kepandaian Seseorang Harus Dinilai dengan Nilai Rapor?

Ini kisah nyata tentang Adikku. Sebut saja namanya Ibnu. Dia adalah Adik pertamaku yang amat Ku sayangi.
Adikku ini bukanlah anak yang pandai. Itu jika ukuran kepandaian seseorang dilihat dari angka-angka yang tertera di rapor sekolah. Hal tersebut membuatnya sering diejek dan dipanggil "bodoh". Tapi, menurutku Adikku bukanlah anak bodoh. Dia adalah anak yang pandai, dan akan dipanggil "pandai", andaikan orang-orang tak pernah tahu betapa rendahnya nilai-nilai yang ada di dalam rapor adikku.
Kawan, Aku memang tak pernah melihat adikku sedih atau menangis saat orang-orang memanggilnya "bodoh". Tapi sebagai seorang kakak, Aku tahu bahwa dia merasa sedih. Belum lagi saat orang-orang membandingkannya denganku dan adikku yang ke dua. Aku sadar bahwa meskipun sekarang Dia masih terlihat baik-baik saja, bukan tidak mungkin suatu hari nanti hatinya akan hancur.
Kawan, adikku itu tidaklah bodoh. Jujur saja, hampir semua nilai di rapornya memang hanya berada beberapa strip di atas nilai minimum. Namun, bukan berarti adikku itu bodoh kan? Dia memang lemah di bidang matematika, fisika, kimia dan mata pelajaran yang lain. Tapi, adikku itu mampu membetulkan beberapa kerusakan pada mesin sepeda motor dengan cukup baik. Adikku juga orang yang mudah bersosialisasi. Bukankah kedua hal tersebut layak membuatnya disebut anak pandai? Tidak banyak anak yang mampu membetulkan kerusakan pada mesin atau mampu bersosialisasi dengan baik.
Kawan, mulai sekarang jangan lagi manjadikan nilai-nilai di rapor sebagai parameter kepandaian seseorang. Lihatlah adikku itu. Nilai-nilai di rapornya memang buruk, tapi Ia "Pandai" membetulkan kerusakan mesin sepeda motor dan "Pandai" bersosialisasi. Jangan sampai kita menghancurkan hati seorang anak dengan menyebutnya "bodoh". Kita tak pernah tahu bahwa mungkin Dia akan menjadi seseorang yang hebat. Lalu karena ketidaktahuan kita, hatinya menjadi hancur dan hancur pula kesempatannya menjadi orang hebat. Jika hal itu terjadi, bukankah kita telah menjadi orang jahat tanpa kita menyadarinya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Anak Kecil dan Ukulele itu...

Selepas Isya, gerimis kecil sisa hujan lebat sore itu masih mengguyur daerah tempat pemondokanku berada. Kala itu, Aku baru saja pulang d...