Minggu, 18 November 2018

Terbuang

Pagi-pagi sekali selepas sholat subuh Nenek Sam (bukan nama sebenarnya) sudah menenteng karung di pundaknya, demi beberapa potong kardus dan botol air mineral bekas. Ya, mau bagaimana lagi, demi menutup hutang di warung-warung tetangga, nenek Sam rela menahan dinginnya subuh sambil berkeliling kampung tanpa alas kaki. Begitulah jika hidup di usia senja hanya seorang diri, ditinggal suami yang sudah dipanggil Sang Pencipta, pun ditinggal anak-anak tercinta yang tak tahu rimbanya.
Nenek Sam bagiku adalah salah satu wanita tangguh yang penuh semangat dalam menjalani hidup. Bayangkan saja, di usianya yang menginjak 70 tahun lebih, beliau masih memiliki semangat hidup layaknya pemuda berusia dua puluhan. Beliau rela memulung, berkeliling kampung dari selepas subuh, di saat wanita-wanita lain seusianya mungkin masih duduk santai di rumah anak-anaknya. Tapi Nenek Sam bukanlah wanita tua kebanyakan. Ia memang mempunyai beberapa anak, tapi tak satu pun yang tinggal bersamanya. 
Pagi itu, saat Aku bertemu dengan Nenek Sam di kampus, Nenek Sam bercerita banyak padaku. Dari tentang suaminya yang sudah meninggal, sampai anak-anaknya yang tak pernah pulang dan berkirim kabar. Ceritanya sungguh menyentuh hati. Dan yang Kukagumi dari beliau adalah bahwa beliau masih tegar menjalani hidup, bahkan saat bercerita tentang kepedihannya yang tak dipedulikan oleh anak-anaknya sendiri, beliau sama sekali tak meneteskan air mata. Beliau juga bercerita padaku, tentang bagaimana beliau tak mau curang atau mencuri dalam kegiatan memulungnya, meski beliau dlam keadaan sangat kekurangan. Itu adalah salah satu poin plus yang membuatku bertambah kagum pada Nenek Sam.
Meski merasa terbuang, tapi Nenek Sam tak sekali pun menyalahkan anak-anaknya. Beliau hanya beranggapan bahwa memang hidup seperti itulah yang harus dijalaninya. Ya, beliau memang wanita tangguh dan tegar.
Setelah mendengarkan cerita Nenek Sam di pagi itu, Aku jadi berpikir. Betapa banyak orangtua yang "terbuang" di dunia ini. Mereka sudah membesarkan dan menjaga anak-anaknya dari sebelum lahir hingga dewasa, tapi apa yang mereka dapatkan saat mereka tua? Hanyalah sebuah kenyataan bahwa mereka mesti terbuang dan harus menjakani hidup sendiri di saat mereka memerlukan kehadiran anak-anak mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Anak Kecil dan Ukulele itu...

Selepas Isya, gerimis kecil sisa hujan lebat sore itu masih mengguyur daerah tempat pemondokanku berada. Kala itu, Aku baru saja pulang d...